Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Kisah Sunan Jejeruk: Karomah Sunan Bonang hingga Lahirnya Ulama-Ulama Besar Lasem

Amin Fauzie • Rabu, 4 September 2024 | 01:37 WIB
Ilustrasi kisah Sunan Jejeruk dan karomah Sunan Bonang
Ilustrasi kisah Sunan Jejeruk dan karomah Sunan Bonang

RADARBONANG.ID - Kisah perjalanan Sunan Bonang sebagai seorang waliyullah selalu menarik untuk dibahas.

Salah satu kisah yang cukup menonjol adalah tentang kelahiran seorang tokoh agama di Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, yang dikenal sebagai Sunan Jejeruk.

Kisah Sunan Jejeruk memiliki kaitan erat dengan banyak cerita tentang karomah Sunan Bonang.

Mengenai Sunan Jejeruk, terdapat cerita-cerita yang beredar secara lisan di masyarakat.

Kisah ini juga tercatat dalam buku "Dongeng Rakyat Kabupaten Rembang" karya Kusaeri, YS, sebagaimana yang ditemukan oleh Radar Bonang.

Kisah Sunan Jejeruk

Siapa yang tidak mengenal Mbah Sunan Jejeruk? Ia adalah seorang sultan dari Minangkabau yang dengan penuh kesadaran memilih meninggalkan tahtanya dan melepaskan gelar sebagai raja.

Ia rela hidup di hutan sebagai orang biasa demi memperdalam pemahaman tentang agama Islam hingga akhir hayatnya.

Dikutip dari laman r2brembang.com, terdapat dua versi cerita mengenai bagaimana Sultan Minangkabau akhirnya tiba di Desa Bonang, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, yang pada abad ke-15 menjadi pusat penyebaran agama Islam oleh Sunan Bonang.

Versi pertama diungkapkan oleh Abdullah Hamid, seorang pegiat sejarah Lasem, yang menyebut bahwa tujuan awal Sultan Mahmud sebenarnya adalah Sulawesi. Namun, kapalnya justru berlabuh di Desa Bonang, Lasem.

Versi kedua, yang lebih populer sebagai cerita lisan di masyarakat, menyebutkan bahwa setelah ayahnya wafat, Sultan Mahmud menerima warisan sebuah kitab. Sayangnya, ia tidak mampu mengartikan isi kitab tersebut.

Dalam artikel kali ini, Radar Bonang mengisahkan perjalanan Sunan Jejeruk berdasarkan versi kedua yang lebih dikenal oleh masyarakat.

Sunan Jejeruk, yang nama aslinya adalah Raden Abdur Rachman, juga dikenal sebagai Sultan Mahmud Minangkabau, seorang raja dari Kerajaan Minangkabau.

Kisah ini dimulai ketika ayah Sultan Mahmud wafat, dan ia mewarisi sebuah kitab dari leluhurnya. Namun, Sultan Mahmud tidak mampu memahami atau mengartikan isi dari kitab tersebut.

Di tengah kegundahannya, terdengarlah kabar bahwa di tanah Jawa, di wilayah Kerajaan Lasem terdapat seorang Sunan yang pandai mengartikan isi berbagai kitab. Sunan yang dimaksud adalah Sunan Bonang.

Maka berangkatlah sang Sultan menemui Sunan Bonang bersama Patih dan beberapa pengawal raja lainnya.

Tak lupa, kitab warisan leluhur yang akan dimintakan kepada sang Sunan untuk membacakan dan mengartikannya juga turut dibawa.

Dengan naik perahu besar berangkatlah Sultan Mahmud beserta rombongannya.

Namun, di tengah perjalanan mereka banyak mengalami gangguan, di antaranya tiupan angin yang sangat kencang dan terpaan ombak besar.

Dan dalam perjalanan yang hampir sampai di tujuan, tiba-tiba kapal yang mereka tumpangi nyaris terguling, barang bawaannya termasuk kitab warisan tumpah tercebur ke laut.

Peristiwa tersebut membuat hati sang Sultan benar-benar galau, hingga terbersit kembali pulang ke negerinya.

Di tengah kegalauannya tersebut, sang Patih menyarankan agar tetap melanjutkan perjalanan sesuai dengan tujuan semula.

Pertimbangan sang Patih, seandainya kembali pulang pun mungkin akan kehabisan bekal di tengah perjalanan, lagi pula tempat yang akan dituju sudah hampir sampai.

Setelah sampai di tujuan dan mendarat di pesisir Binangun, Sultan Mahmud beserta rombongan segera menghadap Sunan Bonang.

Ia kemudian menceritakan niat dan tujuannya bertemu dengan Sunan, termasuk tentang kitab yang dibawanya yang akhirnya terjatuh ke laut.

