RADARBONANG.ID - Kementerian Agama (Kemenag) Republik Indonesia akan mengadakan perayaan Natal bersama untuk pertama kalinya.
Menurut rencana, perayaan ini akan digelar pada akhir Desember—sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Natal nasional yang dikemas dengan tema “C-LIGHT: Christmas – Love in God, Harmony Together”.
Dikutip dari nasional.kompas.com, Menteri Agama Nasaruddin Umar menyampaikan bahwa inisiatif ini bukan sekadar event seremonial, melainkan wujud komitmen pemerintah dalam menjaga kerukunan umat beragama.
Baca Juga: Uters Dancer Taiwan Sukses Gelar “Formosa Warrior Culture Festival II”
“Selama ini, ada pelaksanaan Natal Kristen dan Katolik, tetapi penyelenggaraan Natal oleh Kementerian Agama belum pernah dilakukan. Tahun ini kita membuat sejarah,” ujarnya.
Tema “C-LIGHT” sendiri dirancang untuk menegaskan nilai kasih, kemanusiaan, dan keharmonisan di tengah keberagaman agama di Indonesia.
Menurut Menag, acara ini akan menjadi sarana memperkuat relasi antarumat beragama, merayakan perbedaan, dan menjunjung tinggi persaudaraan sebagai pondasi bangsa.
Penanda dimulainya rangkaian perayaan Natal tersebut adalah sebuah kegiatan jalan sehat lintas agama yang melibatkan ribuan peserta dari berbagai elemen masyarakat—pegawai Kemenag, tokoh agama Kristen, jemaat, guru dan siswa pendidikan keagamaan Kristen—yang berlangsung di kawasan ibu kota.
Jalan sehat ini tidak sekadar olahraga bersama, tetapi simbol perjalanan bersama dalam membangun persatuan dan kerukunan.
Dalam kesempatan yang sama, Kemenag memperkenalkan logo resmi Natal bersama Kemenag 2025, yang menjadi identitas visual seluruh rangkaian kegiatan hingga puncaknya.
Rangkaian tersebut meliputi ibadah bersama, seminar lintas agama, aksi sosial, peluncuran buku ekoteologi, hingga perayaan puncak di Jakarta.
Seluruh rangkaian dirancang untuk menjangkau berbagai wilayah Indonesia, memperkuat toleransi dan moderasi beragama sebagai pilar kehidupan berbangsa.
Menteri Nasaruddin menekankan bahwa Kemenag memiliki peran strategis dalam merawat keberagaman bangsa.
Ia berharap perayaan Natal bersama ini menjadi bukti bahwa agama bukan pemisah, melainkan jembatan yang memperkuat persatuan Indonesia.
“Tanpa kerukunan, kita tidak dapat menikmati kekayaan negara ini. Maka dari itu, Kementerian Agama harus menjadi motor utama dalam merawat perbedaan,” katanya.
Dia pun mengajak seluruh jajaran Kemenag untuk menegakkan rasa saling menghormati sebagai bagian dari tugas kebangsaan.
Toleransi, menurutnya, bukan hanya konsep, tetapi harus jadi praktik nyata—terlebih oleh lembaga pemerintah yang menjadi simbol antara agama dan negara.
Inisiatif ini menunjukkan bagaimana institusi negara dapat mengambil langkah konkret dalam mendorong moderasi beragama dan menjaga kerukunan.
Baca Juga: Dorong Wisata & Perdagangan, Pemerintah Tetapkan Bebas Visa RI–Afrika Selatan
Di tengah tantangan sosial dan agama yang semakin kompleks, perayaan lintas kepercayaan semacam ini diharapkan menjadi model persatuan dan saling pengertian.
Kemenag sendiri memandang bahwa pelaksanaan ini bukan hanya kegiatan tahunan, melainkan strategi jangka panjang untuk memperkuat nilai persaudaraan nasional.
Dengan merangkul umat beragama dalam satu kegiatan besar, kementerian berharap untuk menegaskan bahwa keberagaman adalah kekayaan, bukan ancaman.(*)
Editor : Muhammad Azlan Syah