“Hidup ini pada dasarnya adalah tentang masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang. Seandainya kau bisa kembali, apa yang akan kau katakan pada masa lalu? Yang sekarang mungkin sedang kau sesali, atau bahkan sudah pasrah dengan garis nasib yang diberikan Tuhan kepadamu?” gumam hatinya sambil menatap hamparan ombak Pantura.
Rama menggenggam sebuah kerang kecil yang ia temukan di bibir pantai. Kerang itu berpendar kebiruan, seolah menyimpan cahaya bulan di dalamnya. Ia memungutnya tepat saat matahari mulai tenggelam, ketika batas antara langit dan laut menjadi kabur dalam semburat jingga yang memabukkan.
“Waktu itu aneh,” bisiknya pada diri sendiri. “Seperti spiral yang tak berujung.”
Tiba-tiba, kerang di tangannya bergetar. Cahaya birunya semakin menyala, memancar ke segala arah seperti aurora yang terjebak dalam cangkang mungil. Rama mencoba melepaskannya, tetapi kerang itu seolah melekat di telapak tangannya. Dunia di sekitarnya mulai berputar, warna-warna bercampur seperti cat air yang diaduk dalam gelas kosong.
*) DARJU PRASETYA lahir di Tuban Jawa Timur. Karya-karyanya baik esai, cerpen, puisi, artikel telah banyak dimuat di berbagai media baik cetak maupun online. Email: prasetya58098@gmail.com.
------------------------------------------------------------
Cerpen ini telah dimuat di rubrik Aksara Sastra koran Jawa Pos Radar Tuban edisi Kamis, 25 September 2025 dengan judul yang sama, Garis Waktu yang Terlipat.