TUBAN-Tuban menyimpan banyak situs bernilai spiritual dan historis yang tinggi.
Di antara situs bernilai spiritual dan historis yang tinggi adalah makam Sunan Bejagung Lor dan makam Sunan Bejagung Kidul.
Dua situs bernilai spiritual dan historis yang tinggi ini menjadi bukti penyebaran agama Islam di Tuban dan sekitarnya.
Sunan Bejagung Lor adalah sebutan Syekh Maulana Abdullah Asy’ari. Makam wali ini berlokasi di Desa Bejagung, Kecamatan Semanding.
Syekh Maulana Abdullah Asy’ari adalah seorang ulama besar yang memainkan peran penting dalam menyebarkan ajaran Islam di wilayah Tuban.
Dia dikenal karena kebijaksanaan, keteguhan iman, dan dedikasinya dalam berdakwah.
Makam Sunan Bejagung Lor sering dikunjungi para peziarah yang ingin memohon berkah serta mengenang perjuangan dan pengorbanan sang wali dalam menyebarkan ajaran agama Allah.
Para peziarah biasanya datang untuk berdoa dan berharap berkah dari Syekh Maulana Abdullah Asy’ari.
Kedatangan Syekh Maulana Abdullah Asy’ari ke Tuban dikaitkan dengan hancurnya Kerajaan Pasai di Kutai.
Setelah Pasai hancur, terjadi eksodus besar-besaran mubalig Arab yang dipimpin Syekh Jumadil Kubro.
Pengikutnya, Syekh Ibrohim Asmoro Qondi, Maulana Ishak, Maulana Malik Ibrahim, Maulana Abdullah Asyari Sunan Bejagung dan ulama lainnya.
Sesampai di tlatah Jawa yang menjadi tujuannya, Syekh Jumadil Kubro membagi tugas dakwah. Dia menuju kerajaan Majapahit.
Maulana Ishaq ke Kadipaten Banyuwangi, Maulana Malik Ibrahim ke Gresik.
Sementara Syekh Maulana Ibrohim Asmoro Qondi dan Syekh Maulana Abdullah Asy’ari ditugaskan di Kadipaten Tuban.
Mubalig lainnya ditugaskan di tempat yang berbeda dengan tujuan yang sama, siar ajaran Islam.
Kedatangan Maulana Abdullah Asy’ari di Tuban disambut baik Adipati Tuban Wilwatikta.
Sang Adipati sangat menghormati ulama pendatang tersebut, meski pada saat itu dia belum bisa menerima Islam sebagai agama yang baru.
Bentuk rasa hormatnya kemudian diwujudkan dengan memberikan tanah perdikan (kemerdekaan) di sebuah daerah pegunungan yang saat ini bernama Desa Bejagung, Kecamatan Semanding.
Di daerah inilah Syekh Maulana Abdullah Asy’ari mendirikan sebuah kasunanan dengan nama Kasunanan Bejagung sekitar 1360 M yang pada akhirnya menjadikan beliau dikenal dengan sebutan Sunan Bejagung.
Sunan Bejagung Kidul adalah sebutan Syekh Hasyim Alamuddin. Makam ini juga berlokasi di Desa Bejagung, Kecamatan Semanding.
Sejarah Sunan Bejagung Kidul berawal dari datangnya seorang santri yang dikirim oleh Syeh Jumadil Kubro.
Namanya, Pangeran Kusumohadi yang tidak lain putra Prabu Brawijaya IV atau Prabu Hayam Wuruk dari salah seorang selirnya.
Kusumohadi pergi meninggalkan kerajaan karena tidak menginginkan tahta kerajaan yang saat itu menjadi rebutan antara Pangeran Wirabumi dan Putri Kusuma Wardani.
Setelah diterima sebagai santri Sunan Bejagung, Kusumohadi berganti nama menjadi Hasyim Alamuddin.
Karena alim, sholeh, dan ketauhidannya sangat tinggi akhirnya Kusumohadi diambil menantu Sunan Bejagung. Dia dinikahkan dengan putrinya bernama Nyai Faiqoh.
Melihat kemampuan menantunya dalam mengajarkan agama, Hasyim Alamuddin dipasrahi siar di wilayah Bejagung Kidul.
Sementara Syekh Maulana Abdullah Asy’ari berpindah atau uzlah ke Bejagung bagian utara (Bejagung Lor).
Kedua makam ini jarang diketahui masyarakat awam.
Sunan Bejagung Lor dan makam Sunan Bejagung Kidul menjadi saksi bisu perjuangan menyebarkan ajaran Islam di Jawa.
Kedua aulia ini mengingatkan kita terhadap pentingnya peran ulama dalam menyebarkan ajaran Islam dan membentuk karakter masyarakat.
Mengunjungi kedua makam ini tidak hanya memberikan wawasan sejarah, namun juga memperkaya pengalaman spiritual. (*)
Editor : Amin Fauzie