RADARBONAG.ID — Industri kreatif Indonesia terus berkembang seiring munculnya berbagai tren baru yang dekat dengan kehidupan generasi muda.
Kondisi tersebut membuat perguruan tinggi memiliki peran yang semakin penting, bukan hanya sebagai tempat memperoleh ilmu akademik, tetapi juga sebagai ruang bagi mahasiswa untuk mengasah kreativitas dan menemukan potensi diri.
Kebutuhan terhadap talenta kreatif yang memiliki kemampuan profesional juga membuat kolaborasi antara kampus, komunitas, dan pelaku industri semakin relevan.
Melalui kolaborasi tersebut, mahasiswa diharapkan tidak hanya memiliki ide dan passion, tetapi juga mampu mengubahnya menjadi karya yang memiliki nilai serta dapat diterapkan di dunia industri.
Salah satu upaya tersebut dilakukan Program Studi Desain Produk, Fakultas Desain dan Seni Kreatif Universitas Mercu Buana (UMB) melalui Sugoi Desu Pro.
Festival kreatif ini menghadirkan budaya populer sebagai medium untuk mendorong mahasiswa dan generasi muda berani berekspresi sekaligus mengembangkan kemampuan di bidang desain.
Sugoi Desu Pro Buka Ruang bagi Talenta Muda
Ketua Program Studi Desain Produk UMB, Junaidi Salam, S.Ds., M.Ds., mengatakan kreativitas akan berkembang ketika seseorang memiliki passion yang kemudian ditekuni secara serius.
Menurutnya, minat terhadap suatu bidang dapat menjadi modal awal bagi seseorang untuk menghasilkan karya.
Namun, passion tersebut perlu disertai proses belajar, eksplorasi, serta konsistensi agar berkembang menjadi kompetensi.
“Motivasi kreatif tumbuh dari passion setiap individu,” ujar Junaidi.
Melalui Sugoi Desu Pro, pihak kampus ingin memberikan ruang yang lebih luas bagi anak muda untuk menunjukkan kemampuan mereka.
Tidak hanya menjadi ajang menampilkan karya, festival tersebut juga dirancang sebagai tempat bertemu dan berkolaborasi antara mahasiswa dengan berbagai komunitas yang memiliki ketertarikan terhadap industri kreatif.
“Kami pengen kasih ruang buat talenta muda supaya bisa berkarya dan kolaborasi bareng,” katanya.
Nama Sugoi Desu Pro Punya Makna Khusus
Nama Sugoi Desu Pro sendiri memiliki makna yang cukup erat dengan semangat festival.
Kata “sugoi” dalam bahasa Jepang dapat dimaknai sebagai hebat atau luar biasa.
Pemilihan nama tersebut menggambarkan semangat untuk memberikan apresiasi terhadap karya sekaligus mendorong generasi muda agar tidak takut menunjukkan kemampuan mereka.
Konsep tersebut juga menjadi representasi bagaimana hobi dan ketertarikan terhadap budaya populer dapat dikembangkan menjadi sesuatu yang lebih serius.
Sebuah kegemaran terhadap anime, manga, gim, cosplay, maupun budaya populer lainnya tidak harus berhenti sebagai aktivitas hiburan.
Dengan kreativitas dan kemampuan yang tepat, minat tersebut dapat berkembang menjadi keterampilan yang memiliki peluang di industri kreatif.
Puluhan Cosplayer Ikut Meramaikan Festival
Salah satu bagian yang menarik perhatian dalam Sugoi Desu Pro adalah kompetisi cosplay yang melibatkan sekitar 50 cosplayer dari berbagai komunitas.
Para peserta membawakan beragam karakter yang berasal dari anime, manga, gim, hingga berbagai budaya populer Jepang.
Kehadiran para cosplayer tersebut membuat festival tidak hanya menjadi ruang bagi mahasiswa desain, tetapi juga mempertemukan berbagai komunitas yang memiliki ketertarikan terhadap dunia kreatif.
Bagi sebagian orang, cosplay mungkin hanya dipandang sebagai aktivitas meniru karakter fiksi.
