Namanya Sumadi, namun masyarakat lebih mengenalnya dengan panggilan Mad Dawuk. Dia adalah satu-satunya lelaki di desa ini yang masih mau menjalani laku tradisi sebagai penari jaran kepang untuk sandur Turonggo Seto, sebuah paguyuban seni tradisional yang masih dilestarikan di Desa Randu Pokak.
Mad Dawuk menjalani kesehariannya sebagai petani. Hanya pada event-event tertentu, jika ada pagelaran sandur, dialah yang ditunjuk sebagai media masuknya roh jaran dawuk dalam pagelaran sandur.
Mad Dawuk hidup sebatang kara. Bapak dan ibunya entah kabur kanginan ke mana. Sejak kecil Mad Dawuk diasuh oleh neneknya yang renta. Hingga akhirnya sang nenek meninggal dunia saat itu usia Mas Dawuk menginjak remaja. Karena hidup sebatang kara dan tidak memiliki sanak saudara, Mad Dawuk kemudian diasuh oleh Mbah Ronggo, seorang Germo Sandur di dusun tersebut.
“Mad kamu ikut saya saja, ya? Sandurku membutuhkan seorang penari jaran kepang,” ujar Mbah Ronggo seusai hari berkabung karena neneknya meninggalkan dunia.
“Saya manut pada kehendak Mbah Ronggo saja,” jawab Sumadi sambil menundukkan kepala.
Dia memang tak punya pilihan harus bagaimana sepeninggal neneknya, karena dia sadar hanya seorang diri di dunia ini.
Pertemuannya dengan Mbah Ronggo menjadikan Mas Dawuk sering mengikuti pagelaran sandur yang digelar di hajatan warga maupun saat diundang dalam event-event tertentu. Mad Dawuk kebagian peran naik jaran kepang, sebuah miniatur kuda yang terbuat dari anyaman bambu dibentuk mirip seekor kuda, namun bentuknya pipih.
Mad Dawuk sangat menikmati perannya sebagai penari jaranan. Hal itulah yang dirasa bisa digunakan untuk membalas budi baik kepada Mbah Ronggo yang mau menampungnya. Ia bahkan rela menanggung risiko hingga di usianya yang menginjak kepala empat belum ada gadis yang mau dilamarnya.
Kebanyakan orang tua dari para gadis tidak ingin anaknya bersanding dengan pemuda yang sering dimasuki roh jaran dawuk. Karena selain di arena pertunjukan sandur, kadang-kadang Mad Dawuk berulah kesurupan roh jaran dawuk dan ia pun mengamuk sejadi-jadinya—makan rumput, padi, bahkan gelas kaca.
Kadang Mas Dawuk sendiri bingung, sebenarnya para gadis tak mau mendekat dan menjauhinya itu gara-gara ia sebagai penari jaran kepang atau karena ia tidak punya uang, dan bahkan tidak punya pekerjaan yang jelas. Karena berumah tangga tidak hanya membutuhkan cinta, namun harta benda pun wajib ada.
Memang dari setiap pertunjukan, Mad Dawuk mendapatkan upah uang lelah, namun nominalnya tak seberapa karena hasil dari tanggapan dibagi oleh Mbah Ronggo dengan pemain sandur lainnya. Bahkan kadang Mbah Ronggo sendiri tombok untuk menjamu rombongan panjak hore yang kadang jumlahnya membludak.
Hal ini yang kadang membuat Mad Dawuk jenuh juga ketika harus menjalani perannya sebagai jaran. Bagaimanapun ia adalah lelaki normal yang juga ingin membangun rumah tangga layaknya kebanyakan manusia. Tapi mau apalagi, hanya itu yang dibisainya selain bertani dari sepetak lahan yang ada di pekarangan rumah warisan sang nenek yang hasilnya juga tidak jelas.
Kadang Mad Dawuk gamang dengan takdirnya sendiri. Namun apa daya, manusia hanya menjalankan garis kuasa Tuhan. Walau ia sadar Tuhan memberikan hak ikhtiar bagi hamba-Nya yang mau mengubah nasib yang sedang dijalaninya. Tuhan tentu sangat bergembira ketika hamba-hamba-Nya mau mengubah kondisi yang buruk menjadi yang lebih baik lagi.
