Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Dari Perspektif Islam, Ulama Ponpes Sarang Ungkap Keistimewaan Angka 4

Dwi Setiyawan • Rabu, 27 Maret 2024 - 16:15 WIB

Angka 4
Angka 4


TUBAN- Angka 4 tidak sekadar melambangkan suatu nilai bilangan. Dari perspektif Islam dan sumber-sumber dalilnya, angka ini memiliki keistimewaan.

Ulama di laman Ponpes Al Anwar Sarang, Rembang mengupas keistimewaan angka tersebut.

Dalam Alquran disebutkan jumlah bulan dalam setahun yang memiliki 12 bulan menggunakan kalender Qomariyah.

Dari jumlah bulan tersebut, terdapat 4 bulan yang diistimewakan Allah SWT, yakni bulan Dz. Qo’dah, Dz. Hijjah, Muharram dan Rajab.

Allah berfirman: Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan yang dimuliakan.

Firman tersebut ditafsiri dengan hadis riwayat Imam Bukhori: “Sesungguhnya waktu ini terus berputar seperti halnya awal kali Allah menciptakan langit dan bumi. (dalam) satu tahun terdapat 12 bulan, dan di antara 12 bulan ini ada 4 bulan yang dimuliakan Allah.

Tiga bulan berurutan, Dz. Qo’dah, Dz. Hijjah dan Muharram, dan yang satu lagi tersendiri yakni bulan Rajab.

Dalam kitab Al-Bahru Al-Muhith karangan Imam Ibnu Hayyan Al-Andalusy, bahwa orang Arab pada zaman sebelum Rasulullah SAW diutus, tidak punya penghidupan.

Mereka mencari makanan dari gua-gua terdekat atau dari hasil berburu. Ketika memasuki 4 bulan mulia tersebut, mereka selalu mendapati kesulitan dan kemiskinan.

Dalam keadaan yang seperti ini, ada salah satu keturunan Bani Kinanah yang masih berpegang teguh dengan ajaran Nabi Ibrahim AS, yaitu Bani Fuqaim.

Mereka mengutus salah satu dari anggota keluarga mereka bernama Hudzaifah bin Ubaid bin Fuqaim untuk menulis kembali kalender penanggalan Arab.

Akhirnya ditulislah penanggalan bulan oleh Hudzaifah dengan cara mengubah nama bulan dengan nama bulan setelahnya.

Misalkan bulan Muharram diganti nama menjadi bulan Shafar, dan bulan Shafar diganti dengan nama bulan Rabiul Awal, demikian seterusnya.

Penanggalan ini diwariskan kepada anak turunnya hingga sampai pada cicitnya yang bernama Junadah bin Auf. Pada masa Junadah inilah Islam mulai muncul.

Pada akhirnya tahun-tahun yang dijalani oleh orang Arab pada zaman itu hitungan satu tahunnya berjumlah tiga belas bulan.

Diawali dengan Muharram yang asli kemudian bulan keduanya bulan Muharram yang diubah nama menjadi Shafar.

Dengan demikian, mereka bisa terlepas dari kesengsaraan ketika bertepatan dengan empat bulan mulia tersebut.

Kemudian setelah Rasulullah SAW diutus, penanggalan kalender dikembalikan lagi seperti semula.

Dengan demikian, angka 4 adalah salah satu angka yang istimewa dalam Alquran sekaligus menjadi pilar bagi Alquran. Kesimpulan ini diperkuat dengan keterangan KH Maimoen Zubair dalam salah satu pengajian.

Kiai Maimoen menjelaskan bahwa Alquran memiliki empat pilar dengan menyebutkan ayat di atas.

Dia juga menyampaikan, persamaan Alquran dan Indonesia yang sama-sama memliki empat pilar.

Empat pilar milik Indonesia tersebut sebagai PBNU (struktur kepengurusan tertinggi dalam organisasi NU).

PBNU adalah singkatan dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama milik organisasi NU.  
Menurut KH Maimoen, PBNU memiliki arti spesial yang menjadi 4 pilar bagi Indonesia, yakni Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI Harga Mati, dan Undang-undang Dasar 1945.

Angka 4 juga dikaitkan keberhasilan Rasulullah SAW memberantas empat hal buruk yang dimiliki bangsa Arab.

Sejarah mencatat, bangsa Arab sebelum diutusnya Rasulullah SAW adalah bangsa yang sangat tertinggal.

Empat hal yang menjerat bangsa Arab dalam ketertinggalan tersebut, jahiliyyah (kebodohan), ummiyah (buta huruf), maskanah (kemiskinan), dan ‘adamus aaqafah (tidak memiliki budaya).

Bangsa Arab kala itu tenggelam dalam kebodohan. Mereka melakukan hal-hal yang keluar dari norma dan perikemanusiaan.

