Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Ponpes Ash-Shomadiyah, Ponpes Tertua di Tuban. Keturunan dan Santrinya Mendirikan Sejumlah Pesantren di Jawa

Dwi Setiyawan • Selasa, 12 Desember 2023 | 16:00 WIB
Riza Shalihuddin Habibi (Gus Riza), salah satu pengasuh Ponpes Ash-Shomadiyah menunjukkan foto pendahulu pendiri pondoknya.
Riza Shalihuddin Habibi (Gus Riza), salah satu pengasuh Ponpes Ash-Shomadiyah menunjukkan foto pendahulu pendiri pondoknya.


TUBAN-Ponpes Ash-Shomadiyah Tuban pernah mengalami masa kejayaan di era sebelum 90-an.

Saking banyaknya santri di era tersebut, bangunan pertama ponpes tersebut berupa surau kecil dan gothaan berdinding kayu tak mampu memuat santri.

Hal tersebut menjadi pertimbangan penerus Syeh Shomadiyah, pendiri pertama ponpes tersebut pada 1700 untuk membuat tempat ibadah baru berdinding tembok.

Namanya mushola Kuning. Lokasinya kurang lebih lima langkah dari utara surau.

Nama tersebut tidak sekadar dipilih. Arti kuning tertulis jelas di dinding utara mushola yang maknanya hati yang bening.

Sekarang, kondisi mushola Kuning masih bagus dan terawat. Karena masih tak mampu menampung santri pesantren yang kian banyak, mushola ini dialih fungsikan untuk mengaji santri.

Pada 1974 pengasuh pondok mendirikan Masjid Ash-Shomadiyah yang desain eksteriornya mirip Masjid Agung Tuban yang lama sebelum direnovasi.

Bangunan asrama pesantren ini pun ikut berkembang. Di lingkungan surau yang menjadi cikal-bakal berdirinya pesantren ini dirikan bangunan baru berdinding tembok.

Pesantren inilah yang diberi nama pondok kidul (selatan). Sekarang, asrama pesantren ini diasuh Komarudin alias Gus Komar, putra KH Syarif alias Mbah Syarif.

Asrama tengah yang menempati barat surau diasuh KH Muhyiddin Faqih alias Mbah Yin dan putranya Mujabul Marom alias Gus Marom.

Asrama lor atau utara diampu Riza Shalihuddin Habibi alias Gus Riza.

Dia adalah keponakan KH Ahmad Shifa Sholih alias Mbah dan putra KH Shofi.

Selain mengembangkan pesantren tersebut, trah atau keturunan Ash-Shomadiyah dan santri-santrinya juga mendirikan sejumlah pesantren besar Jawa.

Ponpes Al Ghozaliah di Sarang, misalnya, didirikan Ghozali, menantu Mbah Makruf.

Pendirian Ponpes Sidogiri, Pasuruan juga andil dari salah satu putri Mbah Ashomadiyah.

Begitu juga ketika mendirikan Ponpes Lirboyo, Kediri, kerabat Mbah Syarif ikut membidani.

Sementara santri jebolan As-Shomadiyah yang melebarkan sayap dengan mendirikan pesantren jumlahnya lebih banyak. Dua diantaranya, Ponpes As-Ashomadiyah, Borneh, Bangkal dan Ponpes Al Jaladri Pasuruan.

Gus Riza mengatakan, Ponpes Ash-Shomadiyah pernah mengalami masa kejayaan di era 80 hingga 90-an. Persisnya, pada masa asuhan Mbah Syifa dan Mbah Syarif.

Pada era tersebut, pesantren ini tidak hanya memiliki banyak santri yang mencapai 400 orang lebih.

Namun, juga nama besar pengasuhnya yang mampu menjaga sikap ikhlas dan sederhana.

Gus Riza kemudian membeberkan salah satu sikap luhur pendahulunya.

Mbah Syarif, misalnya. Usai memimpin tahlil di rumah yang mengundang, pemilik hajat memberikan ongkos becak Rp 50 ribu. Begitu turun dari becak, uang tersebut diberikan semua kepada tukang becak.

Karena terlalu besar, tukang becak pun mengembalikan.

‘’Kiai menjawab, tadi yang ngundang memberi untuk naik becak. Itu rezeki kamu,’’ cuplik dia mengutip kalimat sang kiai yang memaksa tukang becak untuk menerima.

Sewaktu kecil, Gus Riza juga melihat langsung sejumlah karomah para pendahulunya. Ketika Mbah Syifa hendak memenuhi undangan hajatan pengantin ke Rembang, dia melihat awan di barat sangat pekat dan gelap.

Untuk menyingkirkan awan tersebut, aulia tersebut mengambil surbannya dan melemparkannya ke timur genting rumah. Seketika, awan berarak ke timur.

‘’Setelah kepemimpinan beliau (Mbah Syifa dan Mbah Syarif), kejayaan pesantren ini surut,’’ tandas pria jebolan Ponpes Tebu Ireng Jombang itu.

Gus Riza mengatakan, sekarang ini dirinya bersama pengasuh lainnya mewarisi tradisi besar yang dirintis pendahulunya.

Untuk mengembalikan kejayaan tersebut, dia dan pengasuh lain tidak hanya berusaha mempertahankan tradisi pesantren salaf. Namun, juga mengembangkan lembaga pendidikan formal sebagai penunjang pendidikan islami.

Bukan hanya itu. Untuk mewarisi sekaligus mengenang Syeh Ash-Shomadiyah yang pada abad XVII berjalan kaki dari rumahnya di Morosemo, Kecamatan Plumpang hanya untuk sholat jamaah maghrib dan isya di Masjid Agung Tuban, setiap tahun digelar napal tilas para santri. (*)

WUJUD TRESNA: Salah satu frame yang berisi puluhan foto makanan yang membentuk huruf e. Terhitung sudah sepuluh tahun, Alex Pra mengumpulkan foto inisial anaknya ini. (Dok Pribadi)
WUJUD TRESNA: Salah satu frame yang berisi puluhan foto makanan yang membentuk huruf e. Terhitung sudah sepuluh tahun, Alex Pra mengumpulkan foto inisial anaknya ini. (Dok Pribadi)
DEKAT RAKYAT: Ganjar Pranowo berdiskusi dengan masyarakat mengenai masalah perikanan.
DEKAT RAKYAT: Ganjar Pranowo berdiskusi dengan masyarakat mengenai masalah perikanan.
Editor : Amin Fauzie
#santri #Syeh Shomadiyah #Ponpes Ash Shomadiyah #Masjid Agung Tuban #mushola Kuning #surau #tuban