Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Penjelasan Peristiwa Isra Mikraj Nabi Muhammad dari Sudut Pandang Sains Fisika Modern

M Robit Bilhaq • Sabtu, 17 Januari 2026 - 18:40 WIB

Isra Mikraj bukan sekadar perjalanan luar biasa, tetapi mukjizat yang melampaui batas sains dan logika manusia.
Isra Mikraj bukan sekadar perjalanan luar biasa, tetapi mukjizat yang melampaui batas sains dan logika manusia.

RADARBONANG.ID – Isra Mikraj merupakan salah satu peristiwa paling monumental sekaligus sakral dalam sejarah Islam.

Momentum ini tidak hanya memiliki makna spiritual yang mendalam, tetapi juga kerap memantik diskusi panjang, terutama ketika dikaji melalui sudut pandang rasional dan sains modern.

perjalanan luar biasa dalam satu malam

Isra Mikraj merujuk pada perjalanan Nabi Muhammad SAW yang terjadi dalam satu malam. Pada tahap Isra, Rasulullah SAW melakukan perjalanan dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa di Yerusalem, dengan jarak sekitar 1.471 kilometer.

Baca Juga: Project Pan Lagi Viral: Tantang Budaya Kalap Belanja di Dunia Kecantikan

Jarak ini, bila ditempuh menggunakan sarana transportasi konvensional pada masa itu—seperti berjalan kaki atau berkuda—dapat memakan waktu berminggu-minggu.

Keagungan peristiwa tersebut berlanjut pada tahap Mikraj, ketika Nabi Muhammad SAW diangkat menembus lapisan-lapisan langit hingga mencapai Sidratul Muntaha di langit ketujuh.

Seluruh rangkaian peristiwa itu diyakini berlangsung hanya dalam durasi satu malam, sebelum Rasulullah kembali ke Makkah.

logika modern dan pertanyaan ilmiah

Di era modern, Isra Mikraj kerap memunculkan pertanyaan rasional. Bagaimana mungkin seorang manusia dapat menempuh jarak ribuan kilometer, bahkan melampaui batas atmosfer dan langit, dalam waktu yang sangat singkat? Terlebih lagi, peristiwa ini terjadi jauh sebelum manusia mengenal pesawat jet, roket, atau teknologi antariksa.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut mendorong sebagian kalangan untuk mencoba menjelaskan Isra Mikraj dengan pendekatan sains, khususnya fisika modern.

Salah satu tokoh yang memberikan pandangan akademis mengenai hal ini adalah Agus Purwanto, Guru Besar Fisika dari Institut Teknologi Surabaya (ITS), sebagaimana disampaikan melalui kanal resmi Muhammadiyah.

relativitas khusus belum cukup

Menurut Agus, peristiwa Isra Mikraj tidak dapat dijelaskan secara tuntas hanya dengan mengandalkan Teori Relativitas Khusus yang dikemukakan Albert Einstein.

Teori ini menjelaskan bahwa hukum-hukum fisika berlaku sama dalam kerangka acuan yang bergerak konstan, terutama ketika objek mendekati kecepatan cahaya, yakni sekitar 299.792 kilometer per detik.

Namun, teori tersebut juga menyatakan bahwa semakin mendekati kecepatan cahaya, energi yang dibutuhkan akan menjadi tak terbatas, sementara waktu akan melambat secara ekstrem.

Jika Isra Mikraj dianalisis secara kaku menggunakan teori ini, maka Nabi Muhammad SAW seharusnya telah melesat sangat jauh meninggalkan sistem tata surya.

Agus memberi ilustrasi bahwa cahaya saja mampu mengelilingi Bumi hingga enam atau tujuh kali hanya dalam satu detik.

Dalam kisah Isra Mikraj, Rasulullah SAW melakukan perjalanan menggunakan Buraq.

Jika Buraq diasumsikan bergerak setara kecepatan cahaya, maka dalam satu jam jarak yang ditempuh bisa mencapai lebih dari 4,3 miliar kilometer—hampir setara dengan jarak Bumi ke Neptunus.

relativitas umum dan dimensi di luar nalar

Secara fisika, objek bermassa yang bergerak dengan kecepatan ekstrem semacam itu seharusnya hancur akibat energi yang sangat besar.

Karena itu, Agus menilai bahwa Teori Relativitas Khusus tidak memadai untuk menjelaskan Isra Mikraj.

Ia menyebut Teori Relativitas Umum sebagai pendekatan yang sedikit lebih relevan. Dalam teori ini, gravitasi dipahami sebagai kelengkungan ruang-waktu akibat massa dan energi.

Relativitas Umum juga membuka kemungkinan adanya dimensi ruang yang lebih tinggi atau dimensi non-fisik yang berada di luar jangkauan pengalaman inderawi manusia.

Meski demikian, Agus menegaskan bahwa sains tetap memiliki keterbatasan. Hingga kini, belum ada penjelasan teknis yang benar-benar mampu membuktikan mekanisme Isra Mikraj secara ilmiah.

Baca Juga: Makam Terapung Syekh Mudzakir di Pantai Sayung, Demak: Kisah Ulama Besar yang Tetap Dikenang Meski Laut Pasang.

mukjizat di luar hukum fisika

Pada akhirnya, Isra Mikraj dipahami bukan sebagai perjalanan fisik biasa, bukan pula misi antariksa atau eksplorasi galaksi dengan teknologi.

Peristiwa ini ditempatkan sebagai mukjizat, fenomena spiritual yang berada di luar jangkauan hukum fisika konvensional.

Dalam perspektif keimanan Islam, Isra Mikraj diyakini terjadi sepenuhnya atas kehendak dan kekuasaan Allah SWT.

Ia menjadi pengingat bahwa tidak semua realitas dapat diukur dengan rumus dan teori, serta bahwa ada dimensi ilahiah yang melampaui batas rasio dan kemampuan sains manusia.(*)

Editor : Muhammad Azlan Syah
#Isra Mikraj #penjelasan Isra Mikraj menurut sains #relativitas Einstein dan Isra Mikraj #mukjizat Isra Mikraj #perjalanan Nabi Muhammad SAW