ISPU Tabalong Sempat Tembus 938, Kualitas Udara Kalsel Memburuk akibat Kabut Asap Karhutla

Muhammad Azlan Syah • Dipublikasikan Senin, 12 Oktober 2026 | 18:52 WIB
Kabut asap akibat karhutla memperburuk kualitas udara di Balangan dan Tabalong, Kalimantan Selatan. Konsentrasi PM2.5 meningkat dan kualitas udara sempat masuk kategori berbahaya. (banuatoday.com)
Kabut asap akibat karhutla memperburuk kualitas udara di Balangan dan Tabalong, Kalimantan Selatan. Konsentrasi PM2.5 meningkat dan kualitas udara sempat masuk kategori berbahaya. (banuatoday.com)

RADARBONANG.ID – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berdampak pada memburuknya kualitas udara di sejumlah wilayah Kalimantan Selatan.

Kabupaten Balangan mengalami pencemaran udara pada kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat, sementara kualitas udara di Kabupaten Tabalong sempat masuk kategori berbahaya.

Kondisi tersebut dipicu oleh kabut asap yang menyelimuti kawasan permukiman dan mengganggu aktivitas masyarakat.

Partikel halus PM2.5 menjadi salah satu polutan utama yang perlu diwaspadai karena dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan.

Berdasarkan pemantauan yang dilaporkan pada Senin (12/10/2026), kualitas udara di Balangan menunjukkan peningkatan konsentrasi partikel halus sejak tengah malam hingga menjelang siang.

Sementara itu, Tabalong sempat mencatat indeks pencemaran udara dalam kategori berbahaya pada Minggu (11/10/2026).

Baca Juga: BMKG Prakirakan Hujan Ringan hingga Petir di Sejumlah Kota Hari Ini

Kondisi ini membuat masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama saat beraktivitas di luar ruangan.

Paparan kabut asap dalam konsentrasi tinggi berisiko mengganggu kesehatan, khususnya bagi anak-anak, lanjut usia, dan orang yang memiliki gangguan pernapasan.

Kualitas Udara Balangan Memburuk pada Pagi Hari

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Balangan merilis peringatan dini kualitas udara pada Senin (12/10/2026).

Kepala Pelaksana BPBD Balangan, Rahmi, menyampaikan bahwa konsentrasi partikulat PM2.5 menunjukkan tren peningkatan sejak tengah malam hingga menjelang siang.

Berdasarkan pemantauan Stasiun Klimatologi yang dikutip dalam laporan Radar Banjarmasin, kualitas udara Balangan pada umumnya berada dalam kategori tidak sehat selama periode pukul 00.00 hingga 09.00 WITA.

Kondisi terburuk terjadi pada pukul 07.00 hingga 08.00 WITA, ketika konsentrasi PM2.5 mencapai 158,4 mikrogram per meter kubik. Angka tersebut masuk kategori sangat tidak sehat.

Waktu tersebut bertepatan dengan jam masyarakat mulai beraktivitas, termasuk berangkat bekerja dan bersekolah.

Karena itu, peningkatan pencemaran udara menjadi perhatian bagi warga yang harus melakukan perjalanan pada pagi hari.

Rahmi mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama ketika paparan kabut asap berada pada tingkat tinggi.

Jika harus keluar rumah, masyarakat disarankan menggunakan masker yang sesuai untuk membantu mengurangi paparan partikel halus.

Tabalong Sempat Mencatat Kategori Berbahaya

Kondisi lebih mengkhawatirkan juga terjadi di Kabupaten Tabalong, yang berbatasan dengan Balangan.

Pada Minggu (11/10/2026), kualitas udara Tabalong sempat masuk kategori berbahaya berdasarkan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU).

Dalam laporan sebelumnya, stasiun pemantauan di Jalan A. Yani, Mabuun, Tabalong, juga mencatat lonjakan ISPU hingga 938 pada Jumat (9/10/2026). Angka tersebut berasal dari pemantauan partikel halus PM2.5.

Namun, data tersebut perlu dibaca sesuai waktu pengukurannya.

Indeks kualitas udara dapat berubah dari waktu ke waktu bergantung pada konsentrasi polutan, kondisi cuaca, serta pergerakan angin yang membawa asap dari lokasi kebakaran.

Data pemantauan di Tabalong juga tidak otomatis menggambarkan kondisi setiap wilayah di Balangan.

