TUBAN-Sebelum dinyatakan sebagai Makam Sunan Geseng atau Eyang Cakrajaya, makam di tengah hutan Desa Gesing, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban, Jawa Timur tersebut dikenal masyarakat setempat sebagai makam Mbah Punggur.
Sutar, pengurus yang membidangi keamanan makam Sunan Geseng mengatakan, nama Punggur diberikan masyarakat setempat karena area makam berada di dataran tinggi. Semacam bukit kecil.
Dia mengungkapkan, belakangan nama makam Mbah Punggur diubah menjadi Sunan Geseng atau Eyang Cakrajaya setelah KH Murtadji, tokoh Nahdlatul Ulama (NU) Tuban mendapat petunjuk.
‘’Petunjuk tersebut seingat saya didapat Kiai Murtadji pada awal 1980-an,’’ tuturnya.
Setelah makam yang semula merupakan punden Desa Gesing tersebut diketahui sebagai Sunan Geseng, makam yang dulunya hanya memiliki cungkup tanpa dinding keliling tersebut direnovasi.
Di area makam dibangun musala, toilet, hingga tempat parkir kendaraan.
Jalan hutan menuju makam juga diuruk pedel.
Setelah diketahui sebagai makam salah satu wali, pengunjung dari sejumlah daerah pun berdatangan untuk ngalab berkah.
Tak hanya makam wali, Sutar memerkirakan, kawasan hutan di area makam Sunan Geseng merupakan area pemukiman di masa kewalian.
Itu karena radius sekitar 200-300 meter dari area makam bertebaran pecahan keramik kuno.
Pecahan tembikar tersebut tersebar merata mulai sekitar makam hingga area hutan sekitar.
‘’Dulu, saya pernah mengumpulkan pecahan keramik dapat satu timba,’ ujarnya.
Pecahan keramik tersebut memiliki beragam corak dan warna.
Selain pecahan keramik, juga bertebaran pecahan genting dan batu bata kuno.
Belum pernah diteliti asal-muasal keramik, genting, dan batu bata tersebut. Begitu juga era pembuatannya.
Makam Sunan Geseng juga dikelilingi pohon-pohon jati berusia ratusan tahun.
Sebagian besar lingkaran bawahnya dua rangkulan orang dewasa.
Sutar mengungkapkan, pohon-pohon jati tersebut selama ratusan tahun menjadi pelindung makam.
Terbukti, meski berkali-kali ranting dan dahan pohon-pohon tersebut patah dan jatuh, tak satu pun yang mengenai cungkup dan musala makam.
‘’Begitu jauh, ranting dan dahan itu terlempar jauh. Seperti ada kekuatan besar yang melindungi area makam,’’ tuturnnya. (*)