Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Asal Usul Azan Bermula dari Kisah Mimpi Abdullah ibn Zaid ibn Tsa'labah

Amin Fauzie • Minggu, 22 Juni 2025 | 05:35 WIB
Abdullah ibn Zaid ibn Tsa
Abdullah ibn Zaid ibn Tsa

RADARBONANG.ID – Dalam sejarah Islam, banyak peristiwa penting terjadi melalui petunjuk ilahi, salah satunya datang melalui mimpi seorang sahabat mulia, Abdullah ibn Zaid ibn Tsa’labah.

Dia adalah sahabat dari kalangan Anshar, berasal dari suku Khazraj, keturunan Bani Haritsi, dan dikenal dengan nama kunyah Abu Muhammad.

Abdullah ibn Zaid bukan sekadar nama dalam sejarah.

Dia termasuk sahabat yang ikut dalam Baiat Aqabah kedua, sebuah momen penting dalam awal perjuangan dakwah Islam.

Saat itu, ia hadir bersama lebih dari 70 orang kaum Anshar, dan menyaksikan langsung pengangkatan dua belas pemimpin dari masing-masing kabilah.

Tak hanya itu, Abdullah ibn Zaid juga turut serta dalam Perang Badar, menyaksikan langsung kehancuran kaum Quraisy di medan tempur.

Dia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Allah memenangkan kaum muslimin atas musuh-musuh mereka yang pongah dan angkuh.

Mimpi Tentang Azan yang Mengubah Sejarah

Namun, peristiwa terpenting dalam hidupnya bukanlah medan perang, melainkan sebuah mimpi yang menjadi bagian dari syiar Islam hingga hari ini: azan.

Dalam sebuah riwayat yang disebutkan oleh Muhammad ibn Ishaq, melalui jalur Muhammad ibn Ibrahim ibn al-Harits al-Taimi dari Muhammad ibn Abdullah ibn Zaid, dikisahkan bahwa suatu pagi Abdullah ibn Zaid datang menghadap Rasulullah SAW dan menyampaikan mimpinya.

"Di pagi hari aku menemui Rasulullah dan kuceritakan mimpiku," katanya.

Rasulullah menjawab, “Ini adalah mimpi yang benar. Berdirilah bersama Bilal, karena ia memiliki suara yang lebih lantang. Sampaikan padanya apa yang kau dengar dalam mimpi, dan biarlah ia menyerukan kalimat-kalimat itu.”

Abdullah pun menyampaikan isi mimpinya kepada Bilal, yang kemudian menyerukan azan untuk pertama kalinya di hadapan kaum muslimin.

Tak lama setelah azan pertama itu dikumandangkan, Umar ibn al-Khattab datang menghampiri Rasulullah SAW dengan penuh haru.

“Wahai Rasulullah, demi Zat yang telah mengutusmu dengan kebenaran, aku juga pernah mendengar kalimat-kalimat itu dalam tidurku,” kata Umar sambil mengangkat selendangnya.

Rasulullah pun menjawab, “Segala puji hanya bagi Allah. Seperti itulah ketetapannya.”

Peristiwa ini menjadi tonggak penting dalam sejarah Islam.

Dari mimpi Abdullah ibn Zaid, azan menjadi metode pemanggil shalat yang terus bergema hingga hari ini di seluruh penjuru dunia Islam.

Menurut sejarawan al-Thabari, Abdullah ibn Zaid ibn Abdi Rabbih wafat pada tahun 32 Hijriyah.

Dia dikenal dalam sejarah sebagai sahabat yang memimpikan azan, dan kisahnya disebutkan dalam riwayat al-Tirmidzi, meskipun tidak banyak hadis lain yang diriwayatkan darinya.

Semoga Allah SWT merahmatinya dan menempatkannya di sisi-Nya yang paling mulia.

Dari kisahnya, kita belajar bahwa ketaatan, keikhlasan, dan petunjuk Allah bisa datang melalui jalan yang tak terduga, bahkan lewat mimpi seorang hamba yang tulus. (*)

Editor : Amin Fauzie
#Abdullah ibn Zaid ibn Tsa labah #Bermimpi tentang Azan #perang badar #sejarah islam