RADARBONANG.ID – Prediksi Jakarta bakal tenggelam pada 2050 kerap memunculkan kekhawatiran.
Namun, ancaman tersebut bukan semata-mata disebabkan kenaikan permukaan air laut, melainkan juga berkaitan dengan penurunan muka tanah yang terjadi di sejumlah wilayah ibu kota.
Dalam video di kanal YouTube Dari Suara, persoalan tersebut dijelaskan melalui sejumlah faktor, mulai dari pengambilan air tanah secara berlebihan hingga karakteristik tanah pesisir yang rentan mengalami pemadatan.
Baca Juga: Siap War Tiket BIGBANG Jakarta 2027? Cek Harga Mulai Rp1,55 Juta dan Jadwal Penjualannya
Penurunan muka tanah atau land subsidence menjadi salah satu tantangan serius bagi Jakarta, terutama kawasan utara.
Ketika permukaan tanah terus turun, risiko banjir rob dan dampak kenaikan permukaan laut dapat semakin besar.
Meski demikian, prediksi Jakarta tenggelam pada 2050 tidak berarti seluruh wilayah ibu kota pasti akan berada di bawah air pada tahun tersebut.
Risiko yang dihadapi berbeda-beda berdasarkan lokasi, tingkat penurunan tanah, kondisi pesisir, dan upaya pengendalian yang dilakukan.
Penyedotan Air Tanah Memperparah Penurunan Daratan
Salah satu faktor yang disoroti dalam video tersebut adalah pengambilan air tanah secara masif untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga maupun kegiatan usaha.
Ulasan dalam video tersebut mengibaratkan lapisan tanah seperti spons yang menyimpan air di dalam pori-porinya.
Ketika air tanah diambil secara berlebihan, lapisan tanah tertentu dapat mengalami pemadatan sehingga permukaan di atasnya ikut turun.
Namun, penurunan muka tanah tidak terjadi dengan laju yang sama di seluruh Jakarta. Kecepatan dan besarnya penurunan dipengaruhi kondisi geologi, kedalaman pengambilan air tanah, serta karakteristik lapisan tanah di setiap wilayah.
Dalam video yang sama, narasi mengulas lebih dari 40 persen wilayah Jakarta berada di bawah permukaan laut, terutama di bagian utara.
"Data soal seberapa cepat Jakarta ambles emang beda-beda. Tergantung wilayah dan periode pengukurannya. Tapi kalau kita lihat gambaran besarnya, lebih dari 40 persen wilayah Jakarta sekarang sudah berada di bawah permukaan laut, terutama di bagian utara." bunyi narasi dalam tayangan video tersebut.
Kawasan pesisir seperti Muara Baru dan Cilincing juga disoroti karena mengalami penurunan permukaan tanah yang signifikan.
Dalam video tersebut, penurunannya disebut telah melampaui empat meter selama beberapa dekade terakhir.
Selain pengambilan air tanah, beban bangunan di atas lapisan tanah lunak dan berkurangnya area resapan dapat memperumit persoalan pengelolaan air di perkotaan.
Ketika permukaan tanah tertutup beton, air hujan lebih sulit meresap secara alami ke dalam tanah.
Kombinasi berbagai faktor tersebut membuat sebagian kawasan Jakarta menghadapi risiko banjir yang semakin kompleks.
Karena itu, ancaman terhadap ibu kota perlu dipahami melalui kondisi setiap wilayah, bukan hanya berdasarkan satu angka atau satu tahun prediksi.
Perluasan Air Perpipaan dan Tanggul Laut Jadi Upaya Mitigasi
Pemerintah juga menjalankan sejumlah upaya untuk mengurangi risiko penurunan muka tanah dan banjir pesisir.
Salah satu langkah yang disoroti adalah memperluas layanan air perpipaan PAM Jaya agar kebutuhan masyarakat tidak terlalu bergantung pada pengambilan air tanah.
Cakupan layanan perpipaan pada pertengahan 2026 disebut telah mencapai sekitar 82 persen. Narator juga menyebut target cakupan 100 persen pada 2029.
Peningkatan akses air perpipaan diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap air tanah.
Namun, keberhasilannya juga bergantung pada ketersediaan pasokan, keterjangkauan layanan, dan kepatuhan terhadap pengendalian pengambilan air tanah.
Pasokan tambahan yang disebut dalam video tersebut mencakup Waduk Karian dan proyek Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Jatiluhur.
Infrastruktur ini menjadi bagian dari upaya memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat Jakarta dan sekitarnya.
Di sisi lain, pembangunan tanggul laut juga dilakukan untuk membantu melindungi kawasan pesisir dari banjir rob.
Meski demikian, tanggul tidak dapat menggantikan upaya mengendalikan penurunan muka tanah maupun memperbaiki tata kelola air.
Penanganan ancaman Jakarta memerlukan langkah yang berjalan beriringan, mulai dari pengawasan penggunaan air tanah, perluasan jaringan air bersih, penguatan perlindungan pesisir, hingga pengelolaan drainase dan ruang resapan. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari