RADARBONANG.ID - Tekanan ekonomi dan meningkatnya polemik lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) berpotensi memicu konflik sosial jika diikuti prasangka dan tindakan persekusi.
Di tengah situasi tersebut, masyarakat perlu mewaspadai fenomena kambing hitam, yakni kecenderungan melampiaskan frustrasi kepada kelompok tertentu yang dianggap mudah disalahkan.
Kanal edukasi Satu Persen - Indonesian Life School menyoroti fenomena tersebut dari sudut pandang psikologi sosial.
Dalam pembahasannya, kanal itu mengulas bagaimana stigma terhadap kelompok tertentu dapat berkembang menjadi kepanikan moral dan memicu tindakan diskriminatif.
Penolakan terhadap orientasi seksual tertentu di Indonesia kerap berkaitan dengan pandangan keagamaan.
Namun, perbedaan keyakinan maupun penilaian moral tidak dapat dijadikan pembenaran untuk melakukan kekerasan atau main hakim sendiri.
Tindakan menuduh seseorang berdasarkan gestur, penampilan, atau asumsi tanpa bukti yang jelas juga berisiko menimbulkan fitnah dan salah sasaran.
Karena itu, masyarakat perlu membedakan antara pandangan pribadi dan tindakan yang melanggar hak serta keselamatan orang lain.
Tekanan Ekonomi Bisa Memicu Pencarian Kambing Hitam
Dalam perspektif psikologi sosial, kondisi penuh tekanan dapat membuat seseorang atau kelompok mencari pihak lain untuk dijadikan sasaran pelampiasan.
Ketika masyarakat menghadapi kecemasan, ketidakpastian, dan perasaan tidak berdaya, kelompok yang telah memiliki stigma berisiko menjadi sasaran tuduhan.
Narasi dalam video tersebut mengingatkan agar situasi sulit tidak kembali memicu pola tersebut.
"Jangan sampai ini terulang sih karena gini, sekarang ekonomi lagi sulit, ketika ada satu negara yang ekonominya lagi sulit, satu kelompok ini ngerasa tertekan, ngerasa cemas, ngerasa enggak berdaya, akhirnya yang diserang adalah kambing hitam yang lebih enak buat diserang yang bisa jadi tempat pelampiasan," bunyi narasi dalam kanal tersebut.
Fenomena pencarian kambing hitam dapat mengalihkan perhatian masyarakat dari persoalan yang lebih mendasar.
Alih-alih membahas penyebab tekanan ekonomi dan kebijakan yang perlu dievaluasi, kemarahan justru diarahkan kepada kelompok yang dianggap berbeda atau lebih rentan.
Sejarah Jadi Pengingat Bahaya Konflik Sosial
Sejarah Indonesia mencatat sejumlah peristiwa ketika ketegangan politik dan sosial berujung pada kekerasan terhadap kelompok tertentu.
Tragedi 1965 dan kerusuhan rasial 1998 menjadi pengingat mengenai dampak buruk konflik yang disertai stigma, prasangka, serta pelabelan terhadap kelompok masyarakat.
Dalam situasi krisis, kelompok minoritas atau pihak yang telah mengalami diskriminasi dapat menjadi sasaran yang mudah diserang.
Kondisi ini berisiko memperlebar perpecahan sosial sekaligus membuat persoalan utama yang dihadapi masyarakat tidak mendapatkan perhatian yang memadai.
Karena itu, masyarakat diimbau untuk menyikapi polemik LGBT secara kritis dan tidak mudah terprovokasi oleh narasi kebencian.
Perbedaan pandangan seharusnya tidak berujung pada intimidasi, kekerasan, maupun tindakan persekusi.
Di tengah tekanan ekonomi, penting bagi masyarakat untuk mengenali sumber persoalan dan menghindari pelampiasan kepada kelompok lain.
Sikap tersebut diperlukan agar keresahan sosial tidak berkembang menjadi konflik horizontal yang merugikan banyak pihak. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning MentariSumber : Radar Bonang