RADARBONANG.ID - Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia atau MPR RI resmi memutuskan untuk menggelar ulang babak final Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar 2026 tingkat Provinsi Kalimantan Barat setelah muncul polemik penilaian yang ramai diperbincangkan publik.
Keputusan tersebut diumumkan langsung oleh Ketua MPR RI, Ahmad Muzani, dalam konferensi pers di kompleks parlemen Senayan, Jakarta.
Menurut Muzani, langkah menggelar ulang final LCC diambil sebagai bentuk evaluasi sekaligus tanggung jawab MPR RI terhadap kontroversi yang terjadi dalam pelaksanaan lomba sebelumnya di Pontianak.
“Final LCC di tingkat Kalbar akan kami lakukan ulang. Pimpinan MPR akan mengawasi langsung jalannya lomba tersebut dari awal hingga akhir,” ujar Ahmad Muzani.
Keputusan tersebut langsung menjadi perhatian publik karena sebelumnya polemik penilaian final LCC Empat Pilar Kalbar viral di media sosial dan menuai banyak kritik dari masyarakat.
Dewan Juri Diganti dengan Unsur Independen
Dalam pelaksanaan ulang nanti, MPR RI memastikan akan melakukan perubahan besar pada susunan dewan juri.
Jika sebelumnya terdapat unsur internal MPR dalam jajaran penilai, kini dewan juri akan diambil dari pihak independen seperti akademisi dan kalangan profesional.
Muzani menegaskan bahwa Sekretariat Jenderal MPR RI tetap menjadi penyelenggara kegiatan, namun sistem penilaian akan dibuat lebih transparan dan objektif.
Langkah tersebut diambil untuk menjaga kredibilitas perlombaan sekaligus menghindari polemik serupa terulang kembali.
“Tidak ada juri dari unsur internal MPR seperti sebelumnya,” tegas Muzani.
MPR RI juga mengakui adanya kekhilafan dalam proses penyelenggaraan final sebelumnya yang digelar di Pontianak pada Sabtu, 9 Mei 2026.
Karena itu, keputusan lomba ulang disebut sebagai bentuk langkah korektif atas kesalahan penilaian yang sempat memicu protes dari peserta maupun masyarakat.
MPR Sebut Kritik Publik Bagian dari Demokrasi
Ahmad Muzani mengatakan pihaknya menghargai seluruh masukan dan kritik yang disampaikan masyarakat terkait polemik LCC Empat Pilar tersebut.
Menurutnya, protes yang muncul dari peserta maupun publik merupakan bagian penting dalam proses demokrasi dan evaluasi institusi negara.
“Komitmen kami adalah terus melakukan evaluasi untuk meningkatkan kualitas kegiatan MPR ke depan dengan mendengarkan masukan dari masyarakat,” ujar Muzani.
Ia juga memberikan apresiasi kepada para peserta lomba yang berani menyampaikan keberatan secara terbuka.
Respons terbuka dari peserta dinilai menunjukkan keberanian menyampaikan pendapat secara demokratis dan menjadi pelajaran penting bagi penyelenggara.
Dewan Juri Lama Dinonaktifkan
Sementara itu, Sekretaris Jenderal MPR RI, Siti Fauziah, mengungkapkan bahwa dewan juri lama telah dinonaktifkan sebagai bentuk sanksi atas polemik yang terjadi.
Keputusan tersebut diambil setelah evaluasi internal dilakukan menyusul ramainya kritik publik terhadap jalannya final LCC.
Siti Fauziah menjelaskan bahwa saat ini Sekretariat Jenderal MPR tengah melakukan koordinasi teknis untuk memastikan lomba ulang dapat berjalan maksimal.
Menurut rencana, final ulang LCC Empat Pilar Kalbar akan tetap dilaksanakan pada bulan Mei 2026.
“Untuk tanggalnya, kami masih akan koordinasikan, karena semua persiapan harus matang. Jika memungkinkan, kami akan menyelesaikan persiapan dalam minggu ini,” jelas Siti Fauziah.
MPR berharap pelaksanaan ulang nanti dapat berlangsung lebih profesional dan mampu mengembalikan kepercayaan publik terhadap kegiatan tersebut.
Tiga SMA Jadi Sorotan dalam Polemik Final LCC
Sebelumnya, final LCC Empat Pilar tingkat Provinsi Kalimantan Barat di Pontianak melibatkan tiga sekolah menengah atas terbaik.
Ketiga sekolah tersebut adalah:
- SMA Negeri 1 Pontianak
- SMA Negeri 1 Sambas
- SMA Negeri 1 Sanggau
Polemik muncul saat sesi pertanyaan rebutan berlangsung.
Peserta sempat mengajukan keberatan terhadap hasil penilaian yang diberikan dewan juri karena dianggap tidak sesuai.
Namun respons yang diberikan juri justru memicu kontroversi baru dan menjadi viral di media sosial.
Nama pejabat internal MPR RI yang menjadi juri, yakni Dyastasita W.B. dan Indri Wahyuni, turut menjadi sorotan publik dalam polemik tersebut.
Viralnya insiden itu akhirnya mendorong MPR RI mengambil langkah cepat dengan menggelar ulang final dan mengganti seluruh dewan juri demi menjaga integritas perlombaan.
Editor : Muhammad Azlan Syah