Bukan Cuma Mengajar, Ini Makna Guru Digugu Lan Ditiru dan Pentingnya Keteladanan di Sekolah

Widodo • Dipublikasikan Selasa, 29 September 2026 | 12:43 WIB
Guru bukan hanya mengajarkan apa yang ada di buku. Cara berbicara, bersikap, dan menghadapi masalah juga bisa menjadi pelajaran bagi siswa. (hoshizora.org)
Guru bukan hanya mengajarkan apa yang ada di buku. Cara berbicara, bersikap, dan menghadapi masalah juga bisa menjadi pelajaran bagi siswa. (hoshizora.org)

RADARBONANG.ID – Ada pelajaran yang tidak tertulis di papan tulis, tidak tercantum dalam buku paket, dan tidak selalu masuk dalam soal ujian.

Pelajaran itu dapat muncul dari cara seorang guru berbicara, bersikap, menghadapi masalah, hingga memperlakukan orang lain.

Hal tersebut tergambar dalam ungkapan Jawa “guru digugu lan ditiru”.

Ungkapan ini secara umum dimaknai bahwa guru merupakan sosok yang dipercaya sekaligus diteladani.

Artinya, guru bukan hanya memiliki tugas menyampaikan materi pelajaran di dalam kelas.

Sikap dan perilakunya juga dapat menjadi bagian dari proses pendidikan yang diamati oleh siswa dalam keseharian.

Ketika seorang guru berbicara dengan sopan, datang tepat waktu, menepati janji, atau menunjukkan kesabaran saat menghadapi persoalan, siswa dapat melihat nilai tersebut secara langsung.

Begitu pula sebaliknya. Sikap guru ketika menghadapi kesalahan siswa, berinteraksi dengan rekan kerja, atau menyelesaikan persoalan juga dapat memberikan pelajaran tentang bagaimana seseorang seharusnya bersikap.

Baca Juga: Gagal Bobol Gawang Indonesia meski Unggul Jumlah Pemain, Pelatih Malaysia Soroti Lini Belakang Garud

“Digugu” Berkaitan dengan Kepercayaan

Kata “digugu” berkaitan dengan sesuatu yang dipercaya.

Dalam konteks pendidikan, guru memiliki tanggung jawab menyampaikan pengetahuan, arahan, dan informasi yang membantu siswa memahami berbagai hal.

Kepercayaan tersebut tidak hanya terbentuk dari kemampuan guru menguasai materi pelajaran.

Cara guru menjalankan tanggung jawab juga dapat memengaruhi bagaimana siswa memandang sosok pendidiknya.

Guru yang menyampaikan pentingnya kejujuran, misalnya, memiliki tanggung jawab untuk menunjukkan nilai tersebut dalam tindakannya.

Begitu pula ketika guru mengajarkan pentingnya menghargai orang lain.

Nilai tersebut akan terasa lebih dekat ketika siswa melihatnya melalui cara guru berkomunikasi dan memperlakukan orang di sekitarnya.

Dengan demikian, pesan yang disampaikan guru tidak berhenti sebagai teori.

Nilai yang sama dapat terlihat dalam perilaku sehari-hari.

“Ditiru” Bukan Sekadar Meniru Perkataan

Sementara itu, “ditiru” menggambarkan guru sebagai sosok yang perilakunya dapat menjadi contoh bagi siswa.

Siswa tidak hanya mendengarkan apa yang dikatakan guru.

Mereka juga dapat memperhatikan bagaimana perkataan tersebut diwujudkan dalam tindakan.

Guru yang mengajarkan kedisiplinan, misalnya, dapat menunjukkan nilai tersebut melalui kebiasaan datang tepat waktu dan menjalankan tanggung jawabnya.

Begitu juga dengan sikap menghargai orang lain.

Siswa dapat belajar bukan hanya dari penjelasan mengenai pentingnya menghormati sesama, tetapi juga dari bagaimana guru memperlakukan siswa dengan adil dan menghargai pendapat mereka.

