Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Perlu Diketahui! Jaga 5 Hal Ini Agar Puasa Tak Hanya Sekadar Lapar dan Dahaga

Dwi Setiyawan • Sabtu, 23 Maret 2024 | 16:05 WIB
Ilustrasi puasa
Ilustrasi puasa

TUBAN-Melaksanakan ibadah puasa Ramadhan tidak hanya didasari keikhlasan karena Allah SWT sesuai petunjuk Rasulullah SAW.

Puasa juga harus dijalankan mengikuti aturan syariat yang tertuang dalam kitab-kitab fikih karya para ulama yang ahli di bidangnya.

Dikutip dari penjelasan ulama di laman Ponpes Lirboyo Kediri, Nabi Muhammad SAW memberikan peringatan keras kepada siapa saja yang melaksanakan ibadah, khususnya ibadah puasa, namun yang menjalankan tidak mendapatkan pahala sama sekali, kecuali hanya rasa lapar dan haus.

Puasanya sah dari segi fikih, namun tidak mendapatkan pahala. Rasulullah SAW bersabda:

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوْعُ وَالْعَطْشُ

Artinya, “Betapa banyak orang yang berpuasa, namun dia tidak mendapatkan dari puasanya kecuali lapar dan dahaga.” (HR. Ahmad).

Ada beberapa hal yang harus kita ketahui supaya ibadah puasa kita diterima oleh Allah SWT dan mendapat pahala:

1. Menahan pandangan

Jangan kita biarkan mata kita melihat hal-hal yang tercela di dunia nyata atau di dunia maya seperti di media sosial.

Terkadang kita bisa menampik godaan dari memandang sesuatu yang tidak terpuji.

Namun, kita menyaksikan tayangan-tayangan yang membatalkan pahala puasa kita dengan menonton video-video yang beredar di dunia maya.

Kita jaga mata kita dari segala perkara yang bisa membuat kita lalai kepada Allah SWT dan menyibukkan hati, terlebih yang bisa memicu syahwat.

Rasulullah SAW bersabda:

النَّظرَةُ سَهمٌ مَسْمُومٌ مِنْ سِهَامِ إِبْلِيسَ فَمَنْ تَرَكَهَا مَخَافَة مِنَ اللهِ أَعْطَاهُ اللهُ بِهَا إِيمَانًَا يَجِدُ حَلاَوَتَهُ في قَلبِه

Artinya :“Pandangan adalah anak panah yang beracun dari Iblis terkutuk. Barang siapa yang menjauhinya karena takut kepada Allah, maka Allah akan menganugerahi manisnya keimanan dalam hatinya.” (HR. Hakim)

2. Menjaga lisan

Kita jaga lisan kita dari perkataan yang tidak berguna, termasuk bicara yang mengandung unsur menggunjing, berdusta, dan adu domba.

Tidak kalah pentingnya menjaga lisan kita dari ucapan-ucapan yang kotor, mengandung permusuhan, provokasi, dan debat kusir.

Mari kita biasakan lisan ini untuk diam seribu bahasa dari segala bentuk ucapan.

Kita jadikan lisan ini basah dengan lantunan zikir kepada Allah SWT, membaca Alquran, atau mengucapkan kata-kata yang baik.

Rasullullah SAW bersabda :

إِنَّ الصَّوْمَ أَمَانَةٌ فَلْيَحْفَظْ أَحَدُكُمْ أَمَانَتَهُ

Artinya :“Sesungguhnya puasa ini adalah amanah. Maka jagalah dengan sebaik-baiknya amanah oleh setiap kalian.”

Bagaimana mungkin kita layak dikategorikan sebagai orang yang berpuasa sementara lisan kita melaknat orang lain, mengeluarkan kata-kata kasar dan seronok, berbohong, bergunjing, mencela, dan memaki?

Bagaimana mungkin kita dianggap berpuasa jika lisan kita menimbulkan fitnah bagi orang lain?

Bagaimana mungkin kita menganggap diri kita sedang berpuasa, sementara lisan kita lupa hari perhitungan?

3. Menjaga telinga
 
Setiap sesuatu yang diharamkan bagi kita untuk mengucapkannya, maka hukumnya juga haram mendengarkannya.

Karena itu, Allah SWT menyamakan dosa antara orang yang menggunjing dengan orang yang mendengarkan gunjingan.

Allah SWT berfirman :

سَمَّاعُونَ لِلْكَذِبِ أَكَّالُونَ لِلسُّحْتِ

Artinya :“Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, banyak memakan yang haram.” (QS. Al-Ma’idah : 42)

Sebagian orang menjejali telinganya dengan lagu-lagu yang membuat lalai kepada Allah SWT dan kata-kata yang mengandung dosa.

Di sisi lain, dia menutupi telinganya dari bacaan-bacaan Alquran yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW untuk didengarkan.

Telinga orang yang tengah berpuasa sudah sepatutnya terjaga untuk mendengarkan yang baik-baik agar membuahkan keimanan, petunjuk, cahaya, dan ketenangan dalam hati.

Jangan sampai menjadi telinga yang mendengarkan kebatilan, sehingga meninggalkan bekas yang batil pula di dalam hati.

4. Menahan anggota badan dari perbuatan dosa

Kita jaga tangan dan kaki, dari hal-hal yang tercela.

Begitu pula kita jaga perut dari makanan-makanan yang syubhat apalagi haram.

Apa artinya menjaga diri dengan puasa dari hal-hal yang dihalalkan seperti makan dan minum, namun kita isi perut dengan makan dan minum yang syubhat atau yang haram.

Puasa perut tidak hanya dari makanan dan minuman di siang hari, namun juga dari makanan dan minuman yang haram, di siang dan malamnya.

Makanan dan minuman yang digolongkan haram adalah hasil riba, menipu, merampas, atau dari harta anak yatim.

Jika makanan didapatkan dengan cara-cara yang haram, maka pikiran menjadi rusak, hati menjadi kasar, dan cahaya kebenaran dalam hati menjadi redup.

5. Kondisikan hati kita takut dan pengharapan.

Tak seorang pun yang bisa mengetahui apakah Allah SWT berkenan menerima ibadah puasa kita atau menolaknya.

Kita takut puasa termasuk yang ditolak. Di sisi lain, kita harus punya harapan kepada Allah SWT disertai husnudzan (prasangka baik) puasa kita diterima oleh Allah SWT. (*)

Jemunak, kudapan buka puasa khas Desa Gunungpring, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang.
Jemunak, kudapan buka puasa khas Desa Gunungpring, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang.
Campuran parutan singkong dan ketan yang sudah direbus ditumbuk hingga halus. Setelah menjadi adonan yang kenyal, Jemunak akan dibungkus menggunakan daun pisang dan siap disajikan.
Campuran parutan singkong dan ketan yang sudah direbus ditumbuk hingga halus. Setelah menjadi adonan yang kenyal, Jemunak akan dibungkus menggunakan daun pisang dan siap disajikan.
Photo
Photo
Photo
Photo
Editor : Amin Fauzie
#puasa #syariat #aturan