TUBAN-Di rumah KH R. Muhammad Ali Manshur as-Shiddiqi di Desa Maibit, Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban, Jawa Timur tidak hanya tersimpan manuskrip Sholawat Badar berhuruf Arab yang ditulis tangan tangan sang pencipta.
Di rumah ini juga masih tersimpan kitab Durratun Nashihin yang bersampul coklat.
Kitab ini memiliki nilai sejarah yang tinggi. Itu karena pada lembar pertama kitab tersebut terdapat tulisan tangan Kiai Ali Manshur.
Dalam tulisan berhuruf Arab tersebut, sang kiai menceritakan sekelumit kisah yang menandai lahirnya Sholawat Badar. Begini isi lengkapnya.
Naliko aku gawe lagune Sholawat Badar, yoiku sak ba’dae teko songko Makkah al-Mukarramah, kanga tak anyari waktu Lailatul Qira’ah kelawan ngundang almarhum Haji Achmad Qusyairi sak muride. Yoiku ono malam Jumat tahun 1960 tonggoko pada ngimpi weruh bongso sayid utowo habib podho melebu ono omahku, wa karimati, Chotimah ugo ngimpi ketho’ kanjeng Nabi Muhammad ikut rangkul-rangkulan karo al Faqir.
Kiro-kiro dino Jumat ba’da Shubuh, tonggo-tonggo ndodok lawang pawon, podho takon; ‘’Wonten tamu sinten mawon kolo dalu? Lajeng kulo tanglet Habib Hadi al Haddar, dijawab, ‘’Haula-i arwahu ahlil badri rodhiyallohu ‘anhum. Alhamdulillahi robbil ‘alamin.
Terjemahannya kurang lebih begini. Saya membuat syiir Sholawat Badar setelah kembali dari Makkah al Mukarramah (haji) yang saya bacakan kali pertama pada acara Lailatul Qira’ah.
Yang mengumandangkan KH Achmad Qusyairi beserta para muridnya.
Bertepatan pada malam Jumat tahun 1960, tetangga saya sama bermimpi melihat serombongan sayyid atau habaib masuk ke rumahku, dan istri saya, Chotimah juga bermimpi melihat Nabi Muhammad SAW berpelukan dengan saya.
Kira-kira pada hari Jumat ba’da Subuh, para tetangga sama mengetuk pintu dapur untuk menanyakan, ‘’Ada tamu siapa saja yang datang tadi malam?’’
Saya kemudian menanyakan (persoalan ini) kepada Habib al Haddar (Banyuwangi). Beliau menjawab, ‘’Mereka adalah arwah para badar radhiyallahu anhum.’’ Alhamdulillahi rabbil ‘alamin.
Kiai Achmad Syakir Ali, putra KH R. Muhammad Ali Manshur menjabarkan kisah berbahasa Jawa tersebut.
Dia menceritakan, Sholawat Badar diciptakan pada 1960. Ketika itu, dia baru berumur empat tahun.
Kisah tersebut terbagi pada dua tempat dan tahun berbeda.
Pertama, rumah yang dihuni keluarganya di Jalan KH Sholeh Banyuwangi, Jawa Timur pada 1960.
Lokasi persis rumah ini di belakang pendapa pemkab setempat.
Suatu malam, ayahnya mimpi rumahnya didatangi para habib berjubah putih-hijau.
Pada malam yang sama, Nyai Khotimah, ibunya mimpi melihat ayahnya berpelukan dengan Rasulullah SAW.
Karena penasaran, keesokan harinya, Kiai Ali Manshur menanyakan perihal mimpinya tersebut kepada Habib Hadi al Haddar di Banyuwangi.
Habib ini pun menjawab kalau yang datang menemuinya adalah ahli Badar.
Ahli Badar adalah pejuang muslim yang membela Rasulullah Muhammad SAW dalam Perang Badar.
‘’Kedua mimpi inilah yang mengilhami ayah menulis syiir Sholawat Badar,’’ tuturnya. (*)