TUBAN-Pada hari Arafah yang bertepatan dengan 9 Dzulhijjah, para jemaah haji melaksanakan wukuf di Padang Arafah.
Selama wukuf atau berdiam di Padang Arafah, mereka dianjurkan untuk berdoa dan berzikir.
Kenapa disebut Hari Arafah?
Dilansir dari NU Online, Ustadz Sunnatullah, pengajar Pesantren Al-Hikmah Darussalam Kokop Bangkalan menyampaikan pandangan Imam Fakhruddin Ar-Razi dalam Tafsir Mafatihil Ghaib di balik penamaan Hari Arafah:
1. Nabi Adam dan Hawa Bertemu
Dalam pandangan Ar-Razi yang pertama, Hari Arafah menjadi momentum Nabi Adam dan Sayyidah Hawa kembali bertemu setelah sekian lama terpisah dari surga.
Allah mempertemukan pasangan suami istri itu, sehingga keduanya menjadi tahu (arafa) antara satu dengan lainnya.
2. Nabi Adam diajari menjalankan ibadah haji
Disebutkan Ar-Razi, Malaikat Jibril mengajarkan tata cara melakukan ibadah haji kepada Nabi Adam AS.
Ketika sampai di tanah Arafah, Jibril berkata kepadanya, apakah engkau sudah tahu?
” Nabi Adam AS menjawab, “Iya, tahu.” Karenanya, hari itu dikenal dengan hari Arafah (tahu).
3. Nabi Ibrahim mengetahui kebenaran mimpinya
Nabi Ibrahim sempat bingung setelah beberapa kali bermimpi agar menyembelih putranya, Ismail.
Setelah melewatinya, pada hari itu Nabi Ibrahim AS mengetahui (Arafah) kebenaran mimpi untuk menyembelih putranya Ismail.
4. Pertemuan Nabi Ibrahim dengan keluarganya
Nabi Ibrahim AS pergi menuju Syam dan meninggalkan anaknya, Nabi Ismail AS dan istrinya Sayyidah Hajar di Makkah.
Mereka tidak pernah bertemu selama beberapa tahun, kemudian oleh Allah keduanya dipertemukan tepat pada hari Arafah.
5. Nabi Ibrahim mimpi agar menyembelih putranya
Disebut Hari Arafah, karena pada hari itu Nabi Ibrahim AS bermimpi untuk menyembelih putranya Nabi Ismail AS.
6. Jemaah haji menyebut Arafah
Dinamai Hari Arafah, karena pada hari itu orang-orang yang sedang melakukan ibadah haji menamainya dengan kata Arafah ketika berhenti di tanah Arafah.
7. Allah memberi tahu ampunan-Nya
Dijelaskan Ar-Razi bahwa Hari Arafah karena pada hari itu Allah memberitahukan (yata’arrafu) dan memberikan kabar gembira kepada orang-orang yang sedang melaksanakan ibadah haji dengan ampunan (maghfirah) dan rahmat.
Ulama lain menyampaikan pendapat berbeda terkait penamaan Hari Arafah.
Sebagian ulama berpendapat Arafah diambil dari kata i’tiraf (pengetahuan), karena pada Hari Arafah umat Islam mengetahui dan membenarkan Al-Haqq (Allah) sebagai satu-satunya Dzat yang harus disembah, Allah merupakan Dzat Yang Agung.
Pendapat lain menyebutkan bahwa Arafah dari kata Arafa yang mempunyai makna bau yang harum.
Artinya, dengan melaksanakan ibadah haji di Arafah, menunjukkan bahwa orang ingin bertobat kepada-Nya, melepas semua kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan, dan menghindar dari perbuatan dosa.
Dengan demikian, secara tidak langsung orang sedang berusaha untuk mendapatkan surga di sisi Allah, dan kelak akan memiliki bau yang harum di dalam surga. (ds)