Budaya Daerah Kalam Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Pendidikan Religi Ruang Kata Sejarah Seni Sport Techno Wisata

Ponpes Ash-Shomadiyah, Ponpes Tertua di Tuban yang Kini Berusia Lebih Tiga Abad

Dwi Setiyawan • Minggu, 10 Desember 2023 | 08:55 WIB
Surau Ponpes Ash-Shomadiyah Tuban yang diperkirakan berusia tiga abad.
Surau Ponpes Ash-Shomadiyah Tuban yang diperkirakan berusia tiga abad.

TUBAN-Ponpes Ash-Shomadiyah Tuban sekarang ini diperkirakan berusia 323 tahun.

Pondok Pesantren di Kelurahan Kingking, Kecamatan Tuban, Kabupaten Tuban, Jawa Timur ini lebih dikenal dengan Ponpes Makam Agung.

Ponpes ini punya andil besar dalam pendirian sejumlah pondok pesantren besar di Jawa.

Satu-satunya bangunan kuno di lingkungan Ponpes Ash-Shomadiyah yang masih terjaga keasliannya adalah sebuah surau kecil.

Luas surau tersebut tak lebih dari 4x4meter (m) persegi. Dinding keliling dan kerangka bangunannya kayu jati. Atapnya genting tanah liat.

Bagian dalam surau ini benar-benar terjaga keasliannya. Tekelnya kecil-kecil yang keabu-abuann dibiarkan apa adanya. Bahkan, sejumlah sisi lantai ini dibiarkan apa adanya.

Surau ini menyatu dengan bangunan asrama santri yang juga berdinding papan jati.

Posisinya persis di barat surau dan hanya dipisahkan dengan dinding papan.

Asrama yang lantainya sama dengan surau ini memiliki enam kamar. Luas masing-masing kamar tak lebih 2x2m persegi.

Surau dan asrama bercat putih yang warnanya sudah memudar ini sudah lama tidak ditempati.

Gus Mujabul Marom duduk di teras surau, bangunan kuno di Ponpes Ash-Shomadiyah Tuban.
Gus Mujabul Marom duduk di teras surau, bangunan kuno di Ponpes Ash-Shomadiyah Tuban.

Sekali waktu bangunan ini ditempati untuk kegiatan pondok. Karena itu, nyaris tidak ada perabotnya.

Gus Marom, panggilan akrab Gus Mujabul Marom, salah satu pengasuh ponpes setempat mengatakan, surau tersebut menjadi cikal bakal Ash-Shomadiyah.

Berdasar cerita pendahulu Gus Marom, tutur dia, ponpes tersebut didirikan Syeh Shomadiyah pada 1700.

Kalau itu benar, berarti ponpes ini berusia tertua di Tuban, bahkan mungkin di tanah air.

Ponpes Langitan yang konon paling sepuh pun baru berdiri pada 1852 atau 152 tahun kemudian.

Pada abad 17 tersebut, Indonesia dalam jajahan Belanda.

Pada masa itu, Syeh Shomadiyah yang tinggal di Morosemo, Kecamatan Plumpang tiap hari sholat jamaah Maghrib dan isya di Masjid Agung Tuban.

Setiap kali menuju masjid, aulia ini berjalan kaki melewati depan gedung karaoke bangsa Belanda. Diperkirakan, gedung tersebut di Gang Kutorejo II.

‘’Sekarang yang ditempati Nasyiyatul Banat,’’ kenang keturunan ke empat pendiri Ponpes Ashomadiyah ini.

Setiap kali Syeh Shomadiyah melintas, musik di gedung karaoke tersebut mati. Musik tersebut baru menyala kembali setelah dia berlalu. Kondisi ini berlangsung cukup lama.

Karena dianggap mengganggu ketenangan tempat hiburan malam tersebut, pemerintah Belanda akhirnya memberi tanah perdikan atau lahan berstatus istimewa tanpa dikenakan pajak. Luasnya lebih dari 5 hektare (ha).

Harapan Belanda memberikan tanah tersebut agar aulia ini membangun masjid sendiri di tempat tersebut. Sehingga, tidak lewat tempat hiburan tersebut.

Benar, setelah diberi tanah, Syeh Shomadiyah kemudian menempatinya.

Berdasar cerita dari para leluhurnya, lanjut Gus Marom, surau dan asrama baru dibangun Kiai Ma’aruf.

Dia adalah salah satu dari lima putra Syeh Shomadiyah. Empat putranya yang lain, Badrul Jamal, Ya’qub, Basyar, Dahlan dan Shidiq.

Setelah berdiri, dua bangunan tersebut digunakan Syeh Shomadiyah dan putra-putranya untuk mengajarkan ilmu agama kepada masyarakat sekitar.

Tanah perdikan inilah yang kemudian dikenal dengan nama kompleks Pondok Pesantren Makam Agung.

Dalam buku Tuban Bumi Wali, The Spirit of Harmony ditulis, masa kejayaan Ponpes Ash-Shomadiyah tidak terlepas dari figur KH Ahmad Shifa’ Sholih atau Mbah Syifa yang wafat pada 2009.

Beliau termasuk tokoh agama yang sangat disegani pada masanya.

Pada masa kepemimpinan aulia inilah mulai dirintis dan difasilitasi pendirian lembaga pendidikan formal di lingkungan pesantren setempat.

Mulai dari memfasilitasi sarana gedung dan tanah untuk SDI dan SMP Mu’alimin.

Kemudian, pada 1992 berdiri Madrasah Aliyah Ash-Shomadiyah dan 1996 berdiri MTs. Selain nama besar Mbah Syifa’, terdapat nama besar nama lain yang melegenda. Yakni, KH. Syarif atau dikenal Mbah Syarif.

Mbah Syarif ini sangat terkenal dengan sikap ikhlas dan sederhananya. (*)

NASIONALIS-RELIGIUS: Pasangan Capres Ganjar Pranowo-Mahfud M.D berkomitmen membawa Indonesia menjadi negara yang unggul.
NASIONALIS-RELIGIUS: Pasangan Capres Ganjar Pranowo-Mahfud M.D berkomitmen membawa Indonesia menjadi negara yang unggul.
Editor : Amin Fauzie
#Makam Agung #pondok pesantren #surau #ponpes tertua #Ash Shomadiyah Tuban