“Anak-anak, sebelum berangkat, ayo kita makan dulu,” panggil Embu satu per satu.
Pagi itu Raka sarapan terburu-buru. Seperti biasa, Embu sudah menyiapkan nasi goreng sederhana dan telur mata sapi yang sejak kecil menjadi favoritnya.
Anak bungsunya itu makan sambil sesekali melirik jam tangan, seakan waktu selalu memburunya.
Embu memandanginya lama. Ada rasa bangga sekaligus cemas. Beberapa bulan terakhir, Raka semakin sering pulang larut, bahkan kadang hanya sempat berganti baju lalu berangkat lagi. Ia bekerja di kantor pemerintah, tempat yang sering kali tidak tenang bila suasana politik memanas.
*) YAVID RAHMAT PERWITA adalah ASN Diskominfo Tuban dan
menyukai stand up comedy.
-----------------------------------------
Cerpen "Hari Terakhir Embu" ini telah tayang di rubrik Karya Sastra Jawa Pos Radar Tuban edisi Minggu, 21 September 2025.