Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Masjid Baitul Muttakin di Gedongombo, Tuban Berdiri di Atas Surau yang Diyakini Didirikan di Zaman Wali

Dwi Setiyawan • Senin, 8 Januari 2024 | 17:00 WIB

Masjid Baitul Muttakin di Dusun Dondong, Kelurahan Gedongombo, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban, Jawa Timur yang dipotret pada 21 Juli 2012.
Masjid Baitul Muttakin di Dusun Dondong, Kelurahan Gedongombo, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban, Jawa Timur yang dipotret pada 21 Juli 2012.


TUBAN-Lokasi berdirinya Masjid Baitul Muttakin di Dusun Dondong, Kelurahan Gedongombo, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, dulunya pernah berdiri surau kuno yang diyakini dibangun di zaman kewalian.

Satu-satunya jejak yang masih tersisa hanya potongan kayu bertuliskan candra sengkala sepanjang setengah meter.

Candra sengkala adalah lambang angka yang pada zaman dahulu dipergunakan untuk sandi penulisan tahun.

Kayu candra sengkala tersebut tempatkan persis di bagian atas kusen pintu tengah masjid.

Persisnya di atas ukiran kaligrafi yang menghiasi bagian atas pintu.

Karena ukurannya lebih kecil, sejarah kayu yang dibiarkan alami tanpa sentuhan pernis maupun cat tersebut seperti tenggelam.

Dalam sejarah, candra sengkala lazimnya untuk penulisan berdirinya sebuah kerajaan, runtuhnya suatu kerajaan, meninggalnya raja dari suatu kerajaan, tahun pembuatan suatu karya sastra atau bangunan, dan lain sebagainya.

Tak jelas mana candrasengkala yang dipaku kedua ujungnya pada bagian atas kusen pintu tersebut.

Kantari, salah satu tokoh masyarakat setempat yang diwawancarai pada 21 Juli 2012 mengatakan, dulu ada yang menterjemahkan candra sengkala tersebut bertuliskan tahun 1216.

‘’Seingat saya ya itu,’’ kata dia.

Menurut Kantari, selain candra sengkala, surau kuno tersebut juga menyisakan beberapa ruas sirap atau atap kayu.

Setelah masjid beberapa kali direnovasi, sirap tersebut dipasang pada bagian belakang masjid.

Dia mengungkapkan, pada renovasi pertama masjid, bagian atap diganti welit atau anyaman daun kepala. Kemudian, pada renovasi berikutnya diganti genting.

Bangunan asli surau tersebut berdinding anyaman bambu. Tingginya hanya separo tubuh, sekitar 75cm.

Karena lapuk dimakan usia, anyaman bambu diganti tumpukan batu.

Hanya lantainya yang seingat dia tidak direnovasi dan Dibiarkan apa adanya berupa tanah yang dipadatkan.

Untuk alas sholat, digunakan ketepe atau anyaman daun kelapa.

Karena sudah berumur ratusan tahun, hanya sebagian kayu konstruksi bangunan surau yang masih tersisa.

Salah satunya, potongan kayu bertuliskan candra sengkala.

Sebenarnya sebelum didirikan bangunan masjid baru, surau kuno tersebut masih menyisakan pintu gerbang atau gapura di bagian selatan halaman surau.

Bangunan gapura menyerupai candi tersebut juga dibongkar total ketika renovasi pagar masjid.

Sejarah surau tersebut tidak bisa dilepaskan dari pohon randu alas di timur masjid.

Pohon berusia ratusan tahun yang tumbuh menjulang tersebut dibiarkan menaungi halaman masjid dan sekitarnya. (*)

Kolase tangkapan layar story Instagram @mahaliniraharja soal lagu Sial miliknya diduga diklaim penyanyi lain.
Kolase tangkapan layar story Instagram @mahaliniraharja soal lagu Sial miliknya diduga diklaim penyanyi lain.
Editor : Amin Fauzie
#Masjid Baitul Muttakin #candra sengkala #Dusun Dondong Kelurahan Gedongombo Kecamatan Semanding Kabupaten Tuban #surau kuno #ukiran kaligrafi #zaman kewalian