TUBAN – Tidak semua jemaah haji asal Tuban ketika mabit di Muzdalifah pada puncak haji nanti berada di tanah lapang.
Seiring dengan skema murur atau mabit tanpa turun dari bus yang diterapkan oleh Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi pada ibadah haji tahun ini, kini banyak jemaah haji asal Tuban kategori lanjut usia (lansia) dan risiko tinggi (risti) yang mengajukan murur.
Ketua Kloter 13 Qomaruddin mengatakan, mabit dengan skema murur ini untuk menghindari kepadatan ketika berada di tanah lapang Muzdalifah.
Sehingga kondisi jemaah lansia dan risti tetap aman. Terlebih, tanah lapang di Muzdalifah semakin sempit.
‘’Jika semua jemaah turun dari bus dan berada di tanah lapang, ini cukup membahayakan bagi jemaah lansia dan risti,’’ kata Qomar—sapaan akrabnya kepada Jawa Pos Radar Bonang.
Disampaikan dia, hingga kemarin, jumlah jemaah asal Tuban yang didaftarkan murur sebanyak 38 orang. Semuanya adalah jemaah kategori lansia di atas 60 tahun dan jemaah risti.
‘’Jemaah yang tidak memung kinkan mabit turun dari bus sudah didaftarkan untuk ikut murur,’’ katanya.
Diterangkan Qomar, murur tidak hanya dialami jemaah haji asal Indonesia, termasuk Tuban, tapi juga jemaah dari seluruh dunia.
Sebab, tempat yang tersedia di Muzdalifah memang dibagi rata sesuai jumlah jemaah di tiap negara.
Seperti diketahui, selama ini skema murur juga diterapkan oleh sebagian besar jemaah haji asal Turki dan Afrika.
Selain mendaftarkan untuk murur, tambah Qomar, dua jemaah asal Tuban kategori risti juga didaftarkan untuk safari wukuf.
Sebab, jemaah yang bersangkutan dalam kondisi sakit.
‘’Sebenarnya ada cukup banyak yang memungkinkan untuk daftarkan safari wukuf, tapi dibatasi, sehingga hanya dua jemaah,’’ jelasnya. (fud/tok)
Editor : Amin Fauzie