RADARBONANG.ID - Al-Abbas bin Abdul Muthalib bukan hanya sekadar paman Rasulullah Muhammad SAW, tetapi juga salah satu sosok penting dalam sejarah Islam.
Lahir dua tahun lebih tua dari Rasulullah, ia dikenal sebagai penjaga Ka'bah dan penyedia air minum bagi jamaah haji pada masa Jahiliah.
Sosoknya tak hanya berperan dalam keluarga, namun juga tampil dalam berbagai peristiwa penting dalam perjuangan Islam.
Al-Abbas lahir dari pasangan Abdul Muthalib bin Hasyim dan Nutailah binti Janab.
Kisah masa kecilnya cukup menyentuh, ketika ia sempat hilang dan ibunya bernazar akan menyelimuti Ka'bah dengan kiswah dari sutera jika sang anak ditemukan.
Nazar itu pun ditunaikan setelah Al-Abbas ditemukan dalam keadaan selamat.
Sebelum Islam menyebar, Al-Abbas telah dipercaya sebagai takmir Ka'bah dan memiliki tanggung jawab menyediakan air bagi jamaah haji.
Posisi ini menunjukkan besarnya kepercayaan masyarakat Quraisy kepadanya.
Meskipun belum masuk Islam secara terang-terangan pada masa awal dakwah, Al-Abbas turut menghadiri Baiat Aqabah Kedua.
Dia menyampaikan pesan penting kepada kaum Anshar, menegaskan bahwa Muhammad adalah sosok yang dihormati dan dilindungi oleh kaumnya, dan ia meminta agar kaum Anshar benar-benar siap menanggung konsekuensi dari janji mereka.
Setelah mendengar kesiapan kaum Anshar dalam urusan perang dan persenjataan, wajah Al-Abbas berseri.
Dia menyadari bahwa kaum Anshar memang benar-benar tulus dan siap berjuang bersama Rasulullah.
Perang Badar dan Perjalanan Keislaman
Pada Perang Badar, Al-Abbas berada di pihak Quraisy, meski sebenarnya ia tidak ingin memerangi Rasulullah. Dia akhirnya tertawan oleh kaum Muslimin.
Rasulullah yang mengetahui situasi pamannya merasa gelisah ketika mendengar rintihan Al-Abbas karena ikatan tali yang kuat.
Rasul pun memerintahkan agar ikatannya dilonggarkan, bahkan menyuruh para sahabat untuk memperlakukan semua tawanan dengan baik seperti itu.
Setelah peristiwa tersebut, Al-Abbas menebus dirinya dan dua saudaranya. Dia pun menyatakan masuk Islam.
Ada riwayat yang menyebutkan bahwa sebenarnya ia telah memeluk Islam sebelumnya, namun menyembunyikannya demi strategi dakwah dan informasi.
Hijrah dan Peran Setelah Masuk Islam
Meski ingin hijrah, Rasulullah memintanya tetap tinggal di Makkah, karena masih dibutuhkan untuk memberikan informasi penting.
Setelah mendapat izin, Al-Abbas akhirnya berhijrah ke Madinah dan bergabung dalam rombongan penaklukan Kota Makkah.
Ia juga turut serta dalam Perang Hunain, di mana ia tetap berdiri di sisi Rasulullah saat banyak kaum Muslim melarikan diri.
Rasulullah sangat mencintai dan menghormatinya.
Beliau pernah bersabda bahwa siapa yang menyakiti Al-Abbas berarti telah menyakiti dirinya.
Bahkan dalam hadis disebutkan bahwa tempat Al-Abbas di surga adalah sebagai mukmin di antara dua kekasih, yakni Rasulullah dan Nabi Ibrahim.
Setelah Wafatnya Rasulullah SAW
Pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab, saat terjadi kekeringan panjang, Khalifah Umar bertawasul kepada Allah dengan memohon hujan melalui perantara Al-Abbas.
Tak lama kemudian hujan pun turun, dan masyarakat pun menyebutnya sebagai “pemberi minum dua tanah haram.”
Al-Abbas juga dikenal sangat dermawan. Ia pernah memerdekakan 70 budak.
Ketika menjadi tawanan Perang Badar, hanya kain milik Abdullah bin Ubay yang cukup untuk menyelimutinya.
Uniknya, saat Abdullah bin Ubay wafat, kain itu kembali digunakan sebagai kain kafan.
Al-Abbas memiliki sepuluh putra laki-laki, termasuk Al-Fadhal dan Abdullah.
Ia wafat di Madinah pada usia 88 tahun dan dimakamkan di Baqi.
Khalifah Utsman bin Affan turut menyolatkan jenazahnya.
Umat Islam mengenang Al-Abbas sebagai sahabat yang tulus, paman Rasulullah yang bijak, dan sosok Quraisy yang paling dermawan dan menjunjung tinggi tali silaturahmi.(*)
Editor : Amin Fauzie