TUBAN-Setelah diciptakan KH R. Muhammad Ali Manshur as-Shiddiqi pada 1960, mahakarya Sholawat Badar digandakan dengan mesin stensil (percetakan di masa itu, Red) menjadi buku kecil dan kemudian dibagi-bagikan.
Kiai Achmad Syakir Ali, putra Kiai Ali Manshur menuturkan, setelah Sholawat Badar diciptakan, terjadi peristiwa besar di rumahnya, Desa Karangrejo, Kecamatan Blimbingsari, Kabupaten Banyuwangi pada 1963.
Kiai Syakir masih mengingat persis momen tersebut karena bertepatan menjelang meletusnya Gunung Agung Bali.
Dia mengisahkan, menjelang tengah malam, puluhan tetangganya mengetuk pintu dapur.
Mereka menanyakan rombongan tamu yang barusan datang. Karena tidak merasa ada tamu di rumahnya, Kiai Ali Manshur kembali bertanya kepada Habib Hadi al Haddar, ulama besar Banyuwangi.
Habib ini pun menjawab kalau yang datang malam itu adalah arwah para ahli Badar Radhiyallahu Anhum (RA).
Begitu taatnya warga terhadap Kiai Ali Manshur, tanpa diperintah, dini harinya, mereka membawa bahan makanan mentah untuk dimasak.
‘’Ketika itu, ayah tidak tahu siapa tamu akan datang,’’ kenang putra kedua Kiai Ali Manshur itu.
Menjelang matahari terbit, datang rombongan orang berjubah putih-hijau yang dipimpin Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsi dari Kwitang, Jakarta.
Dia masih ingat mobil yang ditumpangi orang berjubah tersebut berjumlah sekitar seratus mobil.
‘’Berbarisnya seratus mobil pada masa itu sangat luar biasa,’’ kata Kiai Syakir.
Begitu banyak mobil yang datang, parkirnya mencapai 500m hingga ke Pangklang.
Selain berbaris memanjang di sepanjang tepi jalan, sebagian mobil masuk pekarangan rumah warga.
Setelah membuka pembicaraan, Habib Ali bin Abdurrahman langsung menanyakan syiir yang dibuat ayahnya.
‘’Setelah menunjukkan kertas syiir yang ditulisnya, abah membacakannya,’’ tutur Kiai Syakir.
Setelah mendengar Kiai Ali Manshur melantunkan Sholawat Badar, kata dia, para habib meneteskan air mata karena terharu. (*)
Editor : Amin Fauzie