Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Inilah Ponpes Salaf Terbesar di Indonesia! Ribuan Santri dan Ekonomi Mandiri Tanpa Sentuhan Modernitas

Tulus Widodo • Kamis, 10 Juli 2025 | 03:05 WIB
Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan.
Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan.

RADARBONANG.ID — Di tengah arus globalisasi dan modernisasi teknologi yang kian deras, satu pesantren salaf tetap berdiri tegak sebagai mercusuar tradisi Islam klasik di Indonesia: Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan, Jawa Timur.

Dikenal luas sebagai pondok pesantren salaf terbesar dan tertua di Indonesia, Sidogiri menjadi simbol kejayaan pendidikan Islam tradisional—tanpa meninggalkan nilai-nilai asli pesantren, tanpa gempita digital, tapi tetap unggul dan mandiri.

Didirikan pada tahun 1745 oleh Sayyid Sulaiman, keturunan Rasulullah SAW yang datang dari Hadramaut, Sidogiri hingga kini tetap konsisten menjaga ajaran Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyyah, terutama dalam pendekatan ilmu-ilmu fikih, tauhid, dan tasawuf klasik melalui kitab kuning.

Apa Itu Pesantren Salaf?

Pondok pesantren salaf merujuk pada pesantren yang memegang teguh metode klasik: mengkaji kitab-kitab kuning berbahasa Arab karya ulama terdahulu, menggunakan sistem sorogan, bandongan, dan halaqah, serta menjadikan akhlak dan adab sebagai poros utama pendidikan.

Pesantren salaf tidak mengejar gelar formal, tidak fokus pada ijazah atau kurikulum sekolah umum, tetapi menitikberatkan pada penguasaan ilmu agama, akhlakul karimah, dan kemandirian santri.

Sidogiri: Salafiyah yang Mandiri, Berjaringan Luas, dan Tetap Dicintai Umat

Saat ini, jumlah santri Sidogiri mencapai lebih dari 10.000 orang, menjadikannya sebagai pesantren salaf terbesar dari segi populasi aktif.

Ribuan santri ini datang dari seluruh pelosok nusantara—dari Aceh, NTB, Kalimantan hingga Papua—membuktikan luasnya pengaruh Sidogiri sebagai kiblat keilmuan Islam tradisional.

Yang membuat Sidogiri istimewa adalah sistem kemandiriannya:

Memiliki koperasi besar: Koperasi Sidogiri (Kopsyah) yang omzetnya mencapai ratusan miliar rupiah tiap tahun.

Menerbitkan media internal: Majalah Ittihad dan berbagai buletin ilmiah salafiyah.

Sistem pengajaran internal tanpa ketergantungan pada bantuan pemerintah atau kurikulum nasional.

Fakta Unik: Di Sidogiri, penggunaan ponsel pintar dan akses internet oleh santri sangat dibatasi, sebagai bagian dari proteksi moral dan fokus pada ilmu agama.

Pengajaran Murni Kitab Kuning dan Ulama Salaf

Pesantren Sidogiri tetap konsisten mengajarkan kitab-kitab rujukan klasik seperti Fathul Mu’in, Taqrib, Tafsir Jalalain, Aqidatul Awam, dan Minhajut Thalibin.

Pengajarnya adalah para kiai khos yang berkompeten dan disegani, yang telah mengabdi puluhan tahun dalam tradisi keilmuan.

Sidogiri juga dikenal sebagai tempat pengkaderan ulama-ulama salaf yang disegani, banyak di antara alumni yang menjadi kiai besar di berbagai penjuru Indonesia, bahkan pimpinan pondok pesantren baru.

Berlokasi di Kraton, Pasuruan, Jawa Timur, Sidogiri berada dalam bentang sejarah pesantren tua dan jalur dakwah utama.

Pesantren ini punya jaringan alumni yang tergabung dalam IKBASS (Ikatan Keluarga Besar Alumni Santri Sidogiri) yang aktif di dunia dakwah, pendidikan, ekonomi, hingga sosial-politik.

Pondok Pesantren Sidogiri bukan sekadar tempat menimba ilmu, tapi menjadi kawah candradimuka pembentuk karakter, iman, dan akhlak santri.

Dengan pola hidup sederhana, penuh disiplin, dan menjauhi glamor dunia digital, Sidogiri tetap eksis dan bahkan semakin dicari oleh para pencari ilmu yang rindu ketulusan dan keberkahan.

Di saat banyak lembaga pendidikan berlomba-lomba digitalisasi, Sidogiri tampil beda dengan mempertahankan keaslian dan jati diri pesantren salaf.

Dalam kesunyian kitab dan sujud, mereka mencetak pejuang akhlak dan ilmu, bukan sekadar pencari gelar. (*)

Editor : Amin Fauzie
#pondok pesantren salaf terbesar dan tertua di Indonesia #Salafiyah #pendidikan Islam tradisional #Pengajaran Murni Kitab Kuning #Sidogiri