TUBAN-Di zaman Wali Songo, banyak media yang digunakan untuk berdakwah.
Salah satunya melalui lagu atau tembang. Lagu yang cukup populer adalah Gundul-Gundul Pacul.
Lagu berbahasa Jawa ini diciptakan Sunan Kalijaga.
Seperti tembang atau lagu lain yang diciptakan Wali Songo, lagu Gundul-Gundul Pacul memiliki makna pesan filosofis yang mendalam.
Berikut lirik lagu tersebut dan artinya:
Gundul-gundul pacul-cul, gembelengan
(Gundul=kepala/ plonthos, pacul=cangkul, gembelengan=Sembrono)
Nyunggi-nyunggi wakul-kul gembelengan
(Nyunggi=membawa di atas kepala, wakul=bakul/tempat dari bambu, dan gembelengan=sembrono)
Wakul ngglimpang segane dadi sak latar
(Wakul=bakul, ngglimpang=terguling, segane=nasinya, dadi sak latar=tumpah sehalaman)
Sopan Adrianto pada buku Indonesia Pusaka mengupas makna lagu tersebut sebagai berikut:
Gundul memiliki makna seorang pemimpin yang sudah tidak memiliki mahkotanya.
Sedangkan untuk pacul berasal dari singkatan papat kang ucul, yaitu mata, telinga, hidung, dan mulut.
Lirik lagu pada bait pertama dan kedua menggambarkan seorang pemimpin yang sudah kehilangan atau tidak memiliki mahkotanya, maka mereka juga kehilangan kehormatannya sebagai seorang pemimpin.
Sedangkan lirik gembelengan memiliki arti sikap para pemimpin yang berubah menjadi sombong atau congkak.
Nyunggi wakul artinya membawa tempat nasi atau bisa juga disebut bakul dan ditaruh di atas kepala seseorang.
Lirik tersebut dimaknai banyak pemimpin yang lupa sedang mengemban sebuah amanat yang bisa diibaratkan seperti membawa bakul nasi di atas kepala.
Sedangkan wakul adalah lambang dari kesejahteraan rakyatnya.
Kesejahteraan tersebut merupakan sebuah kekayaan, sumber daya, dan lainnya.
Hal tersebut berarti bahwa kepala adalah sebuah kehormatan yang masih berada di bawah bakul milik rakyat.
Namun, sayangnya masih banyak pemimpin yang bersikap sombong dan angkuh terhadap rakyat yang dipimpinnya. Padahal sebenarnya, kedudukan rakyat lebih tinggi dari pemimpinnya.
Wakul ngglimpang artinya adalah jatuhnya bakul yang berada di atas kepala.
Makna dari lirik ini menggambarkan seorang pemimpin bersikap angkuh dan semena-mena.
Bakul yang jatuh dan berserakan menggambarkan tentang amanah yang mereka bawa.
Ibarat nasi yang sudah tumpah dan berserakan di tanah, tentu nasi tersebut sudah tidak bisa dimakan lagi.
Begitu pula dengan amanah yang diemban seorang pemimpin yang bersifat sombong, tidak akan bertahan lama dan akan gugur semua amanah yang diemban. (*)