Salah satunya, mengubur hidup-hidup anak perempuan karena dianggap sebagai aib keluarga.

Bangsa Arab kala itu juga tidak mengenal huruf dan tidak tahu cara menulis, tidak seperti bangsa-bangsa lain yang sudah mengembangkan huruf abjad dan cara penulisan.

Misalnya saja bangsa Romawi yang sudah memiliki abjad penulisan dengan sebutan Aksara Romawi atau Alfabet Latin yang sudah ada sejak abad ke-7 sebelum masehi.

Ketika bangsa Mesir kuno sudah memiliki sistem penulisan Hieroglif Mesir pada tahun 3000 sebelum masehi dan sudah digunakan selama lebih dari 3000 tahun, bangsa Arab pra-Islam masih tidak mengenal huruf dan tidak tahu cara menulis. Karena itu, Rasulullah diutus untuk memberantasnya.

Allah berfirman: Dialah yang mengutus seorang Rasul kepada kaum yang buta huruf dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (Sunah), meski sebelumnya, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.

Bangsa Arab pra-Islam juga terkenal sebagai bangsa yang terbelenggu oleh kemiskinan dan kelaparan (maskanah), dan terkenal sebagai bangsa yang tidak memiliki kebudayaan (‘adamus saqafah).

Hal ini memaksa mereka untuk melakukan perniagaan ke luar Jazirah Arab untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Secara geografis, bangsa Arab berada di antara wilayah kekaisaran Romawi di sebelah barat, dan wilayah kekaisaran Persia di sebelah timur.

Wilayah Jazirah Arab sebagian besar terdiri dari padang pasir. Wilayah ini  memiliki iklim kering karena berada di wilayah subtropis, sehingga berudara panas dan curah hujan rendah.  

Akibatnya pertanian hanya dapat dilakukan di mata air atau oasis serta sungai besar saja.

Di Jazirah Arab kala itu, lahan pertanian hanya ada di Mesopotamia, nama Republik Irak zaman pra-sejarah, yakni di daerah aliran sungai Tigris dan Eufrat dan di oase-oase seperti kota Makkah, Taif dan Madinah.

Bangsa Arab kala itu juga tidak mempunyai budaya. Tak ada yang namanya baju adat, lagu kebangsaan dan sejenisnya.

Setelah Rasulullah SAW diutus, bangsa Arab berubah 180 derajat. Mereka yang mulanya tertinggal berubah menjadi bangsa yang maju, bangsa yang cerdas, bangsa yang tidak lagi buta huruf.

Kini bangsa Arab memiliki abjad sendiri yang disebut dengan abjad hijaiyah yang mulai dikembangkan sekitar abad ke-6 masehi, dan memiliki teori khusus untuk memahami literarur kata dan kesusastraan bahasanya yang dikenal dengan teori gramatika Arab, nahwu, shorrof, dan balaghah.

Bangsa Arab yang dulunya miskin, tak punya matapencaharian dan dihimpit dua kerajaan besar Romawi dan Persia, setelah datangnya Rasulullah SAW berubah menjadi bangsa yang kaya-raya, menjadi bangsa yang tangguh, hingga dua imperium penguasa kala itu, Romawi dan Persia, takluk oleh bangsa Arab dibawah kepemimpinan Rasulullah SAW.

Setelah Rasulullah SAW berhasil mengalahkan orang Yahudi dalam perang Khaibar dan mengambil kekayaan orang Yahudi, Rasulullah SAW dan para orang Islam mengadakan acara besar sebagai bentuk syukur dengan cara mendatangkan masakan-masakan terkenal dari berbagai penjuru dunia.

Dari perjamuan tersebut, bangsa Arab akhirnya memiliki makanan khasnya seperti nasi bukhari, nasi mandhi, nasi biryani, nasi kabuli dan nasi uzi.

Akhirnya, bangsa Arab juga memiliki budaya yang ikonis dan terkenal di seluruh dunia hingga ditiru oleh bangsa lain, yakni kopyah putih.

Kopyah putih biasa dikenakan sebagai pertanda bagi orang yang telah melaksanakan ibadah haji.

Selain itu Rasulullah SAW juga menyatukan bangsa Arab yang terdiri dari 4 suku, yaitu Jurhum, Qohthon, Baduwi dan Quraisy.

Suku Qohthon dan suku Baduwi adalah suku pribumi tanah Arab. Sedangkan suku Jurhum dan Suku Quraisy adalah suku imigran.

Suku Jurhum berasal dari Yaman yang kemudian bermigrasi ke Arab, sedangkan suku Quraisy adalah keturunan dari bangsa Arya keturunan Nabi Ibrahim yang berasal dari Babilonia, Mesopotamia (Irak kuno). (*)

Editor : Amin Fauzie
#angka 4 #keistimewaan