Karena itu, keteladanan menjadi bagian penting dalam pendidikan karakter.

Nilai yang disampaikan melalui tindakan dapat memberikan gambaran konkret kepada siswa mengenai bagaimana sebuah prinsip diterapkan.

Cara Guru Menegur Juga Bisa Menjadi Pelajaran

Peran guru semakin kompleks karena setiap siswa memiliki karakter dan latar belakang yang berbeda.

Ada siswa yang mudah memahami pelajaran, tetapi ada pula yang membutuhkan penjelasan berulang.

Ada yang percaya diri menyampaikan pendapat, sementara siswa lainnya membutuhkan dorongan agar berani berbicara.

Situasi tersebut membuat kesabaran menjadi salah satu bagian penting dalam hubungan antara guru dan siswa.

Cara guru menghadapi kesalahan siswa juga dapat memberikan pelajaran tersendiri.

Ketika seorang siswa melakukan kesalahan, misalnya, guru dapat menunjukkan bagaimana sebuah persoalan diselesaikan tanpa mempermalukan orang yang melakukan kesalahan.

Teguran yang disampaikan dengan tepat dapat membantu siswa memahami kesalahannya sekaligus belajar bertanggung jawab.

Dari situ, siswa dapat memperoleh pelajaran yang lebih luas.

Mereka bukan hanya mengetahui bahwa sebuah tindakan salah, tetapi juga belajar bagaimana memperbaiki kesalahan dan menghadapi konsekuensinya.

Pendidikan Tidak Berhenti di Materi Pelajaran

Perkembangan teknologi membuat siswa kini dapat memperoleh informasi dari berbagai sumber.

Pengetahuan tidak lagi hanya berasal dari buku atau penjelasan guru di kelas.

Meski demikian, guru tetap memiliki peran penting dalam membantu siswa memahami bagaimana pengetahuan tersebut digunakan dalam kehidupan.

Di sinilah keteladanan memiliki posisi yang penting.

Siswa dapat mengetahui bahwa disiplin itu baik melalui buku.

Namun, mereka juga dapat melihat penerapannya melalui kebiasaan guru.

Siswa dapat memahami pentingnya menghargai orang lain melalui materi pendidikan karakter.

Namun, mereka juga dapat melihat contohnya melalui interaksi yang terjadi di lingkungan sekolah.

Keteladanan akhirnya menjadi jembatan antara pengetahuan dan perilaku.

Guru Juga Mengajarkan Nilai Lewat Hal Sederhana

Tidak semua pelajaran yang diberikan guru harus berupa penjelasan panjang.

Mengucapkan terima kasih, meminta maaf ketika melakukan kesalahan, mendengarkan siswa sampai selesai berbicara, atau tetap tenang ketika menghadapi persoalan merupakan tindakan sederhana yang dapat memberikan contoh.

Hal-hal tersebut mungkin terlihat kecil. Namun, bagi siswa yang setiap hari berada di lingkungan sekolah, kebiasaan tersebut dapat menjadi bagian dari pengalaman belajar.

Ungkapan “guru digugu lan ditiru” kemudian menjadi pengingat bahwa peran guru memiliki dimensi yang lebih luas daripada sekadar mengajar.

Guru memang bertugas membantu siswa memahami ilmu pengetahuan.

Namun, dalam kesehariannya, guru juga dapat menunjukkan nilai tentang tanggung jawab, kedisiplinan, kesabaran, kejujuran, dan cara menghargai orang lain.

Pada akhirnya, menjadi guru bukan hanya tentang berdiri di depan kelas dan menyampaikan materi.

Ada keteladanan yang ikut berjalan bersama setiap perkataan dan tindakan.

Sebab, bagi siswa, proses belajar tidak selalu terjadi ketika buku dibuka atau pelajaran dimulai.

Terkadang, pelajaran paling melekat justru datang dari apa yang mereka lihat setiap hari.

