Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Anak Muda Bukan Pencetak CV

Riyan Prasetyo • Senin, 29 September 2025 | 02:05 WIB
Ilustrasi Opini berjudul Anak Muda Bukan Pencetak CV.
Ilustrasi Opini berjudul Anak Muda Bukan Pencetak CV.

Arus digitalisasi dan tuntutan global anak muda saat ini menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks dari sekadar menyelesaikan pendidikan atau mencari pekerjaan.

Mereka hidup dalam dunia yang memuja produktivitas, memamerkan pencapaian, dan mengukur keberhasilan dari seberapa banyak sertifikat, pengalaman, dan prestasi yang bisa dituliskan dalam curriculum vitae (CV).

Photo
Photo

Sayangnya, dalam situasi seperti ini banyak pihak—baik institusi pendidikan, masyarakat, maupun dunia kerja—melupakan satu hal penting: anak muda adalah manusia yang sedang bertumbuh, bukan mesin pencetak CV.

Budaya sibuk agar dianggap hebat tumbuh subur di lingkungan pendidikan maupun media sosial. Kita menyaksikan betapa anak-anak muda berlomba-lomba mengikuti pelatihan, organisasi, lomba, webinar, magang, hingga kegiatan relawan.

Tidak jarang, semua itu dilakukan bukan karena benar-benar ingin belajar, tetapi karena merasa terpaksa agar tidak tertinggal dari teman sebaya.

Media sosial memperkuat narasi semu tentang kehidupan sukses yang kerap membuat banyak anak muda merasa kurang, tidak cukup, atau bahkan gagal hanya karena tidak memiliki pencapaian seperti yang mereka lihat di linimasa.

Ketika prestasi yang kasat mata menjadi tolok ukur utama nilai seseorang, kita tanpa sadar menciptakan tekanan sosial yang luar biasa. Sekolah dan kampus kini lebih fokus pada output unggulan: siswa yang memenangkan lomba, mahasiswa yang meraih IPK tinggi, dan alumni yang langsung bekerja di perusahaan ternama.

Padahal, pendidikan kita secara struktural masih berkutat pada membentuk anak muda sukses versi sistem, bukan anak muda yang memahami dirinya, menghargai proses, dan mampu menghadapi kegagalan.

Kurikulum jarang memberi ruang untuk refleksi diri, diskusi makna hidup, atau mengenali emosi dan potensi personal. Akibatnya, lahirlah lulusan dengan CV panjang tapi tidak tahu arah; penuh pencapaian tapi kosong secara batin; terlihat produktif tetapi sesungguhnya sangat lelah.

Kondisi ini diperparah oleh dunia kerja yang semakin kompetitif. Lowongan pekerjaan bukan lagi hanya menuntut ijazah, tetapi juga pengalaman kerja, organisasi, sertifikat, kemampuan bahasa asing, keterampilan teknis, dan berbagai nilai jual lainnya. Anak muda dituntut menjadi siap pakai bahkan sebelum benar-benar siap hidup.

Tak heran, banyak dari mereka mengejar pengalaman bukan untuk berkembang, tetapi untuk bertahan agar tidak tersingkir dari seleksi. Ironisnya, dalam sistem ini kejujuran emosional dan proses pembelajaran pribadi justru sering kali tidak mendapat tempat.

Kita seolah lupa bahwa tidak semua hal bisa diukur dengan dokumen atau piagam. Anak muda yang tiap hari harus membantu usaha keluarganya mungkin tidak sempat ikut organisasi. Mereka yang berjuang melawan gangguan mental mungkin tidak mampu tampil aktif seperti yang lain.

Mahasiswa yang bekerja paruh waktu demi biaya kuliah mungkin tidak punya waktu menghadiri webinar atau pelatihan. Tapi apakah mereka tidak berharga? Justru dari mereka kita bisa belajar tentang tanggung jawab, ketekunan, dan keberanian.

