RADARBONANG.ID – Gelar sarjana tidak selalu menjamin seseorang mudah mendapatkan pekerjaan.
Persaingan pencari kerja, keterbatasan lapangan kerja formal, hingga kesenjangan keterampilan lulusan perguruan tinggi dengan kebutuhan industri menjadi sejumlah persoalan yang turut memengaruhi peluang kerja para lulusan baru.
Persoalan tersebut dibahas dalam video esai kanal YouTube Usut Kasus berjudul Kenapa Sarjana Indonesia Susah Cari Kerja? (Bukan Cuma Soal Salah Jurusan).
Baca Juga: Sudah Lulus S1 tapi Sulit Dapat Kerja? Dunia Kerja Kini Tak Cuma Melihat IPK dan Gelar Sarjana
Pembahasannya menyoroti bahwa pengangguran terdidik tidak bisa semata-mata dijelaskan melalui pilihan jurusan atau kemampuan individu dalam mencari pekerjaan.
Selama ini, lulusan yang kesulitan memperoleh pekerjaan kerap dianggap salah memilih bidang studi atau belum memiliki keterampilan praktis yang memadai.
Padahal, persoalan ketenagakerjaan juga berkaitan dengan kemampuan dunia pendidikan menyiapkan lulusan, kebutuhan industri yang terus berubah, dan ketersediaan pekerjaan yang sesuai dengan kualifikasi pencari kerja.
Perkembangan teknologi turut mengubah kebutuhan perusahaan terhadap calon karyawan.
Sejumlah pekerjaan membutuhkan kemampuan digital, pemecahan masalah, komunikasi, serta kemampuan beradaptasi dengan perubahan proses kerja.
Sementara itu, pembaruan kurikulum dan proses pembelajaran di perguruan tinggi membutuhkan waktu.
Jika keterampilan yang diperoleh mahasiswa tidak selaras dengan kebutuhan industri, lulusan dapat menghadapi tantangan ketika memasuki pasar kerja.
Kesenjangan Pendidikan dan Kebutuhan Industri
Salah satu persoalan yang disorot adalah jarak antara pembelajaran akademik dan penerapannya di dunia kerja.
Pengetahuan teoritis tetap penting, tetapi lulusan juga perlu memahami cara menerapkan pengetahuan tersebut untuk menyelesaikan persoalan nyata.
Dalam video tersebut, narator menekankan bahwa kesulitan mencari kerja tidak cukup dijelaskan dengan anggapan bahwa lulusan salah memilih jurusan.
"Bukan cuma soal salah jurusan, tantangan terbesar para sarjana saat ini adalah bagaimana sistem pendidikan kita kerap gagal menjembatani teori akademik dengan kebutuhan dunia kerja yang menuntut adaptasi instan terhadap teknologi dan kompetensi global." sebagaimana diulas dalam tayangan tersebut.
Keterampilan praktis dapat dikembangkan melalui magang, proyek kolaboratif, pelatihan, dan pengalaman organisasi yang relevan.
Kerja sama antara perguruan tinggi dan perusahaan juga dapat membantu mahasiswa memahami kebutuhan pekerjaan sebelum lulus.
Namun, kesenjangan keterampilan bukan satu-satunya faktor.
Tidak semua lulusan memiliki akses yang sama terhadap program magang, pelatihan berkualitas, jaringan profesional, maupun informasi lowongan kerja. Karena itu, persoalan ini perlu dilihat secara lebih luas.
Kesiapan lulusan memang penting, tetapi kesempatan untuk memperoleh pengalaman dan akses menuju pekerjaan juga ikut menentukan peluang seseorang memasuki dunia kerja.
Persaingan Kerja dan Terbatasnya Lapangan Formal
Tantangan lainnya muncul ketika jumlah pencari kerja lebih besar dibandingkan ketersediaan posisi yang sesuai.
Pertumbuhan jumlah lulusan perguruan tinggi tidak otomatis diikuti penciptaan lapangan kerja formal yang mampu menyerap mereka sesuai bidang dan tingkat pendidikannya.
Persaingan juga semakin terasa ketika perusahaan mensyaratkan pengalaman kerja untuk posisi tingkat awal atau entry-level.
Lulusan baru yang belum memiliki pengalaman profesional akhirnya harus bersaing dengan pelamar yang sudah pernah bekerja atau mengikuti program pelatihan khusus.
Situasi tersebut dapat membentuk lingkaran yang sulit ditembus: pencari kerja membutuhkan pengalaman untuk diterima, sedangkan pengalaman sulit diperoleh tanpa kesempatan kerja pertama.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, pembenahan pendidikan tinggi perlu berjalan beriringan dengan upaya memperluas kesempatan kerja.
Perguruan tinggi dapat memperkuat pembelajaran berbasis praktik dan kemitraan industri, sedangkan perusahaan dapat menyediakan jalur masuk yang realistis bagi lulusan baru.
Pemerintah juga memiliki peran dalam mendorong investasi dan pertumbuhan sektor produktif yang mampu menciptakan pekerjaan berkualitas.
Selain jumlah lowongan, aspek upah, kepastian kerja, perlindungan pekerja, dan kesempatan pengembangan karier turut menentukan kualitas pekerjaan yang tersedia.
Dengan demikian, sulitnya sarjana memperoleh pekerjaan bukan semata-mata persoalan individu atau pilihan jurusan.
Kesiapan lulusan, relevansi pendidikan, akses pengalaman kerja, dan kemampuan ekonomi menciptakan lapangan kerja perlu diperhatikan secara bersamaan. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari