TUBAN - Puasa Syawal adalah puasa sunnah yang dilakukan selama enam hari setelah Hari Raya Idul Fitri.
Melaksanakan amalan ini dihitung sebagai pahala puasa yang dilipatgandakan oleh Allah Swt.
Hukum puasa Syawal adalah sunnah bagi yang tidak memiliki tanggungan puasa wajib. Puasa Syawal memiliki keutamaan bagi muslim yang mengerjakannya.
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, mengibaratkan pahala puasa Syawal seperti berpuasa satu tahun. Sebagaimana yang dijelaskan dalam hadis berikut.
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
Artinya: "Siapa saja yang berpuasa Ramadhan, kemudian dilanjutkan dengan enam hari di bulan Syawal, maka seperti pahala berpuasa setahun" (HR Muslim).
Terkait hadis di atas, puasa Syawal memiliki keutamaan dimana Allah SWT akan melipatgandakan pahalanya.
Puasa ini hukumnya sunah muakadah dan sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW.
Pelaksanaan puasa Syawal 2024 M /1445 H
Puasa Syawal dapat dilakukan setelah hari Raya Idul Fitri, sebab pada tanggal 1 Syawal atau Idul Fitri diharamkan berpuasa.
Artinya, waktu pelaksanaan puasa Syawal 1445 H / 2024 M adalah pada tanggal 2 hingga 7 Syawal secara berturut-turut.
Berdasarkan Kalender Hijriah Indonesia Tahun 2024 terbitan Kementerian Agama (Kemenag) dan sidang isbat, tahun ini Idul Fitri 1 Syawal 1445 H jatuh pada Rabu, 10 April 2024.
Ini berarti awal puasa Syawal 1445 jatuh pada 11 April 2024.
Dikutip dari laman resmi BAZNAS, Sayyid Sabiq dalam Fiqih Sunnah berpendapat bahwa puasa Syawal boleh dilaksanakan secara berurutan ataupun tidak berurutan.
Namun, yang paling utama adalah secara tidak berurutan. Hukum tersebut dipertegas lagi oleh Mazhab Imam Syafii dan Hanafi, bahwa puasa Syawal lebih utama dilakukan secara tidak berurutan.
Niat puasa Syawal
Dikutip dari laman Kemenag, tata cara puasa sunnah Syawal sama seperti puasa pada umumnya, yaitu dengan menahan diri dari makan dan minum sejak terbit fajar sampai terbenamnya Matahari.
Pada malam hari sebelum puasa Syawal membaca niat sebagai berikut.
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ الشَّوَّالِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma ghadin 'an adâ'i sunnatis Syawwâli lillâhi ta'âlâ.
Artinya: "Aku berniat puasa sunnah Syawal esok hari karena Allah taala."
Akan tetapi karena ini puasa sunnah, maka jika lupa niat pada malam hari boleh niat pada siang harinya. Berikut adalah niat puasa Syawal jika dibaca di siang hari.
نَوَيْتُ صَوْمَ هَذَا اليَوْمِ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ الشَّوَّالِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma hâdzal yaumi 'an adâ'i sunnatisy Syawwâli lillâhi ta'âlâ.
Artinya: "Aku berniat puasa sunnah Syawal hari ini karena Allah taala."