Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Legen Terakhir dari Bukit Narpati

Redaksi Radar Bonang • Sabtu, 13 September 2025 | 16:55 WIB

Ilustrasi cerpen Legen Terakhir dari Bukit Narpati karya Darju Prasetya.
Ilustrasi cerpen Legen Terakhir dari Bukit Narpati karya Darju Prasetya.

Matahari belum sepenuhnya terbit ketika Pak Karmo mulai memanjat pohon siwalan pertamanya pagi itu. Di usia yang hampir menginjak enam puluh tahun, tubuhnya masih gesit seperti kucing. Dengan cekatan, ia mengaitkan tali pengaman ke pinggang dan mulai merangkak naik menggunakan pijakan-pijakan yang telah dibuatnya bertahun-tahun lalu pada batang pohon siwalan setinggi belasan meter itu.

Bukit Narpati masih diselimuti kabut tipis. Dari ketinggian, Pak Karmo bisa melihat hamparan pohon siwalan yang tersebar di sepanjang bukit.

Dulu, tempat ini adalah surganya para penderes legen—sebutan untuk penyadap nira dari pohon siwalan.

Photo
Photo

Namun kini, hanya tersisa beberapa pohon yang masih produktif.

Sebagian besar telah mati atau ditebang untuk memberi jalan bagi pembangunan vila-vila mewah yang mulai bermunculan di kaki bukit.

“Masih ada yang tersisa untuk hari ini,” gumam Pak Karmo sambil memeriksa mangkok bambu yang digantung di mahkota pohon siwalan. Cairan bening kekuningan memenuhi separuh mangkok—hasil sadapan semalam yang akan ia kumpulkan pagi ini. Dengan hati-hati, ia menurunkan mangkok bambu itu dan menuangkan isinya ke dalam jerigen plastik yang tergantung di pinggangnya.

Aroma manis khas legen menguar di udara pagi yang sejuk. Ia tersenyum tipis, mengingat bagaimana minuman tradisional ini telah menghidupi keluarganya selama puluhan tahun.

“Pak Karmo! Sudah dapat berapa liter hari ini?” sebuah suara mengejutkannya dari bawah.

Pak Karmo menengok ke bawah dan melihat Joko, pemuda berusia dua puluh lima tahun yang merupakan anak dari tetangganya, berdiri di bawah pohon dengan motor bebek tuanya.

“Baru satu pohon, Le. Masih ada lima pohon lagi yang harus kuderes,” jawab Pak Karmo sambil mulai menuruni pohon dengan hati-hati.

“Bapak masih kuat naik turun pohon setinggi ini? Saya khawatir melihatnya, Pak,” ujar Joko dengan nada cemas.

Pak Karmo terkekeh pelan. “Sudah jadi makanan sehari-hari, Le. Lagipula, kalau bukan aku yang menderes, siapa lagi? Kamu tahu sendiri, penderes muda sudah tidak ada lagi di sini.”

Joko mengangguk pelan. Ia paham betul apa yang dimaksud Pak Karmo. Anak-anak muda di desa mereka lebih memilih bekerja di kota atau menjadi buruh pabrik daripada meneruskan tradisi menderes legen yang dianggap kuno dan berbahaya.

“Pak, saya dengar dari Pak RT, minggu depan akan ada pembebasan lahan lagi di Bukit Narpati. Katanya mau dibangun resort mewah,” kata Joko dengan nada prihatin.

Pak Karmo terdiam sejenak. Tangannya yang kasar mengusap wajahnya yang berkeringat. “Ya, aku sudah dengar kabar itu. Tapi mau bagaimana lagi? Ini sudah jadi nasib kita, Le. Zaman berubah, kita harus ikut berubah.”

“Tapi Pak, kalau pohon siwalan habis, bagaimana dengan legen? Bukankah ini warisan budaya kita?” tanya Joko.

“Justru itu yang jadi pikiranku selama ini,” jawab Pak Karmo sambil mulai berjalan menuju pohon siwalan berikutnya. “Ayo ikut, Le. Sambil jalan, aku ceritakan sesuatu padamu.”

