RADARBONANG.ID - Raden Gagar Manik, yang juga dikenal sebagai Raden Panotoseto atau Syekh Sulaiman, memiliki garis keturunan bangsawan.
Beliau adalah anak dari Mas Jelang (Panembahan Sedo ing Krapyak dari Mataram) dan cucu Pangeran Benowo dari Kesultanan Pajang.
Raden Gagar Manik juga dikenal memiliki hubungan dengan Empu Supa, seorang pembuat keris terkenal yang menghasilkan keris pusaka seperti Sengkelat.
Perjalanan hidupnya menarik karena dimulai sebagai panglima perang Mataram dengan tugas menaklukkan Kadipaten Tuban.
Namun, keramahan warga Tuban mengubah hatinya.
Beliau justru memilih menetap di sana dan berguru pada Syekh Ibrahim Asmoro Qondi, seorang wali besar yang dimakamkan di Gesikharjo, Palang.
Tak hanya menetap, Raden Gagar Manik menjadi pelindung rakyat Tuban dari ancaman serangan, sehingga mendapat julukan “Tundung Musuh”.
Awalnya, makam Raden Gagar Manik terletak sekitar 300 meter dari garis pantai.
Namun, karena ancaman abrasi, seorang peziarah meminta agar makam dipindahkan ke Dusun Klamber, Desa Tasikmadu, Kecamatan Palang.
Menariknya, saat proses pemindahan berlangsung, jasad Raden Gagar Manik ditemukan dalam kondisi utuh meski telah berabad-abad berlalu, menambah keyakinan masyarakat akan karomah beliau.
Hanya batu nisan bagian kaki yang dipindahkan. Sementara nisan lainnya, yang berada di tengah laut, sulit ditemukan bahkan saat air surut.
Daya Tarik Wisata Religi Makam Tundung Musuh
Makam ini menjadi destinasi ziarah bagi warga Tuban dan peziarah dari luar daerah, seperti Bojonegoro, Rembang, hingga Sumatra dan Kalimantan.
Banyak yang percaya bahwa berdoa di makam ini dapat mendatangkan keberkahan, seperti kelancaran rezeki, jodoh, hingga perlindungan dari santet.
Namun, penting untuk diingat bahwa semua doa tetap ditujukan kepada Allah SWT, dengan Raden Gagar Manik sebagai perantara spiritual.
Selain nilai spiritual, suasana sekitar makam yang asri dan dekat pantai memberikan kedamaian bagi siapa saja yang berkunjung.
Pelajaran dari Kisah Raden Gagar Manik
Kisah beliau mengajarkan pentingnya kebaikan hati dan kepedulian terhadap sesama.
Dari seorang panglima yang ditugaskan menaklukkan, Raden Gagar Manik berubah menjadi pelindung rakyat, membuktikan bahwa harmoni dan kedamaian lebih abadi dibandingkan konflik.
Makamnya kini menjadi simbol spiritual dan persatuan masyarakat. (*)
Editor : Amin Fauzie