RADARBONANG.ID – Kebutuhan metode pembelajaran yang efektif untuk mendukung perkembangan siswa autis, terutama pada keterampilan komunikasi dan interaksi sosial, semakin mendesak.
Menjawab tantangan itu, tim dosen Universitas PGRI Ronggolawe Tuban (Unirow) turun langsung berbagi ilmu kepada para tenaga pendidik di sekolah inklusi yang ada di Kabupaten Tuban.
Mereka yang mendapat kesempatan belajar adalah para kepala sekolah dan guru yang tergabung dalam Kelompok Kerja Guru (KKG) 04 Bima Jaya.
Sekolah inklusi di bawah naungan KKG tersebut meliputi SDN Sidorejo 1, SDN Sidorejo 2, SDN Sidorejo 3, SDN Doromukti, SDI Insan Kamil, serta SDIT Al Uswah Tuban.
Pelatihan itu mengusung tema Pengembangan Modul Ajar Berbasis DIR Floortime Berbantuan Multimedia Interaktif untuk Meningkatkan Keterampilan Komunikasi dan Interaksi Sosial Siswa Autis.
Metode DIR Floortime sendiri dikenal sebagai pendekatan pembelajaran yang menekankan interaksi emosional dan bermain untuk membangun fondasi kuat dalam komunikasi serta hubungan sosial anak.
Program pendampingan berlangsung intensif selama delapan bulan, dimulai sejak 16 Juli.
Tim akademisi Unirow yang terjun langsung adalah Ina Agustin, M.Pd, Sri Cacik, M.Pd, dan Ifa Seftia Rakhma Widiyanti, S.Pd., M.Pd, dengan dukungan mahasiswa dari Prodi PGSD dan Pendidikan Biologi.
Ketua tim pengabdian masyarakat Unirow Tuban, Ina Agustin, menegaskan, “Kita berharap inovasi ini menjadi inspirasi bagi para pendidik lainnya untuk terus berkreasi demi masa depan anak-anak Indonesia yang lebih baik.”
Menurutnya, pengabdian masyarakat ini adalah bukti komitmen kampus dalam melaksanakan Tridharma Perguruan Tinggi.
Dia menambahkan bahwa kegiatan tersebut didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat Tahun Pendanaan 2025.
Ina menegaskan, “Kegiatan ini fokus pada tujuan meningkatkan kualitas pendidikan, khususnya bagi siswa autis dan tenaga pendidik di sekolah penyelenggara pendidikan inklusi.”
Dalam pelatihan, tim Unirow memperkenalkan pemanfaatan multimedia interaktif berbasis Google Sites sebagai media pendukung modul ajar.
Hal ini bertujuan agar pembelajaran menjadi lebih menarik sekaligus menyesuaikan kebutuhan individual setiap siswa autis.
“Dalam pelatihan tersebut, pendidik inklusi kita diberikan wawasan dan keterampilan praktis dalam mengembangkan modul ajar yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan individu setiap anak,” jelas Ina.
Melalui pendekatan ini, proses belajar diharapkan lebih personal dan efektif sehingga siswa autis dapat lebih mudah berkomunikasi serta berinteraksi dalam keseharian mereka.
Ketua K3S, Agus Susanto, S.Pd, M.Pd, memberikan apresiasi tinggi terhadap program ini.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada Unirow, khususnya narasumber atas dedikasi dan ilmunya yang luar biasa,” ujarnya.
Dia berharap kolaborasi dengan Unirow bisa terus berlanjut untuk meningkatkan kompetensi guru di sekolah inklusi.
“Semoga setiap modul ajar yang kita kembangkan menjadi jalan bagi terbukanya potensi luar biasa dari setiap siswa,” tambahnya. (*)
Editor : Amin Fauzie