Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Mendebat AI: Antara Kreativitas Manusia dan Alat yang Disalahpahami

Redaksi Radar Bonang • Minggu, 14 September 2025 | 22:50 WIB

Ilustrasi Opini berjudul Mendebat AI: Antara Kreativitas Manusia dan Alat yang Disalahpahami.
Ilustrasi Opini berjudul Mendebat AI: Antara Kreativitas Manusia dan Alat yang Disalahpahami.

Beberapa tahun terakhir, umat manusia tampaknya sedang menjalani peralihan besar, dari era “kerja keras dan ide brilian” ke era “asal jangan pakai AI”.

Di balik narasi kemajuan teknologi yang dikibarkan tinggi oleh industri global, muncul satu komunitas digital yang secara konsisten menolak mengakui satu hal sederhana: bahwa manusia tetaplah aktor utama dalam proses kreatif, bahkan ketika menggunakan bantuan teknologi secanggih apa pun.

Photo
Photo

Perdebatan ini mencuat kembali ke permukaan saat fenomena anomali “Tungtung Sahur”, sosok karakter yang dijadikan aset dalam permainan daring ber-genre battle royal. Karakter yang terinspirasi dari budaya lokal Indonesia ini konon diciptakan menggunakan teknologi generative AI.

Polemik semakin memanas setelah karakter tersebut digunakan sebagai salah satu item dalam permainan tanpa izin dari pembuatnya, Noxa. Noxa merasa kecewa karena karyanya dimanfaatkan tanpa persetujuan dan mempertanyakan etika penggunaan karya berbasis AI dalam industri digital.

Di sisi lain, muncul gelombang kritik dari warganet yang bersikukuh bahwa apa pun yang dihasilkan oleh AI bukanlah bagian dari kekayaan intelektual. Mereka berpendapat bahwa karena “mesin yang menghasilkan”, maka penciptanya tidak layak mengklaim hak intelektual apa pun.

Argumen ini, jika dipikirkan lebih dalam, sebetulnya bukan hanya tidak akurat, tetapi juga menunjukkan betapa miskinnya pemahaman sebagian masyarakat tentang makna kreativitas itu sendiri. Menganggap AI sebagai satu-satunya pencipta karya sama saja seperti mengatakan bahwa kuaslah yang menciptakan Mona Lisa, atau bahwa Adobe Illustrator bertanggung jawab atas lahirnya logo Apple.

Generative AI, sebagaimana alat-alat lain dalam sejarah peradaban manusia, hanyalah alat atau tools. Sebuah sarana, medium, perantara, dan katalis. Bahkan dalam bentuknya yang paling canggih sekalipun, AI tetap tunduk pada instruksi manusia, tidak lebih dari kalkulator dalam genggaman insinyur sipil maupun seorang akuntan.

Maka, ketika seseorang menggunakan AI untuk menciptakan karakter unik, terinspirasi dari kultur lokal yang spesifik, dan berhasil mengangkatnya ke ranah budaya pop digital, tidakkah itu pantas disebut kreativitas?

Sama halnya dengan kasus “Tungtung Sahur”. Kentungan sahur adalah elemen budaya yang nyaris semua warga Indonesia kenal. Suara familiar “tung-tung” itu bukan hal baru, bahkan bisa didengar di setiap sudut gang saat Ramadan tiba. Namun, hanya satu kreator yang mampu melihat potensi suaranya sebagai basis karakter anomalistik dalam dunia game.

Dan ia menggunakan AI sebagai medium untuk menerjemahkan gagasan tersebut ke dalam bentuk visual atau naratif yang bisa diakses secara luas.

Fakta menohok saat ini, banyak orang memiliki akses terhadap AI, namun hanya satu di antara 282 juta masyarakat Indonesia yang menciptakan karakter seperti ini, menunjukkan bahwa alat bukanlah pusat kreativitas.

Yang istimewa bukan pada tool-nya, melainkan pada individu yang mampu melihat apa yang orang lain abaikan. Inilah poin yang seolah luput dari pemahaman warganet yang terburu-buru dalam menghakimi tanpa membedah prosesnya.

Konflik utama dalam perdebatan ini bukan terletak pada teknologi, melainkan pada persepsi. Ketika AI menjadi kambing hitam untuk melemahkan posisi intelektual seseorang, maka sesungguhnya yang sedang terjadi adalah bentuk baru dari kemalasan berpikir.

