180 Kg Karbohidrat dan Gula Vs 10 Kg Protein Hewani, Pakar Soroti Ketimpangan Pangan Indonesia

Dya Laras Miftaqu Rohmah • Dipublikasikan Rabu, 7 Oktober 2026 | 16:00 WIB
Dominasi gula dan karbohidrat dalam pola makan menjadi ancaman di tengah rendahnya konsumsi protein hewani. (ilustrasi AI)
Dominasi gula dan karbohidrat dalam pola makan menjadi ancaman di tengah rendahnya konsumsi protein hewani. (ilustrasi AI)

RADARBONANG.ID - Di tengah upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan menekan angka stunting, persoalan keseimbangan asupan makanan masnyarakat Indonesia masih menjadi perhatian pakar.

Salah satu yang disoroti adalah tingginya konsumsi karbohidrat dan gula dibandingkan protein hewani.

Dalam podcast Kelas Pakar bersama kanal Youtube Malaka Project, pakar pangan dan lingkungan Felix Zulhendri, Ph.D., menyebut rata-rata masyarakat Indonesia mengonsumsi sekitar 180 kilogram gula dan karbohidrat per tahun.

Baca Juga: Manfaat Kimpul yang Jarang Diketahui, Umbi Lokal Ini Bisa Jadi Pangan Alternatif yang Kaya Khasiat

Sementara itu, konsumsi protein hewani disebut hanya berada di kisaran 10 kilogram per kapita per tahun.

"Rata-rata orang Indonesia mengonsumsi 180 kg gula dan karbohidrat per tahun, sementara konsumsi protein hewani hanya sekitar 10 kg," ujar Felix.

Perbedaan tersebut menunjukkan adanya ketimpangan dalam pola konsumsi pangan.

Menurutnya, ketergantungan terhadap makanan berbasis karbohidrat dan gula tidak hanya berkaitan dengan kebiasaan makan, tetapi juga dengan kondisi ekonomi serta akses masyarakat terhadap sumber pangan bergizi.

Bagi sebagian masyarakat berpenghasilan rendah, makanan berkarbohidrat kerap menjadi pilihan karena relatif mudah diperoleh dan dapat memberikan rasa kenyang.

Namun, pola makan yang tidak diimbangi dengan sumber protein dan zat gizi lain dapat membuat kualitas asupan harian menjadi kurang seimbang.

Protein Hewani Penting dalam Pola Makan

Protein merupakan salah satu zat gizi penting yang dibutuhkan tubuh.

Protein berperan dalam berbagai fungsi tubuh, termasuk pertumbuhan dan pemeliharaan jaringan.

Karena itu, persoalan konsumsi pangan tidak cukup hanya dilihat dari jumlah kalori yang masuk.

Kualitas makanan dan keberagaman sumber zat gizi juga menjadi bagian penting dalam membangun pola makan yang sehat.

Protein hewani seperti ikan, telur, dan daging menjadi salah satu sumber protein yang dapat melengkapi kebutuhan tersebut.

Namun, akses terhadap pangan bergizi juga dipengaruhi harga, ketersediaan, distribusi, serta kemampuan ekonomi masyarakat.

Ketimpangan konsumsi ini pada akhirnya tidak hanya menjadi persoalan individu.

Pola makan masyarakat berkaitan dengan kualitas sumber daya manusia dalam jangka panjang, terutama ketika kebutuhan gizi anak dan kelompok usia produktif tidak terpenuhi secara optimal.

Ketahanan Pangan Tak Hanya Soal Kenyang

Persoalan tersebut juga menunjukkan, bahwa pembahasan mengenai ketahanan pangan perlu melihat lebih jauh dari sekadar ketersediaan makanan dan pemenuhan kebutuhan energi.

Edukasi mengenai gizi seimbang menjadi penting agar masyarakat memahami bahwa makanan yang mengenyangkan belum tentu memenuhi seluruh kebutuhan zat gizi tubuh.

Di sisi lain, akses terhadap pangan bergizi juga perlu diperhatikan.

Sumber protein seperti ikan, telur, dan daging harus tersedia dengan harga yang dapat dijangkau masyarakat luas.

Dengan demikian, upaya memperbaiki kualitas konsumsi pangan tidak hanya bergantung pada perubahan perilaku individu.

Faktor ekonomi, rantai pasok, harga pangan, hingga literasi gizi turut menentukan pilihan makanan masyarakat.

Pergeseran cara pandang ini menjadi penting agar ketahanan pangan tidak berhenti pada persoalan bagaimana masyarakat mendapatkan makanan untuk menghilangkan rasa lapar, tetapi juga memastikan makanan tersebut mampu mendukung kesehatan dan produktivitas. (*)

Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari
ketimpangan konsumsi ketimpangan pangan indonesia gizi pola makan