Keduanya merupakan kabupaten berbeda sehingga pengukuran kualitas udara perlu dilihat berdasarkan lokasi stasiun dan waktu pencatatan.

Meski demikian, kabut asap yang meluas tetap menjadi perhatian karena dapat mengganggu kesehatan dan mengurangi jarak pandang di jalan raya.

PM2.5 Berisiko Mengganggu Kesehatan

Partikel PM2.5 merupakan partikel udara berukuran sangat kecil, dengan diameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil.

Ukurannya membuat partikel ini dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan.

Paparan PM2.5 dalam konsentrasi tinggi dapat memperburuk gangguan pernapasan, memicu iritasi, dan meningkatkan risiko masalah kesehatan, terutama pada kelompok rentan.

Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang yang memiliki asma atau penyakit jantung dan paru-paru perlu lebih berhati-hati ketika kualitas udara memburuk.

Masyarakat juga perlu memperhatikan gejala seperti batuk, sesak napas, iritasi mata, atau tenggorokan terasa tidak nyaman setelah terpapar asap.

Jika keluhan berat atau terus berlanjut, segera cari pertolongan medis.

Untuk mengurangi paparan, warga disarankan membatasi kegiatan di luar ruangan dan menutup pintu serta jendela ketika asap masuk ke lingkungan rumah.

Apabila tersedia, penyaring udara dalam ruangan dapat membantu mengurangi partikel yang beredar.

Penggunaan masker yang sesuai, seperti respirator N95 atau KN95 yang terpasang dengan baik, juga dapat membantu menyaring partikel halus ketika masyarakat terpaksa beraktivitas di luar ruangan.

Kabut Asap Mengganggu Aktivitas dan Jarak Pandang

Selain berdampak pada kesehatan, kabut asap karhutla juga dapat mengganggu mobilitas masyarakat.

Asap yang pekat berpotensi mengurangi jarak pandang pengendara, terutama pada pagi hari atau ketika kondisi atmosfer membuat asap bertahan dekat permukaan tanah.

Pengendara yang melintas di kawasan terdampak diminta mengurangi kecepatan, menjaga jarak aman, dan menyalakan lampu kendaraan sesuai kondisi jalan.

Jika jarak pandang terlalu terbatas, sebaiknya menunda perjalanan apabila tidak mendesak.

Pengendara juga perlu menghindari tindakan yang dapat meningkatkan risiko kecelakaan, seperti berkendara terlalu dekat dengan kendaraan di depan.

Di sisi lain, aktivitas pembakaran lahan dan sampah perlu dihindari karena dapat menambah pencemaran udara.

Masyarakat yang menemukan kebakaran atau titik asap dapat melaporkannya kepada petugas terkait agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat.

Masyarakat Diminta Mengikuti Informasi Resmi

Kondisi kualitas udara dapat berubah dalam waktu singkat.

Perubahan arah angin, cuaca, serta perkembangan kebakaran dapat memengaruhi seberapa banyak asap yang menyelimuti suatu wilayah.

Karena itu, masyarakat di Balangan dan Tabalong perlu mengikuti pembaruan kualitas udara dari instansi terkait, termasuk BPBD, dinas lingkungan hidup, serta kanal pemantauan resmi pemerintah.

Informasi tersebut dapat menjadi pertimbangan untuk menentukan aktivitas di luar ruangan, perjalanan, dan langkah perlindungan bagi anggota keluarga yang rentan.

Baca Juga: Ikan Asli Kian Sulit Ditemukan, Ekosistem Danau Sentani Hadapi Ancaman Serius

Penanganan karhutla juga memerlukan upaya bersama.

Selain pemadaman oleh petugas, pencegahan pembakaran terbuka dan pelaporan dini terhadap kebakaran menjadi bagian penting untuk mengurangi dampak asap.

Memburuknya kualitas udara di Balangan dan Tabalong menjadi pengingat bahwa karhutla tidak hanya merusak kawasan hutan dan lahan.

Asap yang dihasilkan dapat menjalar ke permukiman, mengganggu kesehatan masyarakat, serta memengaruhi kegiatan sehari-hari.

Selama pencemaran udara masih tinggi, masyarakat perlu mengutamakan keselamatan dengan mengurangi paparan asap dan mengikuti imbauan resmi dari pihak berwenang.

Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : jawapos.com
bahaya PM2.5 karhutla Kalimantan Selatan kualitas udara Balangan ISPU Tabalong kabut asap Kalsel