RADARBONANG.ID - Pesantren Masyarakat Merapi-Merbabu (PM3) lahir dari semangat para relawan yang turun langsung setelah erupsi Merapi tahun 2010.
Saat itu, Relawan Masjid Indonesia (RMI) melihat banyak dusun di lereng Merapi dan Merbabu yang belum tersentuh bantuan kemanusiaan.
Mereka memutuskan fokus ke wilayah yang belum ramai dijangkau lembaga lain, terutama di kecamatan seperti Sawangan dan Selok.
Relawan tersebut tidak hanya mengadakan bakti sosial dan pengajian, tetapi juga menggalang donasi untuk mendirikan sebuah pesantren.
Baca Juga: Adidas Pamer 22 Jersey Nasional untuk Piala Dunia 2026 — Desain Jepang Menuai Pujian
Tujuannya sangat jelas: membina masyarakat secara berkelanjutan melalui pendidikan agama.
Tanah pertama untuk pesantren seluas sekitar 300 meter persegi pun akhirnya dibeli dan diratakan, menandai langkah awal PM3 dibangun.
Lokasi pesantren berada di Jalan Magelang–Boyolali KM 30, Dusun Windusajan, Desa Wonolelo, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang.
Pesantren ini kemudian dijadikan “persemaian kecil” dengan visi besar: mencetak dai dan imam yang tangguh dan siap menyebarkan ajaran Islam ke pelosok negeri.
Perjalanan pendirian PM3 tidak mudah. Para relawan awalnya kesulitan dalam hal dana. Namun, keyakinan mereka diteguhkan dengan dukungan tak terduga: seorang dermawan lama datang, membawa bantuan senilai miliaran rupiah untuk membangun aula dan asrama.
Semangat “Allah Maha Kaya” menjadi pegangan bagi para pendiri, menegaskan bahwa keikhlasan dan kepercayaan dapat membuka jalan.
Di tengah proses pembangunan, PM3 sempat diterpa isu miring. Beberapa orang menyebut pesantren tersebut sebagai sarang radikalisme.
Merespons tuduhan ini, pengasuh pesantren menggelar tabligh akbar dan mengundang tokoh polisi untuk menjelaskan bahwa aktivitas mereka murni keagamaan. Hal ini berhasil membalikkan persepsi sebagian warga.
Lebih dari sekadar pendidikan agama, PM3 juga berperan aktif dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Mereka meluncurkan program pinjaman tanpa riba untuk petani lokal. Banyak warga yang sebelumnya terjerat utang rentenir kini dapat menanam sayur dengan modal terbatas dan tanpa beban bunga.
Hingga kini, ada ratusan nasabah pinjaman di beberapa dusun sekitar pesantren.
Pesantren ini juga membangun kedekatan dengan warga melalui kegiatan sosial: buka puasa bersama, kurban, dan turnamen bola voli antar-dusun yang melibatkan banyak klub lokal.
Kegiatan-kegiatan ini memperkuat ikatan antara pesantren dan komunitas sekitarnya.
Dalam hal pendidikan, PM3 menyediakan program enam tahun untuk santri laki-laki setelah SD/MI.
Kurikulumnya mencakup ilmu agama (tauhid, hadits, fiqih, sirah), Al-Qur’an, bahasa Arab, serta dakwah.
Tidak kalah penting, mereka juga mengajarkan mata pelajaran umum seperti bahasa Indonesia, Inggris, dan matematika.
Selain itu, ada modul kewirausahaan dalam kurikulum yang sangat komplet: santri belajar dasar wirausaha, karakter pengusaha muslim, studi lapangan, magang, hingga praktik usaha dengan pendamping mentor.
Kegiatan ekstrakurikuler pun variatif, mulai dari memanah, bela diri, hingga pelatihan public speaking dan relawan masjid.
PM3 membuka pendaftaran bagi mahasiswa pasca-SMA untuk program kaderisasi dai, imam masjid, serta daiyah.
Program ini dirancang untuk mencetak pemimpin dakwah yang tidak hanya ahli agama tetapi juga peka terhadap masyarakat.
Secara keseluruhan, PM3 bukan hanya sekadar pondok pesantren biasa: ini adalah proyek jangka panjang.
Relawan yang mendirikan pesantren ini ingin membangun generasi yang kompeten dalam agama dan kehidupan sosial, siap menyebarkan kebaikan dan memahami tantangan zaman.
Dengan fondasi yang kuat — antara dakwah, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat — pesantren ini diharapkan menjadi ujung tombak perubahan positif di lereng Merapi dan Merbabu.(*)
Editor : Muhammad Azlan Syah