RADARBONANG.ID - Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, ada satu tempat di Desa Gesing, Kecamatan Semanding, yang masih tetap tenang dan penuh makna.
Makam Sunan Geseng ini bukan cuma jadi saksi bisu sejarah, tapi juga jadi magnet ziarah yang selalu dikunjungi oleh peziarah dari berbagai penjuru.
Seperti halnya makam Sunan Bonang yang memiliki beberapa lokasi yang dipercaya sebagai tempat peristirahatan terakhirnya, makam Sunan Geseng juga memiliki beragam versi lokasi.
Salah satu versi menyebutkan bahwa makam Sunan Geseng terletak di Desa Gesing, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban, Jawa Timur ini.
Versi lain mengaitkannya dengan Dusun Jolosutro, Kecamatan Piyungan, Kabupaten Bantul, Yogyakarta.
Ada pula yang meyakini lokasinya di dekat Pantai Parangtritis, Yogyakarta, serta di Desa Tirto, di kaki Gunung Andong—dekat Gunung Telomoyo, Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.
Menariknya, terlepas dari perbedaan lokasi tersebut, makam Sunan Geseng selalu berada di kawasan hutan.
Sunan Geseng: Ulama dengan Kisah dan Nama yang Sarat Makna
Nama Sunan Geseng, atau yang aslinya bernama Cokrojoyo, mungkin membuat banyak orang bertanya-tanya.
Mengapa 'Geseng'? Nama yang unik ini sebenarnya penuh arti dan berasal dari Sunan Kalijaga, salah satu wali yang sangat dihormati dalam Wali Songo.
'Geseng' sendiri berarti gosong atau terbakar hingga hitam, dan gelar ini diberikan kepada Sunan Geseng sebagai tanda atas kesetiaan dan keteguhan hatinya yang luar biasa.
Menurut hikayat, suatu hari Sunan Kalijaga meminta Cokrojoyo untuk mengasingkan diri di hutan, fokus beribadah kepada Allah, dan tidak menghentikan ibadahnya apapun yang terjadi.
Di tengah perjalanannya, terjadi kebakaran hebat di hutan tempatnya bersemedi.
Ada versi yang menyebut kebakaran ini terjadi secara alami, sedangkan versi lain mengatakan bahwa Sunan Kalijaga yang menyalakan api untuk menemukan Cokrojoyo di tengah semak belukar.
Ketika api melahap hutan, Cokrojoyo tetap teguh beribadah tanpa bergeming, sesuai pesan Sunan Kalijaga.
Saat api padam, Sunan Kalijaga datang menemuinya dan mendapati tubuh Cokrojoyo yang menghitam karena asap dan api, namun sama sekali tidak terluka.
Atas kejadian ajaib ini, Sunan Kalijaga memberi Cokrojoyo gelar 'Sunan Geseng,' yang artinya terbakar gosong.
Kisah ini mencerminkan karomah dan pengabdiannya yang luar biasa, menjadikan nama 'Geseng' sebagai simbol keteguhan dan kesetiaan seorang wali.
Kesalehan yang Nggak Pernah Mati
Sunan Geseng bukan cuma dikenal karena namanya yang unik, tapi juga karena kesalehannya yang luar biasa.
Dia dikenal luas karena kegigihannya dalam menyebarkan ajaran Islam dengan pendekatan yang lembut dan penuh kasih sayang.
Gak heran sih, makanya makamnya jadi tempat ziarah yang penting banget.
Setiap harinya, makam ini gak pernah sepi dari peziarah yang datang buat berdoa, minta berkah, atau sekadar mengenang jasa-jasanya dalam menyebarkan Islam di Jawa.
Peringatan Haul: Momen Istimewa yang Menyemarakkan Desa Gesing
Setiap tahun, peringatan haul Sunan Geseng di Desa Gesing selalu jadi momen yang ditunggu-tunggu.
Ribuan orang datang buat mengenang dan menghormati jasa-jasanya.
Acara ini gak cuma soal berziarah, tapi juga jadi ajang silaturahmi yang mempererat hubungan antarwarga dan meningkatkan keimanan mereka.
Dari sana, suasana desa jadi makin hangat dan penuh semangat kebersamaan. Keren banget kan?
Dengan segala keunikan dan nilai historisnya, makam Sunan Geseng memang layak jadi salah satu destinasi yang harus dikunjungi. (*)
Editor : Amin Fauzie