Begitu mendengar penuturan dari Sultan Mahmud, tiba-tiba Sunan Bonang mengeluarkan sebuah kitab dari dalam saku besarnya. Kitab itu kemudian diperlihatkan kepada Sultan Mahmud.

Alangkah terkejutnya sang Sultan, setelah diperhatikan ternyata kitab tersebut benar-benar adalah kitab yang dulu pernah dimilikinya dan telah jatuh ke laut.

Sultan Mahmud pun segera melepas pakaian kebesarannya dan mengambil sikap akan bersujud di hadapan Sunan Bonang.

Ia menilai bahwa Sunan Bonang ternyata adalah seseorang yang memiliki karomah luar biasa, guru besar yang patut dihormati.

Melihat sikap sang Sultan, Sunan Bonang segera buru-buru mencegahnya.

Dan Akhirnya sang Sultan hanya mampu tercengang dan berdiri terpaku tak bergerak sedikit pun.

Sikap Sultan Mahmud seperti itu jika diucapkan dalam bahasa Jawa berbunyi, Nggejejer Theruk-Theruk. Dan Istilah Jejeruk berasal dari kata Jejer=berdiri dan theruk-theruk=terdiam.

Setelah terjadinya peristiwa itu, Sultan Mahmud bertekat untuk tidak kembali ke negeri asalnya.

Ia berguru kepada Sunan Bonang dan rela melepaskan jabatannya sebagai seorang raja di negerinya.

Dan melalui sang Patih yang diperintahkan untuk kembali bersama para pengawal, jabatan sultan akhirnya diserahkan kepada adiknya.

Sultan Mahmud juga berpesan kepada sang Patih untuk memberi pilihan kepada istrinya yang tinggal di negeri asalnya.

Sang istri diberi kebebasan untuk memilih apakah ingin menyusul Sultan atau tetap tinggal di Minangkabau.

Singkat cerita, sang istri akhirnya memutuskan untuk ikut menyusul sang Sultan.

Kedatangan istri Sultan Mahmud diterima dengan baik oleh Sunan Bonang. Apalagi, istri Sultan Mahmud juga bertekat menjadi murid Sunan Bonang seperti suaminya.

Sepasang suami-istri mantan Sultan dan Permaisuri itu pun tekun mempelajari semua ilmu agama yang diajarkan.

Keduanya membuktikan tekad mereka dengan tidak kembali ke negeri asalnya hingga akhir hayat.

Setelah Sultan Mahmud dan istrinya wafat, jasad mereka dimakamkan di desa setempat.

Itulah kisah Sunan Jejeruk dan istrinya yang tak lepas dari kehebatan karomah Sunan Bonang hingga membuat mereka rela melepaskan kebesarannya sebagai seorang raja dan permaisuri untuk menempa ilmu agama pada sang Sunan.

Hingga kini pusara makam Sunan Jejeruk menjadi salah satu objek wisata religi yang sangat dihormati, baik oleh penduduk setempat maupun masyarakat dari berbagai daerah.

Pusara makamnyaberada di puncak perbukitan, tepatnya sebelah timur Desa Bonang atau berjarak sekira 0,5 kilometer dari jalur Pantura Pasujudan Sunan Bonang.

Sedangkan haul Mbah Sunan Jejeruk, biasanya digelar tiap hari Jum’at Wage bulan Apit (Dzulqa’dah).

Dari Sunan Jejeruk Lahir Ulama-Ulama Besar di Lasem

Dalam perjalanan hidupnya menempa ilmu sebagai murid Sunan Bonang, Sunan Jejeruk memiliki beberapa keturunan.

Dan dari keturunan Sunan Jejeruk, lahirlah sejumlah ulama-ulama besar di Lasem.

Salah satu keturunan beliau yang terkenal adalah Mbah Ma’shum Lasem, seorang kiai (ulama) yang terkenal pada zamannya.

Secara genealogis, Mbah Ma’shum masih memiliki hubungan darah dengan Sultan Mahmud dari Kesultanan Minangkabau.

Urutan silsilah Mbah Ma’shum dari jalur sang ayah, adalah Muhammad Ma’shum bin Ahmad bin Abdul Karim bin Muzahid, hingga Sultan Mahmud alias Sultan Minangkabau.

Ulama-ulama besar di Lasem lainnya dari keturunan Sunan Jejeruk adalah Kiai Masduki dan Kiai Kholil.

Dari mereka pula, lahir tokoh-tokoh ulama sekarang seperti Kiai Zaim Ahmad Maksoem dan Kiai Abdul Qoyyum Mansur atau Gus Qoyyum.  (*)

Photo
Photo
Editor : Amin Fauzie
#kisah #raja minangkabau #Ulama Besar Lasem #Sunan Jejeruk #Waliyullah #Sultan Mahmud #objek wisata religi #karomah sunan bonang