Itulah salah satu makna “guru digugu lan ditiru”. Apa yang disampaikan guru dapat menjadi pengetahuan, sedangkan apa yang ditunjukkan melalui perilaku dapat menjadi contoh dalam kehidupan.

RADARBONANG.ID – Ada pelajaran yang tidak tertulis di papan tulis, tidak tercantum dalam buku paket, dan tidak selalu masuk dalam soal ujian.

Pelajaran itu dapat muncul dari cara seorang guru berbicara, bersikap, menghadapi masalah, hingga memperlakukan orang lain.

Hal tersebut tergambar dalam ungkapan Jawa “guru digugu lan ditiru”.

Ungkapan ini secara umum dimaknai bahwa guru merupakan sosok yang dipercaya sekaligus diteladani.

Artinya, guru bukan hanya memiliki tugas menyampaikan materi pelajaran di dalam kelas.

Sikap dan perilakunya juga dapat menjadi bagian dari proses pendidikan yang diamati oleh siswa dalam keseharian.

Ketika seorang guru berbicara dengan sopan, datang tepat waktu, menepati janji, atau menunjukkan kesabaran saat menghadapi persoalan, siswa dapat melihat nilai tersebut secara langsung.

Begitu pula sebaliknya. Sikap guru ketika menghadapi kesalahan siswa, berinteraksi dengan rekan kerja, atau menyelesaikan persoalan juga dapat memberikan pelajaran tentang bagaimana seseorang seharusnya bersikap.

“Digugu” Berkaitan dengan Kepercayaan

Kata “digugu” berkaitan dengan sesuatu yang dipercaya.

Dalam konteks pendidikan, guru memiliki tanggung jawab menyampaikan pengetahuan, arahan, dan informasi yang membantu siswa memahami berbagai hal.

Kepercayaan tersebut tidak hanya terbentuk dari kemampuan guru menguasai materi pelajaran.

Cara guru menjalankan tanggung jawab juga dapat memengaruhi bagaimana siswa memandang sosok pendidiknya.

Guru yang menyampaikan pentingnya kejujuran, misalnya, memiliki tanggung jawab untuk menunjukkan nilai tersebut dalam tindakannya.

Begitu pula ketika guru mengajarkan pentingnya menghargai orang lain.

Nilai tersebut akan terasa lebih dekat ketika siswa melihatnya melalui cara guru berkomunikasi dan memperlakukan orang di sekitarnya.

Dengan demikian, pesan yang disampaikan guru tidak berhenti sebagai teori. Nilai yang sama dapat terlihat dalam perilaku sehari-hari.

“Ditiru” Bukan Sekadar Meniru Perkataan

Sementara itu, “ditiru” menggambarkan guru sebagai sosok yang perilakunya dapat menjadi contoh bagi siswa.

Siswa tidak hanya mendengarkan apa yang dikatakan guru.

Mereka juga dapat memperhatikan bagaimana perkataan tersebut diwujudkan dalam tindakan.

Guru yang mengajarkan kedisiplinan, misalnya, dapat menunjukkan nilai tersebut melalui kebiasaan datang tepat waktu dan menjalankan tanggung jawabnya.

Begitu juga dengan sikap menghargai orang lain.

Siswa dapat belajar bukan hanya dari penjelasan mengenai pentingnya menghormati sesama, tetapi juga dari bagaimana guru memperlakukan siswa dengan adil dan menghargai pendapat mereka.

Karena itu, keteladanan menjadi bagian penting dalam pendidikan karakter.

Nilai yang disampaikan melalui tindakan dapat memberikan gambaran konkret kepada siswa mengenai bagaimana sebuah prinsip diterapkan.

Cara Guru Menegur Juga Bisa Menjadi Pelajaran

Peran guru semakin kompleks karena setiap siswa memiliki karakter dan latar belakang yang berbeda.

Ada siswa yang mudah memahami pelajaran, tetapi ada pula yang membutuhkan penjelasan berulang.