Namun, proses di balik sebuah kostum cosplay ternyata membutuhkan kemampuan kreatif yang cukup kompleks.
Mulai dari melakukan riset karakter, menentukan material, membuat pola, mengolah bahan, hingga menyelesaikan detail kostum membutuhkan proses yang tidak sederhana.
Cosplay Ternyata Punya Hubungan Erat dengan Desain
Junaidi menjelaskan bahwa cosplay memiliki hubungan yang cukup kuat dengan bidang desain produk.
Seorang cosplayer tidak hanya dituntut memiliki kemampuan berakting atau menampilkan karakter di atas panggung.
Mereka juga harus mampu menerjemahkan tampilan karakter fiksi menjadi sebuah produk fisik yang dapat dikenakan.
“Cosplay membutuhkan kreativitas, riset visual, material, hingga teknik produksi,” tutur Junaidi.
Hal tersebut menunjukkan bahwa cosplay dapat menjadi salah satu media untuk mengembangkan kemampuan desain.
Peserta secara tidak langsung belajar memahami bentuk, warna, material, proporsi, detail visual, hingga bagaimana sebuah rancangan dapat diwujudkan menjadi produk nyata.
Penilaian Tak Sekadar Mirip dengan Karakter
Dalam kompetisi cosplay Sugoi Desu Pro, kemiripan wajah atau penampilan peserta dengan karakter yang diperankan bukan menjadi satu-satunya faktor penilaian.
Ada berbagai aspek yang turut diperhatikan oleh juri.
Kualitas rancangan kostum, misalnya, menjadi salah satu aspek penting.
Detail material dan tingkat ketelitian dalam membuat kostum juga menjadi bagian yang dinilai.
Selain itu, tata rias, kemampuan peserta dalam menghidupkan karakter, serta performa ketika berada di atas panggung ikut menentukan hasil kompetisi.
Dengan sistem tersebut, peserta tidak hanya didorong untuk tampil menarik, tetapi juga menunjukkan proses kreatif yang ada di balik karakter yang mereka bawakan.
Hobi Bisa Menjadi Jalan Menuju Industri Kreatif
Kehadiran Sugoi Desu Pro memperlihatkan bahwa perkembangan industri kreatif dapat dimulai dari sesuatu yang dekat dengan kehidupan anak muda.
Hobi yang awalnya dilakukan untuk bersenang-senang dapat berkembang menjadi kemampuan profesional apabila mendapatkan ruang untuk diasah.
Cosplay menjadi salah satu contohnya. Di balik sebuah kostum terdapat proses desain, produksi, tata rias, fotografi, videografi, hingga seni pertunjukan.
Begitu pula dengan berbagai budaya populer lainnya yang kini telah melahirkan banyak profesi baru di industri kreatif.
Karena itu, ruang seperti Sugoi Desu Pro menjadi penting untuk mempertemukan passion, kreativitas, komunitas, dan pendidikan.
Kampus Tak Lagi Sekadar Tempat Belajar
Festival kreatif tersebut sekaligus menunjukkan perubahan peran perguruan tinggi dalam menghadapi perkembangan industri.
Mahasiswa membutuhkan pengalaman untuk menguji kemampuan mereka di luar ruang kelas.
Mereka juga perlu mendapatkan kesempatan berinteraksi dengan komunitas serta memahami bagaimana sebuah karya dikembangkan dan diapresiasi oleh publik.
Kolaborasi semacam ini dapat menjadi jembatan antara teori yang diperoleh di bangku kuliah dengan praktik di lapangan.
Pada akhirnya, keberadaan Sugoi Desu Pro bukan hanya tentang cosplay atau budaya populer Jepang.
Lebih jauh, festival ini menjadi ruang untuk menunjukkan bahwa kreativitas anak muda memiliki potensi besar apabila diberikan kesempatan untuk tumbuh.
Dengan dukungan kampus, komunitas, dan industri, passion yang awalnya sekadar hobi dapat berkembang menjadi kompetensi yang membuka jalan menuju masa depan industri kreatif Indonesia.
Editor : Muhammad Azlan SyahSumber : jawapos.com