RADARBONANG.ID – Di balik layar kelas yang tampak tenang, para guru zaman now menjalani profesi yang makin mirip “superhero tanpa jubah”.
Bukan hanya mengajar, mereka dituntut menguasai aplikasi pembelajaran, mengedit video materi, memahami psikologi murid, menjadi customer service bagi orang tua, sekaligus harus tampil sempurna di ruang publik.
Meski serba bisa, posisi mereka kerap serba salah. Namun, justru di titik itulah peran guru makin terasa: pahlawan tanpa panggung yang sering bekerja jauh lebih keras dari yang terlihat.
Tekanan Era Digital: Guru Dituntut Jadi Multitasking Master
Dulu guru hanya berbekal kapur dan papan tulis. Sekarang? Guru harus fasih memakai Google Classroom, membuat presentasi yang estetis, merekam video pembelajaran saat siswa tidak hadir, hingga belajar algoritma TikTok karena sekolah ingin ikut tren edukasi lewat konten.
Seorang guru SMP di Surabaya mengaku kini pekerjaannya nyaris tak punya batas waktu. “Kalau murid jam 10 malam nanya tugas, kita harus jawab karena takut dibilang nggak peduli,” ujarnya.
Belum lagi komentar publik yang mudah viral jika ada potongan video kelas yang disalahpahami.
Serba Salah: Salah Satu Profesi yang Paling Mudah Dikritik
- Guru harus tegas—tapi tidak boleh terlihat marah.
- Guru harus dekat dengan murid—tapi jangan sampai dianggap terlalu akrab.
- Guru harus disiplin—tapi jangan membuat murid tertekan.
Keseimbangan seperti ini sulit, tapi menjadi tuntutan harian.
Di media sosial, guru menjadi salah satu profesi paling cepat diperdebatkan. Kesalahan kecil bisa jadi headline.
Padahal, banyak guru bekerja dalam tekanan: gaji terbatas, fasilitas tidak merata, dan ekspektasi publik yang makin tinggi.
Ketika Guru Menjadi Konselor Emosi
Murid generasi sekarang tak sekadar butuh pelajaran. Mereka membutuhkan pendengar, tempat curhat, dan sosok yang bisa memulihkan motivasi belajar.
Beberapa guru mengakui bahwa 30% hingga 40% waktu mereka habis untuk mendengarkan cerita murid tentang kecemasan, konflik pertemanan, hingga tekanan akademik.
Guru BK makin kewalahan. Guru mata pelajaran pun ikut mengambil peran sebagai “konselor dadakan” agar murid tetap stabil secara emosi. Ironisnya, hampir tidak ada pelatihan resmi untuk peran ini.
Panggung yang Tak Pernah Terang
Meski begitu, apresiasi terhadap guru belum seimbang dengan beban kerja mereka. Konten viral tentang guru jarang sebanding dengan kenyataan bahwa mereka:
- Pulang paling akhir
- Masih mengoreksi tugas saat akhir pekan
- Membeli alat praktik dengan uang pribadi
- Mengajar kelas besar dengan fasilitas minim
- Merangkap admin sekolah karena kurang tenaga staf
Ini membuat profesi guru berada dalam “zona sunyi apresiasi”. Mereka bukan influencer, tapi pengaruh mereka terhadap masa depan murid jauh lebih besar.
Guru di Mata Murid: Sosok yang Tak Tergantikan oleh Teknologi
Meski AI, video pembelajaran, dan platform digital berkembang pesat, peran guru justru makin krusial.
- Teknologi bisa mengajar, tapi tidak bisa memahami tatapan murid yang sedang sedih.
- AI bisa memberi jawaban, tapi tidak bisa memberi semangat dengan ketulusan.
- Aplikasi bisa memberi soal, tapi tidak bisa membangun karakter.
Pada akhirnya, guru tetap menjadi fondasi pendidikan dan figur yang tak tergantikan dalam membentuk generasi masa depan.
Pahlawan Tanpa Panggung, Tapi Tidak Pernah Tanpa Arti
Hari ini guru bukan hanya pengajar. Mereka motivator, pembimbing, problem solver, dan penjaga masa depan murid.
Meski sering berada di posisi serba salah, mereka tetap hadir, tetap bertahan, dan tetap berjuang.
Panggung mungkin tidak pernah terang bagi mereka. Tapi dampak mereka akan terus menyala dalam hidup tiap murid yang pernah disentuhnya.(*)
Editor : Muhammad Azlan Syah