RADARBONAG.ID – Program Sekolah Rakyat di Jawa Timur terus mengalami perluasan sebagai bagian dari upaya pemerintah meningkatkan akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Pada tahun ajaran 2026, kuota peserta didik program tersebut meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.
Jika sebelumnya Sekolah Rakyat hanya mampu menampung sekitar 2.350 siswa, kini kapasitasnya bertambah menjadi sekitar 5.310 hingga 5.370 siswa.
Penambahan ini menjadi salah satu langkah pemerintah untuk menjangkau lebih banyak anak yang membutuhkan layanan pendidikan secara gratis.
Program Sekolah Rakyat sendiri diprioritaskan bagi anak-anak dari keluarga miskin yang tercatat dalam data pemerintah, termasuk mereka yang belum pernah mengenyam pendidikan maupun yang sempat putus sekolah.
Kuota Meningkat, Sebanyak 5.370 Siswa Akan Belajar di 29 Lokasi
Staf Pengolah Data dan Informasi Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur, Muhammad Amiruddien, menjelaskan bahwa pada tahun ajaran 2026, sebanyak 5.370 siswa direncanakan mengikuti pendidikan di 29 lokasi Sekolah Rakyat yang terdiri atas sekolah permanen maupun sekolah rintisan.
Menurutnya, peningkatan kapasitas tersebut menjadi bukti bahwa pemerintah terus memperluas cakupan program agar semakin banyak anak dari keluarga kurang mampu memperoleh kesempatan belajar.
"Lebih banyak sekarang, kemarin buat 2.350, sekarang sekitar 5.310 sampai 5.370. Naiknya hampir dua kali lipat," ujar Muhammad Amiruddien.
Ia mengatakan seluruh lokasi sekolah telah disiapkan untuk menerima peserta didik baru sesuai dengan kapasitas masing-masing.
Setiap Sekolah Permanen Menampung 270 Peserta Didik
Muhammad Amiruddien menjelaskan setiap Sekolah Rakyat permanen dirancang memiliki kapasitas sebanyak 270 siswa.
Meski demikian, komposisi peserta didik pada setiap jenjang pendidikan tidak akan selalu sama.
Jumlah siswa tingkat SD, SMP, maupun SMA akan disesuaikan dengan hasil pendataan dan kebutuhan di masing-masing daerah.
Sebagai contoh, suatu sekolah dapat memiliki satu rombongan belajar tingkat SD, empat tingkat SMP, dan empat tingkat SMA.
Di lokasi lain, komposisinya bisa berbeda, misalnya satu SD, tiga SMP, dan lima SMA.
"Bisa saja satu SD, empat SMP, empat SMA atau satu SD, tiga SMP, lima SMA. Pokoknya tetap 270 siswa bersekolah," jelasnya.
Skema tersebut dibuat agar distribusi peserta didik lebih fleksibel sesuai kondisi riil di lapangan.
Seleksi Menggunakan Sistem Jemput Bola
Untuk memastikan program tepat sasaran, Pemerintah Provinsi Jawa Timur menerapkan sistem jemput bola dalam proses penjaringan calon peserta didik.
Petugas melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat yang memenuhi kriteria penerima manfaat sehingga keluarga yang berhak dapat memperoleh informasi secara menyeluruh mengenai program tersebut.
Calon peserta didik berasal dari keluarga yang masuk kategori desil 1 dan desil 2 berdasarkan data kemiskinan nasional yang telah diverifikasi.
Proses verifikasi dilakukan bersama para pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) serta Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) yang memahami kondisi sosial masyarakat di wilayah masing-masing.
Melalui mekanisme tersebut, pemerintah berharap bantuan pendidikan benar-benar diterima oleh anak-anak yang paling membutuhkan.
Diperuntukkan bagi Anak dari Keluarga Miskin dan Putus Sekolah
Kepala Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur, Restu Novi Widinia, mengatakan Sekolah Rakyat merupakan program yang bertujuan membuka akses pendidikan seluas-luasnya bagi anak-anak dari keluarga miskin.
Selain menyasar anak yang belum mendapatkan kesempatan belajar, program ini juga diperuntukkan bagi mereka yang sempat berhenti sekolah agar dapat kembali melanjutkan pendidikan.
"Program ini secara khusus ditujukan bagi masyarakat miskin pada desil 1, termasuk anak-anak yang belum berkesempatan sekolah maupun yang sudah putus sekolah agar dapat kembali memperoleh akses pendidikan," ujar Restu Novi Widinia.
Menurutnya, pendidikan menjadi salah satu instrumen penting dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat sekaligus memperluas kesempatan memperoleh pekerjaan yang lebih baik di masa mendatang.
Baca Juga: Dugaan Perundungan di Jalan Soekarno-Hatta Tuban Viral, DPRD Minta Polisi Bertindak Tegas dan Cepat
Kegiatan Belajar Mengajar Ditargetkan Dimulai Juli 2026
Pemerintah menargetkan kegiatan belajar mengajar Sekolah Rakyat dimulai pada Juli 2026 bersamaan dengan dimulainya tahun ajaran baru.
Namun demikian, untuk sejumlah lokasi yang pembangunan fasilitasnya masih berlangsung, jadwal operasional dapat bergeser hingga Agustus 2026.
Pemerintah memastikan seluruh proses persiapan terus dipantau agar sekolah dapat beroperasi dengan fasilitas yang memadai dan memberikan kenyamanan bagi para siswa.
Perluasan kuota hingga lebih dari 5.000 peserta didik diharapkan menjadi langkah nyata dalam meningkatkan pemerataan pendidikan di Jawa Timur.
Melalui program Sekolah Rakyat, pemerintah ingin memastikan bahwa keterbatasan ekonomi tidak lagi menjadi penghalang bagi anak-anak untuk memperoleh pendidikan yang layak.
Di sisi lain, program ini juga diharapkan mampu menjadi salah satu strategi jangka panjang dalam memutus rantai kemiskinan melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia di Jawa Timur.
Editor : Muhammad Azlan Syah