Ia ingin hasil tanpa mengakui proses. Ingin menghakimi tanpa memahami medan yang dinilai.

Apakah pantas seseorang yang berhasil menjadikan kentungan sahur sebagai aset dalam game global dianggap tak menciptakan apa-apa hanya karena alatnya bernama AI?

Lalu, jika hari esok muncul komposer yang menciptakan simfoni dengan bantuan AI, haruskah ia dilarang mengklaim hak cipta atas lagunya?

Di titik inilah, kritik terhadap AI justru berubah wujud menjadi bentuk baru dari konservatisme kreatif: takut akan perubahan, dan memilih untuk mengerdilkan kreativitas yang tidak mereka pahami.

Jika kita ikuti alur pikir para penolak karya berbasis AI, maka semua produk yang pernah diciptakan manusia dengan bantuan alat mekanis pun layak dicurigai otentisitasnya.

Mesin jahit, misalnya, akan merampas kehormatan para desainer. Kamera digital akan menenggelamkan kredibilitas fotografer. Bahkan pemakaian komputer oleh penulis pun bisa dipersoalkan, seperti apakah yang menulis novel itu sang pengarang, atau perangkat lunak yang digunakannya?

Puncak dari kekeliruan ini terletak pada penyamaan antara alat bantu dan aktor kreatif. AI, meski memiliki kemampuan menghasilkan variasi output, tetaplah alat. Ia tidak memiliki kehendak, nilai, atau visi estetika.

Ia tidak mengenal absurditas, ironi, atau satire. Ia hanya menyusun kembali serpihan data sesuai instruksi yang diberikan padanya, yang maknanya baru lahir ketika disentuh oleh niat dan intuisi manusia.

AI tidak menghilangkan kehendak kreatif; ia justru memperluas kemungkinan dari kehendak tersebut.

Maka dari itu, ketika seorang kreator melihat potensi kentungan sahur, yang oleh sebagian besar masyarakat hanya dianggap sebagai tradisi pinggir jalan, dan memproyeksikannya menjadi karakter anomali dalam jagat digital, ia sedang menjalankan proses imajinatif yang sejati.

Ia membebaskan simbol dari tradisinya, lalu mentransformasikannya menjadi entitas baru dalam ruang naratif modern. Bahkan, jika kita mencoba meraba diri, proses ini lebih menyerupai karya seni konseptual daripada sekadar produksi konten.

Yang menggelikan justru muncul dari tuntutan warganet yang menganggap proses itu tidak layak disebut karya karena “dibantu AI”. Padahal, mereka sendiri hidup dalam arsitektur digital yang dibangun dengan AI: dari algoritma rekomendasi di TikTok hingga sistem moderasi komentar yang menyaring sumpah serapah mereka.

Di satu sisi, mereka menolak AI sebagai medium kreatif, tapi di sisi lain mereka bergantung padanya untuk mengekspresikan diri. Ini bukan sekadar ironi. Ini hipokrisi dalam bentuk paling vulgar.

Tentu, bukan berarti kita menutup mata terhadap isu valid seperti plagiarisme digital, atau penyalahgunaan data dalam pelatihan AI. Namun menyamaratakan seluruh proses kreatif berbasis AI sebagai “bukan karya” adalah bentuk reduksionisme intelektual.

Ia seperti menyimpulkan bahwa karena pahat yang memahat patung, maka pematung tak lebih dari operator benda tumpul.

Saya kira sudah waktunya bagi kita untuk berhenti memandang kreativitas sebagai sesuatu yang hanya sah jika dilakukan secara manual. Sejarah seni dan teknologi selalu berjalan beriringan. Dari pena bulu ke mesin tik, dari kanvas ke Canva, dari cetakan analog hingga ke NFT.

Kreativitas bukanlah tentang apa yang digunakan, tetapi tentang siapa yang menggunakannya dan untuk apa. (*)

---------------------------------------------------------

*) YAVID RAHMAT PERWITA adalah ASN Diskominfo Tuban

Artikel ini telah tayang di rubrik Opini Jawa Pos Radar Tuban edisi Minggu, 14 September 2025.

Ilustrasi Tren Miniatur AI bertema Bayi menggunakan google gemini
Ilustrasi Tren Miniatur AI bertema Bayi menggunakan google gemini
Ilustrasi Tren Miniatur AI menggunakan google gemini
Ilustrasi Tren Miniatur AI menggunakan google gemini
Editor : Amin Fauzie
#Yavid rahmat perwita #opini #manusia #ai