Suatu sore, saat Mad Dawuk duduk santai di serambi depan rumah Mbah Ronggo sambil sesekali mengebulkan asap rokok klobotnya, ia melamunkan masa depannya yang tidak jelas. Tiba-tiba, Mbah Ronggo datang mengagetkannya.
“Mad, kamu nglamun apa? Sore-sore gini kok sudah bengong,” sapa Mbah Ronggo yang sudah tampak tua.
“Ah, Mbahe ini mengagetkan orang yang sedang asyik nglamun saja. Iya, Mbah, ini lho saya sedang melamun didatangi Dewi Widodari,” jawab Mad Dawuk sambil bergurau.
“Hehe... nglamunmu diijabahi Gusti engger, sapa ngerti ana wali liwat,” jawab Mbah Ronggo sambil terkekeh.
“Aamin, Mbah, Aamin...” lanjut Mad Dawuk sekenanya.
Mbah Ronggo ini sudah sepuh, rambutnya sebagian besar telah memutih. Ia biasa menggunakan udeng di kepalanya, udeng model mblarak sempal khas pesisiran Tuban. Udeng ini menjadikan penampilan Mbah Ronggo tampak serasi dengan gelarnya sebagai Germo Sandur.
Udeng mblarak sempal ini, dilihat dari bentuknya, secara filosofis memiliki makna sempalan ke bawah dan bukakan. Sempalan ke bawah memiliki makna seseorang itu harus rendah hati, jangan sombong kepada siapa pun. Sedangkan model udeng Tuban yang terbuka di bagian atas kepala atau bukakan memiliki arti bahwa seseorang harus terbuka hati dan pikirannya, selalu menerima masukan dari orang lain dengan hati terbuka.
Oleh karena itu, Mbah Ronggo menyarankan orang-orang yang terlibat di sandurnya agar memakai udeng atau ikat kepala.
Mad Dawuk sendiri selama ini tidak mau memakainya. Ia merasa ikat kepala hanya cocok untuk orang tua sebagaimana Mbah Ronggo. Ia lebih suka bertelanjang kepala daripada harus tampil seperti mbah-mbah. Tapi entah bagaimana, Mbah Ronggo kemudian membuka udengnya dan memberikannya kepada Mas Dawuk sambil berkata:
“Angger anakku, satu minggu yang akan datang, tepat di malam bulan purnama sandur kita akan main di alun-alun Kota Tuban. Kita diundang Bapak Bupati untuk pentas. Ini kamu latihan pakai udeng ya? Besok pas tampil kamu harus memakainya,” kata Mbah Ronggo dengan suara lembut sambil pergi meninggalkan Mad Dawuk yang masih terbengong-bengong.
“Edan! Masak saya harus berdandan kayak kakek-kakek,” gerutu Mad Dawuk sambil membanting udeng ke tanah.
Bagaimanapun juga, Mbah Ronggo adalah orang yang banyak memiliki jasa kepadanya. Mad Dawuk kembali memungut udeng yang telah dicampakkannya. Dulu saat awal bergabung dengan sandur Turonggo Seto, ia pernah diajari Mbah Ronggo untuk memakai udeng. Bahkan Mad Dawuk masih ingat kata-kata kakek tua itu:
“Angger anakku, memakai udeng itu bukan sekadar berhias, tapi ber-udeng memiliki makna kamu harus mudeng dengan kehidupan ini, agar hidupmu tidak kesasar.”
Begitu petuah yang masih diingat oleh Mad Dawuk, walau ia sampai hari ini belum mau memakainya. Tapi semenjak kejadian sore itu, Mad Dawuk mulai belajar ber-udeng. Bukan apa-apa, itu demi besok malam purnama ia akan ikut tampil di alun-alun Kota Tuban.
***
Malam purnama yang ditunggu tiba. Rombongan sandur Turonggo Seto pimpinan Mbah Ronggo akan tampil di tengah alun-alun kota. Masyarakat tampaknya sangat antusias dengan pertunjukan ini. Mereka biasanya menunggu dua atraksi: jaran kesurupan dan kalongkingan.
Setelah persiapan dengan segala uba rampenya siap, sandur pun dimulai. Mbah Ronggo tampak berwibawa mengatur dan memimpin jalannya pertunjukan teater rakyat yang masih berbau magis ini.
“Kembang wijen mbok widodari masang sajen.”
