RADARBONANG.ID – Isu gempa megathrust kerap memunculkan kekhawatiran di tengah masyarakat.
Informasi mengenai potensi gempa besar, terutama di wilayah selatan Jawa, dapat memicu kepanikan apabila tidak disertai penjelasan yang mudah dipahami dan panduan menghadapi bencana.
Pakar Manajemen dan Mitigasi Bencana Universitas Airlangga (UNAIR), Dr Hijrah Saputra, ST, MSc, menekankan pentingnya komunikasi kebencanaan yang berorientasi pada solusi.
Menurutnya, masyarakat perlu diarahkan untuk memahami risiko dan meningkatkan kesiapsiagaan, bukan sekadar menerima informasi yang menimbulkan ketakutan.
Dalam keterangannya yang dimuat UNAIR News pada 30 September 2026, Hijrah menjelaskan bahwa Indonesia berada di pertemuan tiga lempeng tektonik utama, yakni Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik.
Baca Juga: 10 Drama Korea tentang Bangkit setelah Kehilangan Pekerjaan, Kisahnya Dekat dengan Perjuangan Hidup
Kondisi tersebut membuat Indonesia memiliki potensi aktivitas seismik, termasuk gempa megathrust.
Meski demikian, informasi mengenai potensi gempa tidak berarti bencana akan terjadi dalam waktu dekat.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga menegaskan bahwa waktu, lokasi, dan kekuatan gempa belum dapat diprediksi secara akurat.
Karena itu, masyarakat perlu tetap tenang sambil meningkatkan kesiapan menghadapi kemungkinan bencana.
Komunikasi Bencana Jangan Memicu Kepanikan
Menurut Hijrah, penyampaian informasi kebencanaan perlu menggunakan bahasa yang sederhana, jelas, dan mudah dipahami masyarakat.
Istilah teknis yang tidak disertai penjelasan berpotensi membuat informasi sulit dicerna, terutama oleh masyarakat yang belum memiliki pemahaman memadai mengenai risiko gempa.
Komunikasi bencana juga sebaiknya tidak hanya menonjolkan ancaman, tetapi memberikan arahan mengenai tindakan yang bisa dilakukan.
Masyarakat perlu mengetahui apa yang harus disiapkan sebelum bencana, bagaimana menyelamatkan diri ketika gempa terjadi, serta ke mana harus menuju jika diperlukan evakuasi.
Pesan yang disampaikan berbagai lembaga juga harus konsisten dan terkoordinasi.
Informasi yang saling bertentangan dapat menambah kebingungan, terlebih ketika masyarakat menerima kabar dari media sosial, grup percakapan, dan berbagai sumber lain secara bersamaan.
Hijrah turut menekankan pentingnya melibatkan tokoh agama, tokoh adat, komunitas lokal, dan media lokal dalam penyampaian informasi kebencanaan.
Pendekatan tersebut diharapkan membuat pesan kesiapsiagaan lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.
Ia juga mengingatkan bahwa rasa takut ketika menghadapi ancaman bencana merupakan hal yang wajar.
Namun, kepanikan tidak boleh sampai mengendalikan tindakan seseorang.
Karena itu, edukasi dan latihan kesiapsiagaan perlu dilakukan secara berkelanjutan, bukan hanya ketika isu gempa besar sedang ramai dibicarakan.
Mengenal Risiko Megathrust Tanpa Salah Memahami Informasi
Gempa megathrust berkaitan dengan aktivitas pada zona penunjaman lempeng tektonik.
Tekanan yang terakumulasi dalam waktu lama dapat dilepaskan melalui gempa bumi ketika kondisi batuan tidak lagi mampu menahan tekanan tersebut.
Wilayah selatan Jawa menjadi salah satu kawasan yang mendapat perhatian karena terdapat segmen yang dikenal sebagai seismic gap, yakni bagian zona seismik yang dalam periode tertentu belum melepaskan akumulasi energinya melalui gempa besar.
Namun, keberadaan zona tersebut tidak dapat dijadikan dasar untuk memastikan gempa besar akan terjadi pada tanggal atau waktu tertentu.
BMKG telah mengingatkan bahwa informasi mengenai potensi megathrust bukanlah prediksi waktu terjadinya gempa maupun peringatan bahwa gempa besar akan segera berlangsung.
Masyarakat karena itu perlu membedakan informasi tentang potensi bahaya dengan peringatan dini yang dikeluarkan berdasarkan kondisi aktual.
Informasi yang beredar di media sosial sebaiknya diperiksa terlebih dahulu melalui kanal resmi BMKG, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), atau Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
Memahami perbedaan tersebut penting agar masyarakat tidak mengabaikan risiko, tetapi juga tidak mengambil keputusan berdasarkan kabar yang belum terverifikasi.
