TUBAN-Monumen Kepet di selatan jembatan Kepet, Desa Tunah, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban, Jawa Timur adalah tetenger atau tanda pengingat keberanian tentara dan pejuang Tuban dalam melawan Belanda.
Salah satu peristiwa sejarah yang paling fenomenal tersebut diungkapkan Rakhim Hadi Wiyoto, Mustajab, Ngalimun, dan Bongkil dalam forum Penggalian Fakta Sejarah Letda Soetjipto dan Perang Kepet yang digelar OSIS SMAN 2 Tuban pada 5 Juni 2010.
Rakhim salah satu dari dua juru bicara dalam testimoni tersebut mengatakan, pertempuran Kepet adalah salah satu peristiwa sejarah yang paling heroik. Karena itu, tidak salah kalau pemerintah daerah memberikan tetenger atau tanda pengingat dengan mendirikan monumen Kepet.
Dia mengungkapkan, fenomenalnya pertempuran tersebut karena sembilan pejuang yang dipimpin Serma Mustajab dan hanya bersenjata caluk (sejenis gobang bertangkai) menyerbu pos Belanda di Kepet. Pos tersebut tak jauh dari lokasi monumen sekarang.
‘’Dalam perlawanan tersebut, pejuang berhasil mengalahkan lima personel pasukan Belanda yang bersenjata lengkap,’’ tuturnya.
Dari perlawanan tersebut, pejuang mampu merebut 12 senjata. Meliputi, 4 senjata jenis FN, 1 pelembar granat, 1 peti granat nanas (berisi sekitar setengah lusun granat), 4 pistol, dan sebuah radio telepon.
Pejuang yang juga ketua Dewan Harian Cabang (DHC) 45 Tuban, ketika itu, juga membeberkan, tujuh dari sembilan pejuang yang menyerbu pos Belanda tersebut adalah anggota TNI. Dua pejuang lainnya adalah warga sipil.
Dalam perlawanan tersebut, pejuang mampu membantai prajurit Belanda dan seorang wanita pekerja di pos yang menghalangi prajurit.
Rakhim mengatakan, setelah berhasil mengalahkan pasukan Belanda, senjata hasil sitaan termasuk topi baja dipakai pejuang saat perjalanan kembali ke markas.
‘’Perjalanan pulang para pejuang inilah yang membuat TNI lari ketakuan karena menganggap kita pasukan Belanda,’’ tandas dia terkekeh.
Tiga pejuang lain yang mendengarkan juga manggut-manggut. Sekali waktu, mereka tersenyum.
Mustajab, misalnya, matanya sempat berkaca-kaca ketika temannya mengungkapkan kenangan peperangan tersebut.
Kekalahan tersebut ditebus Belanda. Esoknya, mereka menurunkan ratusan pasukan.
Kawasan Penambangan hingga Mondokan dibombardir.
Bukan hanya itu. Kades Kepet, Kasimo dan carik setempat, Badrun yang dianggap menjadi dalang penyerbuan pos Belanda, ditangkap. Begitu juga Kiai Adnan diringkus.
Dalam penangkapan tersebut, Belanda menembak mati Kasimo dan Badrun.
Sementara Kiai Adnan berhasil melarikan diri.
Rakhim menyampaikan, terbunuhnya dua tokoh tersebut dan dibombardirnya sebagian kawasan selatan Tuban tidak menjadikan pejuang takut.
‘’Ela-elo, londo kari loro, wong Indonesia kari separo (Belanda tinggal dua dan orang Indonesia masih separo),’’ kata dia mengutip salah satu kalimat yang dilontarkan pejuang untuk menggelorakan semangat.
Pejuang veteran kelahiran 27 Agustus 1927 itu kemudian membeberkan strategi pejuang untuk menghadapi pasukan Belanda yang bersenjata lengkap.
Sesuai dengan instruksi Panglima Besar Jenderal Sudirman, kata Rakhim,
pejuang Indonesia selalu menggunakan strategi perang gerilya.
Strategi ini memberlakukan teknis tembak-lari. Artinya, setelah menembak, pejuang lari menyelamatkan diri.
Selain strategi tersebut, sejumlah pejuang Tuban juga memiliki modal nekad dan berani.
Dia kemudian mencontohkan sebuah insiden pejuang yang menggantung di atas jembatan dan kemudian menjatuhkan granat persis dalam lubang tank yang melintas. Setelah granat dijatuhkan, dia melompat.
‘’Karena terjatuhnya juga tinggi, pejuang ini juga terluka,’’ tuturnya.
Di bagian lain, para saksi sejarah ini juga membeber semangat heroik Letda Soetjipto yang monumennya dibangun di bundaran depan gedung DPRD Tuban.
Pejuang yang memimpin Kompi Teko ini tewas setelah ditembak dari belakang oleh pasukan Belanda dalam pertempuran di Tapen, Bangilan.
Di tengah menyampaikan testimoni, para pejuang tersebut juga mengkritik patung Letda Soetjipto yang dianggap terlalu gemuk.
‘’Dulu pejuang kurang makan, jadi kurus-kurus. Kalau patungnya (Letda Soetjipto) terlalu gemuk,’’ tandas Rakhim.
Sementara monumen Kepet posisinya juga terlalu ke utara. Katanya, pemkab terkendala membangun monumen persis pada lokasi pertempuran karena terbentur pembebasan lahan. (*)
Editor : Amin Fauzie