“Lelo lale lale lalo laloo Lullah, lullah Lola lelo leo Ee... ya o ya e... ee ya o ya ee Lullah... Rasalullah…”
Suara salah satu sesepuh sandur mulai bernyanyi membuka jalannya pertunjukan, diiringi suara kendang dan gemuruh panjak hore yang berkumpul di titik tengah kenthengan di bawah kembang Gagar Mayang. Lampu-lampu obor telah dinyalakan, asap dupa mengepul memenuhi udara, janur kuning dipasang di tali yang melingkari kenthengan tampak melambai-lambai ditiup angin malam. Suasananya sangat meriah.
Satu per satu adegan sandur mulai berjalan. Pethak, Balong, Tangsil, dan Cawik telah menjalani perannya. Agar penonton tidak bosan, di sela-sela adegan itulah sang penari jaran kepang tampil.
Mad Dawuk yang malam itu memakai ikat kepala tampak gagah berwibawa seperti Batara Kamajaya. Dari luar arena, ada sepasang mata jelita yang memandangi sosok pemuda desa itu. Awalnya, Mad Dawuk tak menyadarinya, karena ia terbiasa menjadi objek lensa kamera maupun lensa mata para penonton. Tak dinyana, panah asmara sang Dewi Kamaratih telah menembus jantung hati Mad Dawuk yang telah dirasuki Sang Kamajaya.
Walau berjauhan jarak dan dipisahkan oleh tali kenthengan sandur, sepasang mata dari mereka berdua saling bertemu dan berbicara, hening dan intim sekali. Tak ada yang paham kecuali rasa.
***
“Jambu jambu klutuk, kudangane jaran dawuk.”
“Hore-hore hore-hore, rak sorak sorak hore. Hore-hore hore-hore, rak sorak sorak hore.”
Mad Dawuk mulai kesurupan. Ia menunggangi jaran kepang, menari dengan tangkas mengelilingi arena. Oleh sang pawang kuda, Mad Dawuk diberi makan dedak, padi, dan juga beling kaca. Semua dilibas habis.
Mad Dawuk memang sedang kesurupan ruh jaran dawuk dari grumbul desa. Mad Dawuk lupa dengan sepasang mata yang telah menembus jantungnya. Raganya telah dikuasai ruh jaran dawuk, ia menari dengan trengginas penuh pesona.
Di luar arena, seorang gadis cantik menenteng DSLR-nya, sibuk mengabadikan aksi jaran dawuk dalam memori foto, dan juga memori hatinya.
Purnama tepat di atas kepala. Pertunjukan sandur semakin meriah saat pemain kalongking memanjat tali dengan terpejam dan menghabiskan kupat lepet yang dipasang di atas bambu. Sorak-sorai penonton menambah maraknya pertunjukan.
Setelah semua adegan dimainkan, sang Germo pun menutup jalannya sandur dengan tembang kembang walur.
“Kembang walur mbok widodari bali menduwur.”
“Hore-hore hore-hore, rak sorak sorak hore. Hore-hore hore-hore, rak sorak sorak hore.”
Suasana menjadi sepi. Penonton sama-sama meninggalkan arena, pulang ke rumah masing-masing. Peralatan sandur diberesi dan dinaikkan ke mobil yang dibawa dari rumah Mbah Ronggo. Tidak ada yang ketinggalan, kecuali sepasang hati yang menunggu dipertemukan oleh sang waktu. (*)
*) JOYO JUWOTO: Cerpenis dan pengajar di Assalam,Bangilan, Tuban. Di antara karya buku yang telah diterbitkan: Dalang Kentrung Terakhir (2017), Secercah Cahaya Hikmah (2017), Cerita Naila dan Nafa (2018), Cerita Dari Desa (2018), salah satu penulis buku Tiga Menguak Pram (2018), antologi puisi Aku Api Kamu Air (2020), Jalan Cinta Seorang Hamba (2021), Memoar Santri Mbeling (2021), Risalah dari Hati ke Hati (2022), kumpulan puisi Menempuh Jalan Sunyi (2022), dan menulis puluhan buku ontologi.
-------------------------------------
Cerpen ini telah tayang di rubrik Aksara Sastra koran Jawa Pos Radar Tuban edisi Sabtu, 11 Oktober 2025 dengan judul yang sama: Jaran Dawuk.