Tulisan ini adalah sebuah renungan tentang keabadian bacaan di tengah arus teknologi. Kita hidup di zaman ketika jari-jari lebih akrab dengan layar daripada lembar kertas. Gawai menjadi sahabat yang tak pernah lepas dari genggaman. Satu sentuhan membuka dunia; satu klik menyingkap sejuta informasi.
Namun, di balik segala kemudahan itu, ada sesuatu yang perlahan memudar — bau khas kertas yang baru dibuka, suara lembut halaman yang dibalik, dan getar batin ketika menemukan kalimat yang seolah berbicara langsung pada jiwa.
Buku, dalam bentuk fisiknya, kini seakan menjadi artefak peradaban lama. Di rak-rak sekolah, ia berdiri diam menatap murid-murid yang lebih sibuk menunduk pada gawai ketimbang membuka isinya. Ironisnya, di era informasi tanpa batas, justru terjadi kelangkaan kedalaman. Murid-murid tahu banyak hal, tetapi sering tanpa akar, tanpa konteks, tanpa makna.
Padahal buku bukan sekadar tumpukan kertas berisi huruf; ia adalah perjalanan intelektual dan spiritual penulis yang ingin berbagi keabadian pikiran. Buku melatih kesabaran, menumbuhkan imajinasi, dan membentuk kedewasaan berpikir — sesuatu yang tak bisa diberikan oleh layar yang hanya menampilkan potongan-potongan singkat informasi.
Membaca: Menyalakan Cahaya dalam Diri
Membaca adalah ibadah intelektual. Ia menuntun manusia dari kegelapan ketidaktahuan menuju terang pengetahuan. Dalam buku, seorang siswa bisa menemukan cermin untuk melihat dirinya, jendela untuk menatap dunia, dan pintu untuk menembus batas-batas imajinasi.
Sayangnya, banyak siswa SMK hari ini yang merasa membaca itu membosankan, ketinggalan zaman, dan tidak sepraktis menonton video tutorial. Mereka lupa bahwa pengetahuan sejati tidak lahir dari kecepatan, tetapi dari ketekunan dan perenungan. Buku tidak hanya memberi tahu apa yang harus dilakukan, tetapi juga mengajarkan mengapa dan bagaimana manusia berpikir.
Setiap kali membuka buku, sejatinya kita sedang berdialog dengan masa lalu dan masa depan sekaligus. Kita diajak berbicara oleh para pemikir, seniman, ilmuwan, dan tokoh yang menuliskan hidup mereka dengan tinta kesungguhan. Maka membaca bukan sekadar aktivitas kognitif, melainkan ziarah batin.
Siswa SMK dan Tantangan Literasi Zaman Digital
Siswa SMK hidup di dunia praktis, dunia keterampilan, dunia kerja. Mereka terbiasa dengan mesin, alat, dan perangkat digital. Namun tanpa kemampuan literasi yang kuat, keterampilan itu bisa menjadi tubuh tanpa jiwa.
Membaca dan menulis adalah cara untuk memberi makna pada keterampilan; agar kerja bukan hanya rutinitas, tetapi juga ekspresi dari kecerdasan dan nurani. Sekolah kejuruan sejatinya bukan hanya tempat mencetak tenaga kerja, tetapi juga ruang tumbuhnya pembelajar sepanjang hayat.
Literasi adalah fondasi untuk itu. Seorang teknisi yang gemar membaca akan lebih inovatif; seorang wirausahawan muda yang suka menulis akan lebih visioner. Karena itu, budaya membaca di SMK harus dibangkitkan kembali.
Perpustakaan tidak boleh menjadi ruang sepi berdebu. Jadikan ia taman gagasan, tempat murid bertemu dengan pikiran besar. Buatlah kegiatan seperti “Satu Siswa Satu Buku Inspirasi”, “Kelas Membaca Pagi”, atau “Ruang Tulis Kreatif SMK” agar buku kembali menjadi bagian dari napas pendidikan vokasi.
Dari Membaca ke Menulis: Saatnya Siswa Menjadi Pengarang
Buku bukan hanya untuk dibaca, tetapi juga untuk dilahirkan kembali lewat tulisan-tulisan baru. Setiap siswa menyimpan kisah, ide, dan pengalaman yang layak diabadikan. Dunia literasi tidak akan pernah berkembang tanpa keberanian untuk menulis.
Menulis adalah cara untuk meninggalkan jejak abadi. Siswa SMK bisa menulis tentang dunia bengkel, laboratorium, kewirausahaan, hingga kisah inspiratif kehidupan mereka di sekolah. Dari situ lahir semangat baru — semangat untuk mengabadikan pengalaman melalui kata, bukan sekadar mengunggahnya di media sosial yang mudah hilang ditelan waktu.
Penerbitan buku karya siswa SMK bukan hal mustahil. Sekolah dapat membuat “Program Siswa Menulis Buku” di mana setiap tahun terbit antologi karya terbaik. Guru dapat menjadi mentor, dan buku menjadi bukti bahwa pendidikan vokasi tidak hanya mengasah tangan, tetapi juga mengasah pikiran dan hati.
Menjaga Api Bacaan agar Tak Padam
Buku adalah api peradaban. Ia menyala di setiap kepala yang mau berpikir, di setiap hati yang mau belajar. Jika api itu padam, maka padamlah cahaya peradaban kita.
Di tengah derasnya arus teknologi, buku justru menjadi jangkar agar manusia tidak terhanyut. Membaca buku melatih konsentrasi di tengah distraksi, membangun refleksi di tengah banjir informasi, dan menumbuhkan empati di tengah budaya instan.
Mari kita tanamkan kembali semangat membaca di setiap ruang SMK. Jadikan buku sebagai simbol kehormatan intelektual. Ajarkan murid-murid bahwa membaca bukan kewajiban, melainkan kebutuhan jiwa; dan menulis bukan sekadar tugas, melainkan panggilan sejarah.
Sebab bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang canggih teknologinya, tetapi juga bangsa yang mampu menulis dan membaca dengan hati yang menyala.
Penutup: Sebuah Seruan untuk Bangkit
Buku masih hidup. Ia mungkin sunyi, tetapi tidak mati. Ia menunggu disentuh, dibuka, dibaca, dan dilanjutkan kisahnya oleh generasi muda.
Maka kepada para siswa SMK di seluruh penjuru negeri:
Jangan biarkan layar menggantikan lembar.
Jangan biarkan notifikasi menggantikan refleksi.
Bacalah buku, tulislah pengalamanmu, dan terbitkan gagasanmu. Karena masa depan bangsa tidak hanya dibangun dengan tangan yang terampil, tetapi juga dengan pikiran yang tercerahkan dan pena yang berani menuliskan peradaban. (*)
*) SUCIPTO, S.Pd, M.M: Kepala SMKN 1 Tuban, Plt Kepala SMKN 2 Tuban, dan Ketua MKKS SMKN Tuban.
-------------------------------------
Tulisan ini telah terbit di rubrik Opini koran Jawa Pos Radar Tuban edisi Minggu, 12 Oktober 2025 dengan judul yang sama: Buku: Api yang Tak Boleh Padam di Era Gawai.