RADARBONANG.ID – Kritik terhadap sistem rekrutmen guru kembali menguat.
Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) menilai kebijakan pengangkatan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) masih menyisakan banyak persoalan, terutama dalam menjawab tantangan kualitas pendidikan nasional.
Koordinator Nasional Satriwan Salim menegaskan bahwa pemerintah perlu melakukan evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola tenaga pendidik.
Bahkan, pihaknya mendorong Presiden Prabowo Subianto untuk mengalihkan kuota rekrutmen menjadi 400 ribu formasi Pegawai Negeri Sipil (PNS).
Baca Juga: Polri Perketat Pengawasan Perlintasan KA dengan ETLE, Targetkan Tekan Pelanggaran dan Kecelakaan
Rendahnya Kemampuan Numerasi Jadi Alarm
Dorongan ini tidak lepas dari kondisi pendidikan Indonesia yang dinilai masih tertinggal.
Data dari PISA 2022 menunjukkan kemampuan numerasi siswa Indonesia berada di angka 366, jauh di bawah rata-rata global yang mencapai 472.
Angka tersebut menjadi indikator bahwa kemampuan dasar siswa, khususnya dalam berhitung, masih perlu perhatian serius.
Tidak hanya itu, hasil Tes Kompetensi Akademik (TKA) 2026 juga menunjukkan kondisi yang serupa.
Rata-rata nilai siswa SMA di berbagai mata pelajaran masih tergolong rendah.
Nilai Akademik Siswa Dinilai Memprihatinkan
Dalam laporan tersebut, nilai Bahasa Indonesia tercatat di angka 55,38.
Sementara Matematika hanya mencapai 36,10 dan Fisika berada di angka 37,65.
Yang lebih mengkhawatirkan, dua mata pelajaran mencatat skor paling rendah. Ekonomi hanya berada di angka 31,68, sedangkan Bahasa Inggris menjadi yang terendah dengan skor 24,93.
Menurut P2G, kondisi ini bukan sekadar angka statistik, melainkan gambaran nyata kualitas pembelajaran yang perlu segera diperbaiki.
Ancaman bagi Generasi Indonesia 2045
Satriwan mengingatkan bahwa rendahnya kualitas pendidikan bisa berdampak besar terhadap masa depan bangsa, khususnya dalam menyongsong visi Indonesia Emas 2045.
Ia menyebut bahwa tanpa perbaikan serius, Indonesia berisiko memiliki generasi yang kuat secara fisik namun lemah dalam kemampuan berpikir kritis.
Kondisi ini dinilai berbahaya karena dapat menciptakan paradoks: generasi yang tampak unggul secara luar, tetapi rapuh dalam kapasitas intelektual.
Lima Pilar Perbaikan Pendidikan
P2G menilai perbaikan kualitas pendidikan harus dilakukan secara menyeluruh melalui lima pilar utama, yaitu kompetensi, kesejahteraan, rekrutmen, distribusi, dan perlindungan guru.
Kelima aspek tersebut harus dibenahi secara bersamaan. Jika salah satu aspek diabaikan, maka kebijakan pendidikan tidak akan berjalan optimal.
Dalam konteks ini, sistem rekrutmen menjadi salah satu titik krusial yang perlu segera diperbaiki.
Kritik terhadap Kebijakan PPPK
Salah satu sorotan utama P2G adalah kebijakan PPPK, khususnya skema PPPK paruh waktu yang dinilai belum memberikan keadilan bagi para guru.
Menurut Satriwan, kebijakan tersebut berpotensi merugikan tenaga pendidik karena tidak memberikan kepastian yang memadai, baik dari sisi kesejahteraan maupun karier.
Ia menilai bahwa sistem rekrutmen guru saat ini masih belum tertata dengan baik dan cenderung tidak merata.
Usulan Reformasi dan Sentralisasi Pengelolaan Guru
Sebagai solusi, P2G mengusulkan reformasi besar dalam tata kelola guru, termasuk kemungkinan pengalihan kewenangan dari pemerintah daerah ke pemerintah pusat.
Langkah ini dinilai perlu dilakukan melalui revisi Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional.
Dengan sistem yang lebih terpusat, diharapkan pengelolaan guru menjadi lebih terstruktur, transparan, dan berkeadilan.
Dorongan Alih Kuota ke Formasi PNS
Selain itu, P2G juga mendorong agar pemerintah mengalihkan fokus rekrutmen dari PPPK ke formasi PNS dalam jumlah besar, yakni hingga 400 ribu posisi.
Langkah ini dianggap dapat memberikan kepastian status dan meningkatkan motivasi guru dalam menjalankan tugasnya.
Baca Juga: Polri Perketat Pengawasan Perlintasan KA dengan ETLE, Targetkan Tekan Pelanggaran dan Kecelakaan
PNS dinilai memiliki sistem yang lebih jelas dalam hal jenjang karier, kesejahteraan, serta perlindungan hukum.
Perlu Langkah Cepat dan Tepat
P2G menegaskan bahwa pembenahan sistem pendidikan tidak bisa ditunda. Dengan tantangan global yang semakin kompleks, Indonesia membutuhkan sumber daya manusia yang unggul dan kompetitif.
Perbaikan kualitas guru menjadi kunci utama dalam menciptakan generasi yang mampu bersaing di tingkat internasional.
Oleh karena itu, kebijakan rekrutmen dan pengelolaan guru harus benar-benar dirancang secara matang dan berorientasi jangka panjang.
Editor : Muhammad Azlan Syah