Mengenal Siapa Syekh Siti Jenar, Sosok Pencetus Manunggaling Kawula Gusti

Yudha Satria Aditama • Dipublikasikan Rabu, 5 Agustus 2026 | 11:23 WIB
Membedah kebenaran sejarah Syekh Siti Jenar, dari perbedaan tafsir spiritualitas hingga relasinya dengan para Walisongo dalam naskah-naskah Jawa kuno. (Radar Cirebon)
Membedah kebenaran sejarah Syekh Siti Jenar, dari perbedaan tafsir spiritualitas hingga relasinya dengan para Walisongo dalam naskah-naskah Jawa kuno. (Radar Cirebon)

RADARBONANG - Dalam panggung penyebaran Islam di Tanah Jawa, nama Syekh Siti Jenar selalu memicu ruang diskusi yang hangat sekaligus kompleks.

Di satu sisi, ia dihormati sebagai wali spiritual berkedalaman ilmu tinggi. Namun di sisi lain, kisahnya diwarnai kontroversi tajam yang tak kunjung padam lintas generasi.

Mengenal Syekh Siti Jenar memerlukan ketelitian, sebab sosoknya berada di persimpangan yang berkelindan antara catatan sejarah, naskah babad, tradisi lisan, hingga legenda rakyat.

Baca Juga: Mengenal Siapa Asmoroqondi, Tokoh yang Diyakini sebagai Leluhur Sunan Bonang Bermakam di Palang Tuban

Dikenal juga dengan berbagai sebutan seperti Syekh Lemah Abang, Syekh Abdul Jalil, hingga San Ali, asal-usul dan nama asli sang tokoh masih menjadi teka-teki tersendiri dalam berbagai literatur klasik.

Para peneliti memperkirakan ia hidup pada era keemasan awal Kesultanan Demak, yaitu sekitar abad ke-15 hingga awal abad ke-16. Sejak masa itu, namanya terpatri sebagai seorang sufi yang mengajarkan pendekatan spiritualitas atau tasawuf yang sangat mendalam dan tergolong radikal bagi zamannya.

Daya tarik utama sekaligus pemantik polemik dari sosok ini terletak pada inti ajarannya yang dikenal sebagai Manunggaling Kawula Gusti, secara harfiah bermakna bersatunya hamba dengan Tuhan.

Muncul dua cara pandang yang saling bertolak belakang dalam menilai ajaran tersebut. Bagi para pendukung dan pencinta tasawuf, ajaran ini dipahami sebagai pengalaman spiritual tertinggi atau makrifat, dan bukan berarti wujud fisik manusia benar-benar menyatu menjadi Tuhan.

Konsep ini dinilai memiliki benang merah yang kuat dengan ajaran sufi tersohor dunia Islam seperti Al-Hallaj dan Ibnu Arabi.

Sebaliknya, dari sudut pandang para ulama dan naskah-naskah Jawa kuno, ajaran tersebut dinilai berpotensi besar disalahpahami oleh masyarakat awam yang belum siap menerima pemahaman spiritual tingkat tinggi.

Karena dianggap rawan menimbulkan penyimpangan keagamaan, berbagai naskah babad menceritakan timbulnya perselisihan antara Syekh Siti Jenar dan para anggota Walisongo, seperti Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, dan Sunan Kudus. Perselisihan tersebut dalam tradisi lisan dikisahkan berujung pada hukuman mati.

Kendati demikian, apakah peristiwa eksekusi itu benar-benar terjadi dalam realitas sejarah masih menjadi bahan perdebatan hangat karena ketiadaan dokumen sejarah primer yang pasti.

Pertanyaan mengenai apakah Syekh Siti Jenar benar-benar figur nyata pada akhirnya melahirkan tiga pandangan utama di kalangan sejarawan modern. Sebagian meyakini bahwa ia memang tokoh sejarah yang pernah hidup dan berdakwah.

Sebagian lainnya berpendapat bahwa nama Syekh Siti Jenar merupakan peleburan dari beberapa tokoh sufi lokal yang digabungkan menjadi satu figur ikonik. Sementara itu, pandangan ketiga menganggap kisah hidupnya telah bercampur aduk dengan mitos, alegori, dan simbolisme keagamaan pada zamannya.

Baca Juga: Tuban Terus Berkembang, Masihkah Identitas Bumi Wali Tetap Terjaga di Tengah Arus Modernisasi?

Para peneliti mengingatkan bahwa kisah-kisah hubungan Syekh Siti Jenar dengan tokoh-tokoh penting seperti Sunan Bonang hingga Syekh Asmoroqondi umumnya berasal dari naskah serat dan babad yang ditulis jauh setelah era kejadian berlangsung.