Mereka berjalan menyusuri jalan setapak di Bukit Narpati. Pak Karmo mulai bercerita tentang bagaimana dulu, ketika ia masih muda, bukit ini dipenuhi penderes legen. Setiap pagi dan sore, puluhan orang akan memanjat pohon siwalan untuk mengambil nira. Legen yang dihasilkan tidak hanya dijual sebagai minuman segar, tapi juga diolah menjadi gula siwalan yang terkenal hingga ke luar daerah.

“Dulu, ayahku yang mengajariku menderes,” kata Pak Karmo sambil tersenyum mengenang. “Beliau selalu bilang, ‘Karmo, pohon siwalan ini bukan sekadar pohon. Ia adalah pemberi kehidupan bagi kita. Hormatilah dia seperti kau menghormati orangtuamu.’”

Joko mendengarkan dengan seksama. Ia bisa merasakan kerinduan dalam suara Pak Karmo.

“Tapi sekarang, lihat sekelilingmu,” Pak Karmo menunjuk ke arah vila-vila mewah yang mulai bermunculan di kaki bukit. “Mereka bilang ini pembangunan, ini kemajuan. Tapi bagiku, ini adalah akhir dari sebuah era.”

“Pak Karmo tidak pernah berpikir untuk menjual tanahnya?” tanya Joko penasaran.

Pak Karmo menggeleng tegas. “Tidak, Le. Tanah ini warisan dari orangtuaku. Di atasnya masih berdiri lima belas pohon siwalan yang kurawat sejak muda. Mereka menawar dengan harga tinggi, tapi bagiku, nilai warisan budaya ini tidak bisa diukur dengan uang.”

Mereka tiba di pohon siwalan kedua. Pak Karmo mulai mempersiapkan peralatannya untuk memanjat.

“Le, kamu mau belajar menderes?” tanya Pak Karmo tiba-tiba.

Joko terkejut dengan tawaran itu. “Saya, Pak? Tapi...”

“Tidak ada tapi-tapian. Kalau kamu mau, aku bisa mengajarimu. Setidaknya harus ada yang meneruskan tradisi ini,” kata Pak Karmo sambil mulai memanjat.

Joko memandang ke atas, mengamati bagaimana Pak Karmo dengan lincah memanjat pohon siwalan itu. Ada sesuatu yang menggetarkan hatinya—mungkin rasa kagum, mungkin juga rasa tanggung jawab untuk melestarikan warisan budaya ini.

Hari-hari berikutnya, Joko mulai belajar menderes di bawah bimbingan Pak Karmo. Awalnya ia takut dan canggung, tapi perlahan mulai terbiasa. Pak Karmo mengajarinya semua yang perlu diketahui—dari cara membuat pijakan yang aman, teknik memanjat yang benar, hingga cara menyadap nira yang baik.

“Kunci utamanya adalah kesabaran dan kehati-hatian,” kata Pak Karmo suatu pagi. “Pohon siwalan ini seperti manusia, Le. Dia bisa merasakan bagaimana kita memperlakukannya. Kalau kita kasar, hasilnya juga tidak akan bagus.”

Sementara itu, rencana pembangunan resort di Bukit Narpati terus berjalan. Satu per satu pemilik tanah mulai menjual lahannya. Pohon-pohon siwalan ditebang, digantikan dengan pondasi bangunan modern.

Suatu hari, ketika mereka sedang beristirahat setelah menderes, Joko memberanikan diri bertanya, “Pak Karmo, apa tidak sebaiknya kita mencari cara untuk mempertahankan pohon siwalan ini? Maksud saya, mungkin kita bisa membuat semacam kampung wisata atau apa...”

Pak Karmo tersenyum mendengar ide Joko. “Kamu pintar, Le. Aku juga sudah memikirkan hal itu. Tapi untuk mewujudkannya, kita butuh dukungan banyak pihak.”