Sistem dan budaya saat ini sering kali tidak memberi ruang bagi kisah-kisah seperti itu. Kita lebih menghargai medali emas lomba pidato daripada perjuangan seseorang mengatasi trauma sosial. Kita lebih cepat mengagumi seseorang yang aktif di lima organisasi daripada memberi apresiasi pada mereka yang dengan jujur menjaga kesehatannya. Kita memuja daftar pengalaman, tetapi lupa bahwa kualitas hidup bukan sekadar akumulasi aktivitas.

Kondisi ini melahirkan generasi yang tampak cemerlang di luar, tetapi rapuh di dalam. Banyak anak muda mengalami burnout, perasaan rendah diri, hingga krisis eksistensial karena merasa hidupnya tidak bermakna meski sibuk setiap hari.

Di balik CV penuh prestasi, tersimpan tangis diam-diam, rasa takut gagal, dan kegelisahan apakah semua pencapaian itu benar-benar membuat mereka bahagia.

Sudah saatnya kita berhenti memperlakukan anak muda sebagai proyek prestasi. Mereka bukan bahan baku yang harus segera dipoles untuk menghasilkan output maksimal. Mereka adalah manusia muda yang butuh waktu untuk mengenal dirinya, butuh ruang untuk berproses, dan butuh kepercayaan untuk menentukan jalannya sendiri.

Kita harus menggeser paradigma: dari sekadar anak muda hebat menjadi anak muda yang utuh. Menjadi aktif dan produktif memang baik, tetapi yang lebih penting adalah menjadi manusia yang sadar dan sehat secara mental, sosial, dan spiritual.

Kehidupan bukan sekadar tentang siapa yang lebih sibuk atau banyak ikut pelatihan, melainkan tentang bagaimana kita memahami diri, menemukan makna, dan menjalani peran dengan penuh kesadaran serta tanggung jawab.

Perlu ada perubahan cara pandang dalam sistem pendidikan, dunia kerja, maupun masyarakat luas.

Pertama, mari kita mulai menghargai keberagaman jalur hidup anak muda. Tidak semua orang cocok mengikuti pola yang sama—ada yang tumbuh lewat organisasi, ada pula yang berkembang dalam sunyi.

Kedua, mari kita bangun budaya yang menghargai proses, bukan hanya hasil. Kesalahan dan kegagalan adalah bagian dari pertumbuhan.

Ketiga, mari kita hentikan glorifikasi prestasi semu, dan mulai memberi panggung pada kejujuran, empati, serta ketulusan.

Kurikulum harus memberi ruang bagi pembelajaran yang memanusiakan. Guru dan dosen perlu mendapat pelatihan tentang pentingnya penguatan karakter, bukan hanya aspek kognitif.

Sekolah dan kampus harus menjadi tempat yang nyaman, bukan ladang kompetisi tanpa henti. Bahkan dalam dunia kerja, perekrut dan manajer SDM perlu memperhitungkan sisi kemanusiaan pelamar, bukan hanya deretan keterampilan di dokumen.

Anak muda bukan mesin pencetak CV. Mereka adalah generasi yang sedang belajar menjadi manusia seutuhnya. Anak muda ingin tumbuh, bukan hanya dituntut. Mereka ingin hidup yang bermakna, bukan sekadar terlihat baik di atas kertas. Mereka ingin dikenali bukan dari prestasi semata, melainkan dari keberanian untuk menjadi diri sendiri di tengah tekanan yang terus menghimpit. (*)

*) Riyan Prasetyo, S.Pd., Mahasiswa S2 Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Sebelas Maret (UNS).

--------------------------------------

Tulisan ini telah dimuat di rubrik Opini Jawa Pos Radar Tuban edisi Minggu, 28 September 2025, dengan judul yang sama: Anak Muda Bukan Pencetak CV.

Editor : Amin Fauzie
#opini #Anak Muda Bukan Pencetak CV #Riyan Prasetyo