Ada yang percaya diri menyampaikan pendapat, sementara siswa lainnya membutuhkan dorongan agar berani berbicara.

Situasi tersebut membuat kesabaran menjadi salah satu bagian penting dalam hubungan antara guru dan siswa.

Cara guru menghadapi kesalahan siswa juga dapat memberikan pelajaran tersendiri.

Ketika seorang siswa melakukan kesalahan, misalnya, guru dapat menunjukkan bagaimana sebuah persoalan diselesaikan tanpa mempermalukan orang yang melakukan kesalahan.

Teguran yang disampaikan dengan tepat dapat membantu siswa memahami kesalahannya sekaligus belajar bertanggung jawab.

Dari situ, siswa dapat memperoleh pelajaran yang lebih luas.

Mereka bukan hanya mengetahui bahwa sebuah tindakan salah, tetapi juga belajar bagaimana memperbaiki kesalahan dan menghadapi konsekuensinya.

Pendidikan Tidak Berhenti di Materi Pelajaran

Perkembangan teknologi membuat siswa kini dapat memperoleh informasi dari berbagai sumber.

Pengetahuan tidak lagi hanya berasal dari buku atau penjelasan guru di kelas.

Meski demikian, guru tetap memiliki peran penting dalam membantu siswa memahami bagaimana pengetahuan tersebut digunakan dalam kehidupan.

Di sinilah keteladanan memiliki posisi yang penting.

Siswa dapat mengetahui bahwa disiplin itu baik melalui buku.

Namun, mereka juga dapat melihat penerapannya melalui kebiasaan guru.

Siswa dapat memahami pentingnya menghargai orang lain melalui materi pendidikan karakter.

Namun, mereka juga dapat melihat contohnya melalui interaksi yang terjadi di lingkungan sekolah.

Keteladanan akhirnya menjadi jembatan antara pengetahuan dan perilaku.

Guru Juga Mengajarkan Nilai Lewat Hal Sederhana

Tidak semua pelajaran yang diberikan guru harus berupa penjelasan panjang.

Mengucapkan terima kasih, meminta maaf ketika melakukan kesalahan, mendengarkan siswa sampai selesai berbicara, atau tetap tenang ketika menghadapi persoalan merupakan tindakan sederhana yang dapat memberikan contoh.

Hal-hal tersebut mungkin terlihat kecil. Namun, bagi siswa yang setiap hari berada di lingkungan sekolah, kebiasaan tersebut dapat menjadi bagian dari pengalaman belajar.

Baca Juga: Peluang Timnas Indonesia Lolos ke Final FIFA ASEAN Cup 2026 Usai Ditahan Malaysia 0-0, Ini Skemanya

Ungkapan “guru digugu lan ditiru” kemudian menjadi pengingat bahwa peran guru memiliki dimensi yang lebih luas daripada sekadar mengajar.

Guru memang bertugas membantu siswa memahami ilmu pengetahuan.

Namun, dalam kesehariannya, guru juga dapat menunjukkan nilai tentang tanggung jawab, kedisiplinan, kesabaran, kejujuran, dan cara menghargai orang lain.

Pada akhirnya, menjadi guru bukan hanya tentang berdiri di depan kelas dan menyampaikan materi.

Ada keteladanan yang ikut berjalan bersama setiap perkataan dan tindakan.

Sebab, bagi siswa, proses belajar tidak selalu terjadi ketika buku dibuka atau pelajaran dimulai.

Terkadang, pelajaran paling melekat justru datang dari apa yang mereka lihat setiap hari.

Itulah salah satu makna “guru digugu lan ditiru”. Apa yang disampaikan guru dapat menjadi pengetahuan, sedangkan apa yang ditunjukkan melalui perilaku dapat menjadi contoh dalam kehidupan.

Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : Radar Bonang
pendidikan karakter siswa guru digugu lan ditiru makna guru digugu lan ditiru keteladanan guru peran guru di sekolah