“Saya siap membantu, Pak!” kata Joko bersemangat. “Saya bisa mengajak teman-teman saya untuk ikut belajar menderes. Kita bisa membuat komunitas penderes muda!”

Ide Joko ternyata mendapat sambutan positif dari beberapa pemuda desa. Mereka mulai berkumpul di rumah Pak Karmo setiap akhir pekan untuk belajar tentang pohon siwalan dan teknik menderes yang benar.

Pak Karmo juga mulai membagikan pengetahuannya tentang berbagai olahan legen—dari gula siwalan tradisional hingga inovasi baru seperti sirup legen dan permen legen. Joko bahkan mulai memasarkan produk-produk ini melalui media sosial.

“Lihat, Le,” kata Pak Karmo suatu sore sambil menunjuk ke arah matahari terbenam dari puncak Bukit Narpati. “Dulu aku pikir ini adalah legen terakhir dari Bukit Narpati. Tapi sekarang, melihat kalian para pemuda yang bersemangat melestarikan warisan ini, aku jadi punya harapan baru.”

Joko tersenyum. “Ini semua berkat Pak Karmo yang tidak menyerah. Bapak telah mengajarkan kami bahwa tradisi bukan sesuatu yang harus ditinggalkan, tapi justru bisa menjadi kekuatan di era modern ini.”

Enam bulan kemudian, “Kampung Legen Narpati” diresmikan. Sebagian area Bukit Narpati yang tersisa dikelola menjadi destinasi wisata edukasi, di mana pengunjung bisa belajar tentang pohon siwalan dan proses pembuatan legen secara tradisional.

Pak Karmo masih tetap menderes setiap pagi, tapi kini ia tidak sendirian. Ada Joko dan beberapa pemuda lain yang dengan bangga meneruskan tradisi ini. Legen dari Bukit Narpati kembali terkenal, bahkan lebih dari sebelumnya.

“Ayah pasti bangga melihat ini semua,” gumam Pak Karmo suatu pagi, memandang ke arah pohon siwalan yang bergoyang ditiup angin pagi. “Warisan ini tidak akan hilang. Ia akan terus hidup dalam semangat generasi baru.”

Dan di Bukit Narpati, pohon-pohon siwalan masih berdiri tegak, menjadi saksi bisu bagaimana sebuah tradisi bisa bertahan dan berkembang di tengah arus modernisasi.

Legen, minuman tradisional yang hampir dilupakan, kini menjadi simbol kebangkitan sebuah warisan budaya yang nyaris hilang. Setiap pagi, suara tawa dan obrolan para penderes muda masih terdengar di antara pohon-pohon siwalan.

Dan Pak Karmo, dengan senyum bangga, masih setia mengawasi dan membimbing mereka, memastikan bahwa tradisi menderes legen akan terus hidup di Bukit Narpati.

“Ini bukan lagi tentang sekadar mencari nafkah,” kata Pak Karmo kepada siapapun yang bertanya. “Ini adalah tentang menjaga warisan, tentang menghormati alam, dan tentang membuktikan bahwa tradisi dan modernisasi bisa berjalan beriringan.”

Dan begitulah, kisah legen dari Bukit Narpati terus mengalir, manis dan menyegarkan, seperti minuman tradisional yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Tuban sejak dulu kala. (*)

*) DARJU PRASETYA lahir di Tuban, Jawa Timur. Karya-karyanya, baik esai, cerpen, puisi, maupun artikel, telah banyak dimuat di berbagai media cetak maupun daring. Email: prasetya58098@gmail.com

----------------------------------------------------

Cerpen ini telah terbit di koran Jawa Pos Radar Tuban edisi Sabtu, 13 September 2025.

Ilustrasi Tren Miniatur AI bertema keluarga menggunakan google gemini
Ilustrasi Tren Miniatur AI bertema keluarga menggunakan google gemini
Ilustrasi Tren Miniatur AI menggunakan google gemini
Ilustrasi Tren Miniatur AI menggunakan google gemini
Editor : Amin Fauzie
#Legen Terakhir dari Bukit Narpati #Darju Prasetya #cerpen