RADARBONANG – Nama Sunan Bonang begitu lekat dengan sejarah penyebaran Islam di Pulau Jawa. Tokoh Wali Songo ini selama ini lebih dikenal sebagai ulama yang berdakwah melalui seni gamelan dan tembang seperti Tombo Ati.
Namun, di balik kisah yang populer di masyarakat, terdapat sejumlah fakta sejarah yang justru jarang diketahui. Beberapa di antaranya didukung oleh naskah kuno, kajian filologi, hingga penelitian akademik, sementara sebagian lainnya masih menjadi perdebatan di kalangan sejarawan.
Berikut sejumlah fakta menarik tentang Sunan Bonang yang patut diketahui.
1. Nama "Bonang" Diduga Berasal dari Nama Desa
Banyak masyarakat menganggap gelar Sunan Bonang berasal dari alat musik bonang yang digunakan dalam gamelan Jawa. Padahal, sejumlah penelitian justru menunjukkan bahwa nama tersebut kemungkinan besar merujuk pada Desa Bonang di Lasem, Kabupaten Rembang.
Dalam kajian terhadap naskah Carita Lasem, Desa Bonang disebut sebagai salah satu pusat aktivitas dakwah Sunan Bonang pada abad ke-15. Tradisi penamaan berdasarkan wilayah juga lazim digunakan oleh para anggota Wali Songo, seperti Sunan Giri, Sunan Kudus, dan Sunan Gunung Jati.
2. Sunan Bonang Lebih dari Sekadar Seniman
Sosok Sunan Bonang kerap digambarkan sebagai wali yang mahir memainkan gamelan. Namun, sejumlah sumber sejarah menyebutkan bahwa beliau merupakan ulama dengan penguasaan ilmu agama yang mendalam.
Sunan Bonang yang memiliki nama asli Raden Maulana Makdum Ibrahim merupakan putra dari Sunan Ampel. Ia dikenal menguasai ilmu tasawuf, fikih, tauhid, hingga sastra Islam sebelum kemudian mengembangkan metode dakwah yang memadukan budaya lokal dengan ajaran Islam.
3. Meninggalkan Naskah Tasawuf
Tidak banyak yang mengetahui bahwa Sunan Bonang juga dikaitkan dengan sebuah manuskrip kuno yang dikenal sebagai Kitab Sunan Bonang atau Primbon Bonang.
Berbeda dengan pengertian primbon yang identik dengan ramalan, naskah tersebut justru berisi dialog keagamaan dan ajaran tasawuf yang membahas hubungan manusia dengan Tuhan, penyucian jiwa, hingga etika spiritual.
Keberadaan manuskrip itu menjadi salah satu bukti bahwa dakwah Sunan Bonang tidak hanya dilakukan secara lisan, tetapi juga melalui tradisi tulis.
4. Memanfaatkan Budaya, Bukan Menghapusnya
Pendekatan dakwah Sunan Bonang dinilai cukup berbeda pada zamannya. Ia tidak menghilangkan budaya yang telah hidup di tengah masyarakat Jawa, melainkan memanfaatkannya sebagai media penyampaian ajaran Islam.
Gamelan, tembang, hingga pertunjukan seni digunakan sebagai sarana dakwah dengan menyisipkan nilai-nilai keislaman. Pendekatan akulturasi inilah yang kemudian dianggap menjadi salah satu faktor keberhasilan penyebaran Islam di pesisir utara Jawa.
5. Kisah Dialog dengan Syekh Bari Lebih Dekat dengan Tradisi Keilmuan
Dalam cerita rakyat, Sunan Bonang sering dikisahkan memiliki berbagai kesaktian. Namun, naskah-naskah lama justru lebih banyak menampilkan sisi intelektualnya melalui dialog dengan tokoh yang dikenal sebagai Syekh Bari atau Seh Bari.
Percakapan tersebut membahas persoalan tasawuf, hakikat ketuhanan, dan cara menyampaikan ajaran Islam kepada masyarakat. Meski memiliki unsur sastra, kisah itu menunjukkan adanya tradisi diskusi keilmuan yang berkembang pada masa awal penyebaran Islam di Jawa.
6. Lokasi Makam Masih Menjadi Perdebatan
Masyarakat luas mengenal makam Sunan Bonang berada di Tuban. Namun, tradisi lokal di Lasem juga meyakini bahwa Sunan Bonang dimakamkan di Desa Bonang, tempat yang diyakini sebagai pusat dakwah beliau.
Perbedaan pandangan tersebut telah berlangsung lama dan menjadi bagian dari historiografi lokal.
Hingga kini, makam di Tuban tetap menjadi tujuan utama peziarah, sementara situs di Lasem juga terus dirawat sebagai bagian dari warisan sejarah setempat.
Baca Juga: Kalpataru Sunan Bonang Mulai Rapuh: Masterpiece Museum Kambang Putih Tuban Butuh Penyelamatan!
7. Benarkah Sunan Bonang Pencipta Tombo Ati?
Lagu Tombo Ati selama ini hampir selalu dikaitkan dengan Sunan Bonang. Meski demikian, para peneliti belum menemukan bukti sejarah yang secara pasti menyebut beliau sebagai penciptanya.
Ajaran yang terkandung dalam syair tersebut memang sejalan dengan nilai-nilai tasawuf yang berkembang pada masa Sunan Bonang. Namun, atribusi langsung terhadap beliau hingga kini masih menjadi pembahasan di kalangan akademisi.
Karena itu, lebih tepat jika Tombo Ati disebut sebagai tembang yang secara tradisional dikaitkan dengan Sunan Bonang, bukan sebagai fakta sejarah yang telah dipastikan.
Antara Fakta dan Tradisi
Sejarawan mengingatkan bahwa tidak semua kisah mengenai Sunan Bonang dapat dipastikan kebenarannya secara historis. Cerita mengenai kesaktian, mukjizat, hingga berbagai legenda merupakan bagian dari tradisi lisan dan sastra Jawa yang berkembang dari generasi ke generasi.
Sementara itu, fakta-fakta seperti hubungan Sunan Bonang dengan Sunan Ampel, aktivitas dakwah di pesisir utara Jawa, penggunaan seni sebagai media dakwah, serta keberadaan naskah yang dikaitkan dengannya memiliki landasan yang lebih kuat dalam kajian sejarah dan filologi. (*)
Editor : Yudha Satria AditamaSumber : Radar Bonang