Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Menjadi Orang Tua di Tengah Rimba Konten Sampah Media Sosial

Ahmad Atho’illah • Minggu, 21 September 2025 | 01:07 WIB

Konten sampah terus berseliweran di Facebook, Instagram, TikTok, Twitter, dan YouTube semakin tidak terkontrol berdampak buruk pada terhadap tumbuh kembang anak. Foto adalah ilustrasi.
Konten sampah terus berseliweran di Facebook, Instagram, TikTok, Twitter, dan YouTube semakin tidak terkontrol berdampak buruk pada terhadap tumbuh kembang anak. Foto adalah ilustrasi.

Hal paling meresahkan menjadi orang tua di era kiwari adalah melihat perkembangan media sosial yang semakin tak terkendali. Dengan inovasi yang terus berlanjut, serta berbagai macam perkembangan yang tidak lagi sesuai dengan tujuan awal penciptaan, rasanya ingin kembali menjadi orang tua yang hidup di masa lampau—ketika media sosial belum diciptakan untuk merusak tatanan kehidupan manusia sebagai makhluk sosial.

Jika Anda pernah makan dan minum berbagai jenis makanan dan minuman dalam sekali waktu, taruhlah contoh: makan nasi pecel satu piring penuh dengan lauk telur, ayam, rendang, dan ikan laut.

 

Photo
Photo

Lalu setelah itu minum es teh, kopi, dan jus. Kemudian ditambah kudapan, lalu tambah lagi makan buah-buahan: semangka, melon, nanas, anggur, dan apel.

Setelah itu minum lagi segelas air putih. Bayangkan, bagaimana mbededeknya perut Anda. Rasanya begah dan ingin muntah.

Seketika itu otak akan berhenti berpikir. Tidur menjadi pilihan terbaik daripada banyak gerak lalu muntah.

Begitu pun gambaran manusia yang terjebak dalam dinamika media sosial yang semakin tidak terkontrol, seperti perut yang dijejali berbagai macam makanan dan minuman dalam sekali waktu.

Melihat konten-konten sampah yang terus berseliweran—membanjiri platform seperti Facebook, Instagram, TikTok, Twitter, dan YouTube—membuat kita yang masih sadar atas dampak buruk media sosial merasa mual dan ingin muntah.

Namun celakanya, di tengah negara yang semakin tidak jelas arah pembangunan manusianya, banyak di antara kita yang tidak sadar, bahkan menikmatinya.

Sialnya lagi, orang tua yang sadar akan dampak buruk media sosial terhadap tumbuh kembang anak justru menjadi minoritas.

Anak-anak seakan menjadi korban dari ketegasan orang tua yang dianggap terlalu protektif.

Saat di sekolah, anak yang tidak diberikan ponsel oleh orang tuanya akan merasa terasing. Membaca buku di saat jam istirahat dianggap tidak gaul dan sok pintar.

Ironisnya, tidak sedikit orang tua bahkan guru melumrahkan kegagalan memahami perkembangan digital tersebut.

Mereka pun turut FOMO (fear of missing out) dengan membuat konten-konten sampah sambil mengajak anak didiknya.

Saya, sebagai orang tua, merasa begah, mual, dan ingin muntah ketika melihat konten yang menampilkan seorang guru mengajak anak didiknya joget-joget.

Hal ini menandaskan bahwa sebagian besar dari mereka telah berada di bawah kendali adiksi.

Karena itu, sulit bagi saya membayangkan seseorang yang sudah terjebak dalam adiksi media sosial bisa menjadi seorang pendidik.

Saya berani bertaruh, seseorang yang sudah kecanduan media sosial, cara berpikir dan sisi kepribadiannya tidak lagi sehat.

Jangankan masih memiliki minat baca, tidak berkata "apa gunanya membaca buku" saja sudah untung-untungan.

Mereka yang terjebak dalam algoritma media sosial otomatis kehilangan sikap skeptis. Apa pun yang muncul akan dianggap benar.

Sikap demikian sangat berbahaya jika dimiliki seorang pendidik.

Benar bahwa masih ada konten-konten positif yang bisa kita jelajahi. Masih ada pula sebagian orang tua dan guru yang membuat konten edukatif.

Namun porsi konten positif itu hanya sekian persen di antara rimba konten sampah media sosial.

Ibarat ikan yang berenang di antara derasnya aliran sungai, menjadi minoritas yang berusaha melindungi buah hati dari pengaruh negatif media sosial itu sangat melelahkan.

Apalagi tidak ada dukungan kuat dari pemerintah yang terimplementasi dalam kebijakan.

Wabakdu, meski kita tidak bisa mengendalikan lautan, setidaknya—sebagai orang tua, kita bisa mengawasi hiu untuk melindungi anak-anak kita. (*)

--------------------------

Artikel ini telah tayang di rubrik Opini koran Jawa Pos Radar Tuban edisi Sabtu, 20 September 2025.

Tim dosen dan mahasiswa Universitas Tidar berfoto bersama dengan para guru MGMP Matematika MTs Provinsi Jawa Tengah 1.
Tim dosen dan mahasiswa Universitas Tidar berfoto bersama dengan para guru MGMP Matematika MTs Provinsi Jawa Tengah 1.
Editor : Amin Fauzie
#orang tua #opini #konten sampah #anak #media sosial