Kehilangan Aini membuat desa kami tenggelam dalam sepi yang menyesakkan. Sejak kepergiannya, tak ada lagi keceriaan yang mengalir di wajah para pemuda. Seolah-olah semangat yang dulu tumbuh subur di desa ini kini telah direnggut oleh Aini, lalu dibawanya pergi jauh ke kota.
Suasana ini bisa jadi adalah malapetaka bagi para pemuda. Terutama bagi para lelaki yang sudah bertahun-tahun membiasakan diri dengan pesona yang Aini pancarkan, sampai-sampai desa kami kini dirundung kesunyian yang tak tertahankan.
Aini, gadis desa yang kecantikannya tak bisa dibandingkan dengan siapa pun. Rambutnya yang tebal dan halus selalu tertata rapi, seolah jari-jemari embun pagi dengan lembut menyisirnya. Matanya bening, jernih, laksana telaga yang tenang di musim semi. Hidungnya bagaikan artis Bollywood, menonjol tinggi dan tajam, hingga jika kau terjatuh di sana mungkin tak akan pernah bisa bangkit lagi. Dan senyumannya, ah, senyumannya… ketika lesung pipinya menampakkan diri, kau akan merasa seolah-olah sedang hanyut dalam samudra ketenangan, meski dadamu berdebar tak menentu.
*) DAIMUL UMAM, pegiat literasi, dan pendiri Gubuk Baca Cahaya Negeri.
------------------------------------
Cerpen ini telah tayang di rubrik Aksara Sastra koran Jawa Pos Radar Tuban edisi Sabtu, 4 Oktober 2025 dengan judul yang sama: Aini Gadis Pembawa Kelana.
Editor : Amin Fauzie