Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Tembang Lir-Ilir Karya Sunan Kalijaga. Lirik, Terjemahan, dan Makna Filosofisnya

Dwi Setiyawan • Jumat, 22 Maret 2024 | 01:34 WIB

Ilustrasi Lir Ilir Karya Sunan Kalijaga
Ilustrasi Lir Ilir Karya Sunan Kalijaga


TUBAN-Tembang Lir-Ilir yang diciptakan Sunan Kalijaga memiliki makna filosofis yang mendalam.

Tak banyak yang memahami makna dari tembang yang menggambarkan Islam di  Nusantara yang tatanannya masih sistem kerajaan tersebut.

Sampai sekarang, tembang ini masih abadi lintas generasi.

Surau-surau dan masjid-masjid masih sering mengumandangkannya, bahkan digubah menjadi lagu.

Berikut lirik tembang Lir-Ilir, beserta terjemahannya dalam bahasa Indonesia:

Lir-ilir, lir-ilir
(Bangunlah, bangunlah!)

Tandure wus sumilir
(Tanamannya sudah bersemi)

Tak ijo royo-royo
(sudah hijau-hijau)

Tak sengguh temanten anyar
(Bagaikan pengantin baru)

Cah angon, cah angon
(Anak gembala, anak gembala)

Penekno blimbing kuwi
(Panjatlah (pohon) belimbing itu)

Lunyu-lunyu penekno
(Walau licin, tetaplah kau panjat)

Kanggo mbasuh dodotiro
(Untuk membasuh pakaianmu)

Dodotiro, dodotiro
(Pakaianmu, pakaianmu)

Kumitir bedah ing pinggir
(Terkoyak-koyak di bagian samping)

Dondomono, jlumatono
(Jahitlah, benahilah)

Kanggo sebo mengko sore
(Untuk menghadap nanti sore)

Mumpung padhang rembulane
(Mumpung bulan bersinar terang)

Mumpung jembar kalangane
(Mumpung banyak waktu luang)

Yo surako, surak iyo!!
(Ayo bersorak lah dengan sorakan Iya!!)

Makna Tembang Lir-Ilir

Dikutip dari tebuireng.online, Dr. Muhammad Nasih, pendiri Monash Institute, Semarang menjelaskan, Lir Ilir merupakan tembang politik.

Pesan yang ingin disampaikan Sunan Kalijaga bahwa Islam akan berkembang dengan pesat lewat kekuasaan.

Berikut makna yang dikupas Nasih dari lirik tiap baitnya:
“Lir-ilir, lir-ilir.” Berasal dari kata lilir-lilir yang berarti bangun dari tidur.

Maknanya, adalah orang-orang diperintahkan bangun dari tidur, dan tidur itu berarti sedang dalam keadaan lengah, lupa, tidak sadarkan diri, maka bait pertama ini manusia diperintahkan untuk bangun, bangkit, dan berdiri.

Karena,
“Tandure wus sumilir”, tanamannya sudah tumbuh.

Dulu, masyarakat Jawa merupakan masyarakat yang memeluk agama Hindu-Buddha, animisme, dan dinamisme.

Ketika datang para pendakwah Islam dari berbagai belahan dunia, mulai berubah dan menyembah Allah SWT.

Namun, saat itu, cara mereka menyembah belum sempurna, namun sudah mulai memeluk agama Islam.

Maka itu disebutkan, tanamannya sudah mulai tumbuh. “Tak ijo royo-royo,” sudah hijau-hijau.

Maknanya adalah Islam sudah mulai menyebar luas. Karena warna hijau itu melambangkan warna Islam.

Dalam banyak hadist disebutkan bahwa hijau merupakan warna favorit Rasulullah SAW dan hijau pada era Orde Baru juga menjadi simbol dari partai umat Islam.

“Tak sengguh temanten anyar,” bagaikan pengantin baru. Karena Islam yang sudah mulai menyebar luas dan masyarakatnya juga semangat belajar tentang Islam kala itu.

Semangatnya diibaratkan Sunan Kalijaga seperti pengantin baru, artinya tidak kenal lelah, dan sangat bergairah untuk belajar agama Islam.

“Cah angon-cah angon,” anak gembala-anak gembala. Maksudnya bukan penggembala hewan ternak, namun para pemimpin, para raja di Jawa masa itu.

Karena pemimpin dalam bahasa Arab itu disebut, ar-ra’in, yang juga berarti penggembala.

 “Penekno blimbing kui,”  ambilkan belimbing itu. Buah belimbing itu memiliki lima sisi, seperti bintang.

Ini dianalogikan Sunan Kalijaga sebagai rukun Islam. Maka, makna lengkapnya adalah para pemimpin saat itu diperintahkan untuk menegakkan rukun Islam.

Karena pemimpin memiliki kekuasaan, dan dengan kekuasaannya dapat menegakkan agama Islam secara masif.

“Lunyu-lunyu penekno,” walau licin, tetaplah kau panjat. Artinya dalam menegakkan syariat Islam itu tidaklah mudah dan gampang. Butuh perjuangan. Meski sulit, mereka diminta untuk tetap berjuang menegakkan agama Islam.

“Kanggo mbasuh dodotiro,” untuk membasuh pakaianmu. Pakaian yang dimaksud adalah ketakwaan. Merujuk surah Al-‘Araf ayat 26, pakaian takwa adalah pakaian yang terbaik.

“Dodotiro, dodotiro,” pakaianmu, pakaianmu. Maksudnya adalah ketakwaan umat Islam.

“Kumitir bedah ing pinggir,” terkoyak-koyak di bagian samping. Ketakwaan umat Islam itu masih rusak.

Karena itu, “dondomono, jlumatono”, jahitlah, benahilah ketakwaan dari seluruh umat Islam.

“Kanggo sebo mengko sore,” untuk menghadap nanti sore. Ketakwaan yang dibina umat itu dipersiapkan untuk menghadap kepada Allah SWT.
Lalu kemudian bait-bait akhir dari syair tersebut mengingatkan manusia.

“Mumpung padhang rembulane,” mumpung bulan bersinar terang.

“Mumpung jembar kalangane”, mumpung banyak waktu luang. Artinya selagi masih ada kesempatan dan waktu, maka manfaatkanlah untuk senantiasa memupuk taqwa.

“Yo surako, surak iyo!!” bersoraklah dengan sorakan Iya! Serahkan diri kepada Gusti dengan senantiasa bersyukur. (*)

Photo
Photo
Photo
Photo
Photo
Photo
Editor : Amin Fauzie
#Lir Ilir Karya Sunan Kalijaga #tembang