Kesiapsiagaan Harus Dimulai dari Rumah
Selain komunikasi yang tepat, kesiapsiagaan perlu dibangun mulai dari lingkungan keluarga.
Setiap anggota keluarga sebaiknya mengetahui langkah yang harus dilakukan ketika gempa terjadi, termasuk tempat berlindung sementara dan jalur keluar yang aman.
Masyarakat juga perlu mengenali kondisi bangunan tempat tinggal.
Perabot berat sebaiknya ditempatkan dengan aman agar tidak mudah roboh atau bergeser saat terjadi guncangan.
Jalur keluar rumah perlu dijaga agar tidak terhalang barang-barang.
BMKG menyarankan masyarakat menyiapkan perlengkapan darurat, seperti kotak pertolongan pertama, senter, radio, makanan, dan air.
Obat-obatan pribadi serta dokumen penting juga dapat disiapkan sesuai kebutuhan keluarga.
Latihan sederhana bersama keluarga dapat membantu setiap orang memahami perannya ketika keadaan darurat terjadi.
Misalnya, menentukan tempat berkumpul setelah evakuasi, mengetahui kontak anggota keluarga, dan memastikan anak-anak memahami cara meminta bantuan.
Bagi masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir, pengetahuan mengenai jalur evakuasi tsunami juga sangat penting.
Apabila gempa kuat atau berlangsung cukup lama dirasakan di kawasan pantai, masyarakat perlu segera menjauhi pantai dan mengikuti jalur evakuasi menuju tempat yang lebih tinggi atau lokasi aman sesuai arahan petugas.
Peran Pemerintah dan Komunitas Sama Pentingnya
Kesiapsiagaan tidak cukup dibebankan kepada individu dan keluarga.
Pemerintah daerah, BPBD, lembaga pendidikan, komunitas, serta pengelola fasilitas umum juga perlu memastikan masyarakat memahami risiko di lingkungan masing-masing.
Hijrah menilai pemetaan potensi bahaya, penentuan jalur evakuasi, dan pelaksanaan simulasi harus saling terhubung.
Setiap wilayah memiliki karakteristik risiko berbeda sehingga langkah mitigasi perlu disesuaikan dengan kondisi setempat.
Sistem peringatan dini atau early warning system (EWS) juga perlu didukung oleh penyebaran informasi yang efektif dan kemampuan masyarakat untuk merespons.
Menurut Hijrah, sistem tersebut mencakup empat komponen utama, yaitu pengetahuan risiko, pemantauan dan peringatan, penyebaran informasi, serta kemampuan masyarakat melakukan respons.
Artinya, teknologi peringatan dini tidak akan memberikan hasil maksimal apabila masyarakat tidak memahami arti peringatan atau tidak mengetahui langkah yang harus dilakukan setelah menerimanya.
Simulasi secara berkala dapat membantu menguji kesiapan tersebut.
Melalui latihan, masyarakat dapat mengenali jalur evakuasi, memahami instruksi petugas, dan mengidentifikasi hambatan yang perlu diperbaiki sebelum bencana benar-benar terjadi.
Tetap Tenang, tetapi Jangan Mengabaikan Risiko
Menghadapi isu megathrust bukan berarti masyarakat harus terus-menerus merasa takut.
Sikap yang lebih tepat adalah memahami potensi bahaya, memeriksa informasi dari sumber tepercaya, dan melakukan persiapan sesuai kondisi wilayah masing-masing.
Ketika informasi mengenai gempa besar beredar, masyarakat sebaiknya tidak langsung menyebarkan pesan yang belum jelas sumbernya.
Informasi yang menimbulkan kepanikan tanpa memberikan panduan tindakan justru dapat menghambat upaya kesiapsiagaan.
Baca Juga: Kenali 3 Shio yang Konon Sulit Menyimpan Cerita Orang Lain, dari Ayam hingga Kelinci
Sebaliknya, informasi yang baik perlu menjelaskan risiko secara proporsional sekaligus memberikan langkah konkret yang dapat dilakukan masyarakat.
Pada akhirnya, upaya mencegah kepanikan tidak berarti menghilangkan kewaspadaan.
Keduanya perlu berjalan beriringan agar masyarakat dapat merespons ancaman bencana dengan lebih terarah.
Dengan komunikasi yang jelas, edukasi berkelanjutan, latihan evakuasi, serta persiapan di tingkat keluarga dan komunitas, masyarakat diharapkan lebih siap menghadapi gempa bumi tanpa terjebak dalam ketakutan akibat informasi yang keliru.
Editor : Muhammad Azlan SyahSumber : goodnewsfromindonesia.id