Dalam sejarah pendidikan Indonesia, kita sering kali terjebak dalam narasi tunggal yang menempatkan tokoh-tokoh tertentu sebagai pusat kemajuan. Padahal, sejarah sejati bersifat majemuk. Ia dibentuk oleh banyak tangan, banyak suara, dan banyak perjuangan.
Salah satu suara yang nyaris tenggelam dalam arus besar sejarah pendidikan nasional adalah suara dari Tiong Hoa Hwee Koan (THHK).
THHK bukan hanya organisasi sosial, melainkan gerakan intelektual yang lahir dari keresahan dan harapan. Di awal abad ke-20, komunitas Tionghoa di Hindia Belanda menghadapi diskriminasi sistemik, baik dalam hukum maupun pendidikan. Anak-anak Tionghoa tidak diterima di sekolah Belanda, dan akses terhadap pendidikan berkualitas sangat terbatas.
*) BAMBANG BUDIONO: Ketua Komunitas Pemuda Bergerak Plumpang (peraih penghargaan penggerak literasi Jawa Pos Radar Tuban)
------------------------------
Tulisan ini telah tayang di rubrik Opini koran Jawa Pos Radar Bonang edisi Minggu, 12 Oktober 2025 dengan judul yang sama: THHK: Bab yang Hilang dalam Sejarah Pendidikan Modern Indonesia.