Oleh karena itu, riwayat hidup maupun ajarannya tidak dapat disimpulkan hanya dari satu sumber semata. Memahami Syekh Siti Jenar pada akhirnya adalah perjalanan membedah kekayaan dinamika pemikiran Islam di Jawa, sebuah jalinan erat antara ketajaman spiritual, tradisi lisan, dan historiografi yang terus menantang untuk diteliti lebih dalam.

Dalam versi Babad Jawa, Syekh Siti Jenar merupakan tokoh yang sangat menonjol sekaligus kontroversial. Perlu dicatat bahwa babad bukanlah catatan sejarah modern, melainkan karya sastra sejarah yang memadukan fakta, tradisi lisan, simbolisme, dan nilai-nilai moral. Karena itu, kisah berikut mencerminkan tradisi dalam babad, bukan fakta sejarah yang telah terverifikasi.

Asal-usul Syekh Siti Jenar

Dalam beberapa naskah seperti Babad Tanah Jawi, Serat Siti Jenar, dan Suluk Syekh Siti Jenar, asal-usulnya diceritakan berbeda-beda.

Versi yang paling sering muncul menyebut ia bernama Syekh Abdul Jalil, seorang ulama yang pernah menimba ilmu agama hingga ke Timur Tengah sebelum kembali ke Jawa. Ada pula versi yang menyebut ia berasal dari Cirebon atau wilayah Lemah Abang, sehingga dikenal dengan sebutan Syekh Lemah Abang atau Syekh Siti Jenar.

Salah satu kisah yang populer menyebut ia berasal dari seekor cacing yang disihir menjadi manusia. Namun, banyak ahli sastra Jawa menilai kisah ini bersifat alegoris atau simbolis, bukan dimaksudkan sebagai peristiwa harfiah.

Murid Sunan Bonang

Dalam sejumlah babad, Syekh Siti Jenar diceritakan pernah berguru kepada Sunan Bonang. Ia dikenal sebagai murid yang sangat cerdas dan cepat menguasai ilmu lahir maupun batin.

Karena kecerdasannya, ia kemudian mendalami ilmu hakikat dan makrifat hingga memperoleh pemahaman spiritual yang sangat tinggi.

Ajaran Manunggaling Kawula Gusti

Puncak kisah Syekh Siti Jenar dalam babad adalah ajarannya tentang Manunggaling Kawula Gusti (bersatunya hamba dengan Tuhan).

Menurut babad, ia mengajarkan bahwa:

Bagian terakhir inilah yang menjadi sumber konflik dalam cerita babad. Para Walisongo khawatir ajaran tersebut akan disalahartikan oleh masyarakat awam sehingga dapat membuat mereka meninggalkan syariat Islam.

Dipanggil Menghadap Dewan Wali

Karena ajarannya dianggap menimbulkan keresahan, Syekh Siti Jenar dipanggil untuk menghadap dewan para wali yang dipimpin oleh Sunan Giri. Hadir pula tokoh-tokoh seperti Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, dan Sunan Bonang.

Dalam dialog tersebut, para wali meminta Syekh Siti Jenar menghentikan penyebaran ajaran hakikat kepada masyarakat umum. Namun, menurut babad, ia tetap mempertahankan pendiriannya.

Hukuman Mati

Versi yang paling terkenal menyebut para wali kemudian menjatuhkan hukuman mati kepada Syekh Siti Jenar.

Di sinilah muncul berbagai variasi cerita.

Beberapa naskah mengisahkan ia dieksekusi di hadapan para wali. Ada pula yang menyebut ketika tubuhnya dipenggal, darah yang keluar berubah menjadi cahaya atau harum semerbak sebagai tanda kemuliaannya. Versi lain menyebut ia telah "mati" secara spiritual sebelum hukuman dijalankan sehingga kematiannya hanya bersifat jasmani.

Unsur-unsur seperti ini umumnya dipahami sebagai simbol dalam sastra mistik Jawa.

Makna dalam Babad

Dalam tradisi babad, konflik Syekh Siti Jenar dengan Walisongo tidak selalu dimaknai sebagai pertentangan antara benar dan salah. Banyak penafsir melihat kisah ini sebagai gambaran dua pendekatan dakwah:

Pesan moral yang sering ditarik dari kisah tersebut adalah bahwa ilmu hakikat sebaiknya disampaikan kepada orang yang telah matang secara spiritual, sedangkan masyarakat umum terlebih dahulu dibimbing melalui syariat.

Catatan Penting

Para sejarawan modern mengingatkan bahwa kisah-kisah di atas berasal dari naskah babad dan serat yang disusun beberapa generasi setelah masa Kesultanan Demak. Oleh karena itu, isi babad lebih tepat dipandang sebagai warisan sastra, budaya, dan tradisi intelektual Jawa daripada sebagai catatan sejarah yang sepenuhnya dapat diverifikasi. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
Sumber : Radar Bonang
Babad Jawa Syekh Siti Jennar Sunan Bonang