RADARBONANG.ID - Selama berabad-abad, umat Islam meyakini bahwa salah satu tanda besar Kiamat adalah terbitnya matahari dari arah barat.
Sebuah peristiwa kosmik yang mustahil menurut hukum alam, menandai fase akhir kehidupan manusia sekaligus tertutupnya pintu tobat.
Pemahaman ini sering diposisikan sebagai kejadian fisik semata: langit berubah, bumi bergeser, dan hukum alam dilanggar.
Namun, sejumlah pemikir Islam modern mengajak kita untuk melihat tanda tersebut dari sudut pandang yang lebih luas—bukan hanya astronomis, tetapi juga sosiologis dan peradaban.
Baca Juga: Bonggol Jagung Kini Bernilai Ekspor — Peluang Bisnis Baru dari Limbah Pertanian
Tokoh seperti Muhammad Abduh, Malek Bennabi, hingga Syekh Imran Hosein mengemukakan gagasan bahwa “matahari” tidak selalu harus dimaknai sebagai benda langit.
Ia juga bisa menjadi simbol sumber cahaya peradaban: ilmu, nilai, hukum, dan cara pandang hidup.
Ketika Cahaya Berpindah Arah
Dalam sejarah Islam, dunia Timur—khususnya peradaban Islam—pernah menjadi pusat cahaya dunia.
Ilmu pengetahuan, filsafat, kedokteran, hukum, dan etika berkembang pesat dan menjadi rujukan peradaban global. Barat datang untuk belajar, bukan sebaliknya. Namun, hari ini realitas itu berbalik.
Kiblat ilmu pengetahuan, sistem ekonomi, hukum, teknologi, hingga gaya hidup kini sepenuhnya mengarah ke Barat.
Apa yang dianggap modern, rasional, dan “benar” hampir selalu didefinisikan oleh standar Barat.
Bahkan dalam banyak aspek kehidupan umat Islam, legitimasi nilai sering dicari dari pengakuan Barat. Di titik inilah, “matahari” secara simbolik telah terbit dari barat.
Kiamat Peradaban: Ketika Nilai-Nilai Terbalik
Perubahan arah cahaya ini melahirkan apa yang oleh sebagian pemikir disebut sebagai kiamat peradaban. Bukan kehancuran fisik dunia, tetapi runtuhnya tatanan nilai.
Yang dahulu jelas haram, kini diperdebatkan lalu dilegalkan. Yang dulu tabu, hari ini dinormalisasi. Sistem riba dianggap tak terhindarkan.
Sekularisme dipromosikan sebagai solusi damai, meski ia memisahkan agama dari ruang publik dan hukum kehidupan.
Dalam sistem global yang dibangun atas nilai Barat, hidup sepenuhnya sesuai syariat sering dianggap ekstrem, tidak realistis, bahkan menghambat kemajuan.
Akibatnya, banyak orang beriman terjebak dalam dilema: bertahan pada nilai atau menyesuaikan diri agar “diterima zaman”.
Makna Tertutupnya Pintu Tobat
Di sinilah makna lain dari hadis tentang tertutupnya pintu tobat menjadi relevan.
Bukan karena Allah berhenti menerima tobat—karena rahmat-Nya tidak pernah tertutup—melainkan karena manusia kehilangan kesadaran untuk bertobat.
Ketika dosa dilegalkan oleh sistem, disahkan oleh hukum, dan dirayakan oleh budaya, manusia tak lagi merasa bersalah.
Tidak ada yang disesali, karena tidak ada yang dianggap salah. Sensitivitas moral menurun, nurani menumpul, dan tobat kehilangan urgensinya.
Baca Juga: Netanyahu Disorot Usai Tutup Kamera Ponsel dengan Selotip, Ada Apa di Balik Langkah Ini?
Manusia tidak berhenti berdosa karena sadar, tetapi karena tidak lagi merasa berdosa.
Kita Hidup di Bawah Matahari yang Salah
Mungkin benar, matahari fisik belum benar-benar terbit dari barat. Namun secara mental, intelektual, dan budaya, manusia modern—termasuk umat Islam—sudah lama hidup di bawah sinar “Matahari Barat”.
Pertanyaannya bukan lagi kapan tanda besar itu terjadi, melainkan:
apakah kita menyadari bahwa arah cahaya hidup kita telah berubah?
Dan jika iya, apakah kita masih punya keberanian untuk berbalik arah sebelum semuanya gelap?(*)